The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 25



Saatnya untuk melepaskan ke pura puraanku! Drama Queen sudah tidak ada di sini lagi!


"Hebat sekali kau, Eliza! Kau adalah seorang anak yang tidak berguna di Kerajaan ini!" kataku menyinggung Eliza.


"Siapa?!" teriak Eliza menoleh ke belakang.


Mata Eliza membesar melihatku yang berada di belakangnya dengan tatapan begitu dingin.


Dan, ia juga terkejut mendengar aku memanggilnya dengan sebutan Eliza.


"Ca …. Catherine? Kau memanggilku dengan namaku sendiri?! Aku ini adalah Kakakmu!" kata Eliza masih memegang pedangnya.


"Memangnya kenapa? Terkejut? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kau membunuh Ayah dan Ibu dengan pedangmu," jawabku menaikkan alis kiriku.


Keringat mulai bercucuran di tubuh Eliza, detak jantungnya tampak tidak normal sama sekali.


Ia menelan salivanya dengan susah payah, berusaha membuat kebohongan demi menutup kesalahannya sendiri.


"Ini tidak seperti yang kau lihat, Cath! Pe …. pe …. pe …. pedang ini ….," kata Eliza seketika ucapannya terhenti.


Tentu saja kau membunuh Ayah dan Ibu dengan sengaja, orang tuaku sudah membesarkanmu dengan tulus, tapi kau ….


Kau malah membunuhnya dengan tangan busukmu sendiri! Benar benar anak Tiri yang tidak tahu terima kasih!


"Pedangnya untuk apa? Kalau untuk menebas hewan, darahnya tidak mungkin sebanyak itu!"


"Kau telah membunuh Ayah dan Ibuku dengan pedangmu sendiri! Kenapa?! Kenapa?!" tanyaku hampir menangis.


"Itu karena kasih sayang yang kuinginkan selama ini di berikan padamu! Padahal, aku sangatlah menginginkan warisan dari mereka!"


"Terlebih lagi, aku akan menjadi Putri pertama setelah membunuh Ayah dan Ibu! Benar bukan?" jawab Eliza dengan nada yang kasar.


Plak!


Plak!


Plak!


Tiga tamparan kulayangkan ke pipi Eliza agar dia sadar kalau dia adalah anak Tiri di keluargaku!


Bagaimana tidak? Aku masih harus menyimpan rahasia ini dari Eliza.


Kalau sampai ia tahu sebelum aku memberitahunya, maka aku akan terjebak di dalam novel ini selamanya!


Tidak, aku harus bebas dari dunia ini sebelum aku terbunuh.


"Kenapa kau menamparku?! Apakah aku salah bicara?!" teriak Eliza seraya menyentuh pipi kirinya yang merah akibat tamparanku.


"Memang salah! Tidakkah kau tahu kalau mereka telah membesarkanmu dengan tulus?" tanyaku kesal dengan perkataan Eliza.


"Tulus? Orang yang tidak memberiku kasih sayang itu namanya tulus? Berpikirlah dengan jernih!" jawab Eliza dengan kasar.


"Sepertinya 3 tamparan saja tidak cukup untukmu! Akan kutambah lagi tamparannya!" kataku melayangkan tamparan pada Eliza sekali lagi.


Eh? Kenapa tanganku seperti di tahan? Siapa yang menahan tanganku dari belakang?


"Tidak perlu menampar Eliza seperti itu, pembunuh," kata orang yang menahan tanganku.


Jangan jangan, itu adalah ….


"Kak William?! Kenapa kau membela orang yang tidak kau anggap? Dan kau bilang apa padaku? Pembunuh?" kataku tersungkur di lantai.


"Eliza tidak mungkin mencelakai Ayah dan Ibu setega itu! Lihatlah dengan jelas, wajahnya cacat!" bentak Kak William.


Terus saja membela Adik Tirimu ini! Kau tidak percaya padaku?! Apakah sebesar itu perasaanmu pada Eliza?!


Tak lama kemudian, Kak Carl sudah sampai di dalam dengan keadaan sedikit terluka gara gara kebakaran ini.


Ia terkejut melihatku yang tersungkur di lantai dan berlari menghampiriku.


Kumohon percayalah padaku, Kak. Sekarang yanh kumiliki hanyalah kau satu satunya.


"Catty! Kenapa kau menangis? Siapa yang melukaimu?" tanya Kak Carl membantuku bangun.


Aku menangis? Sejak kapan?


Ini semua karena kebusukan Eliza yang telah memfitnahku!


"Kakak, Kak William telah berpihak pada Eliza sekarang. Kau tahu kak? Kakak yang selama ini sudah perhatian padaku, percaya pada jala*g Eliza ini?!" jawabku seraya menujuk ke arah Eliza.


"Lalu, Kak William memfitnahku sebagai pembunuh! Padahal, aku begitu terpukul dengan kematian Ayah dan Ibu yang di bunuh oleh Eliza!" lanjutku mengerutkan alisku.


Mendengar perkataanku, Kak Carl sudah mulai kecewa pada Kak William, benar benar kecewa!


Aku juga kecewa padanya! Kenapa mimpiku ini harus menjadi kenyataan?! Apakah aku tidak bisa menghindari masalah sedikit saja?


Sungguh mengecewakan, Kak William! Mulai sekarang, kau bukanlah Kakakku lagi!


Hahahahaha!


Hahahahaha!


"Lucu, lucu sekali! Aku di khianati oleh seorang Kakak yang begitu kusayangi."


"Apakah Adiknya ini di anggap sebagai sampah ….? Seperti yang kukatakan sekarang, sampah tetaplah sampah jika yang berharga sudah di buang."


"Kau tidak peduli lagi pada Adik Kandungmu ini? Dan kau lebih memilih untuk percaya pada seorang pembunuh?"


"Sudahlah, mulai sekarang, kau bukanlah Kakakku lagi …."


Air mataku terus saja mengalir saat aku berbicara dengan keadaan terluka seperti ini.


Siapa sangka? Orang yang menyayangi kita, berkhianat pada kita begitu saja?


Memang benar, menjadi orang lemah bukanlah jalan satu satunya.


Jangan panggil aku Adikmu lagi, William ….!


"Baiklah, Pangeran William, kau bisa menamparku sekarang karena aku telah membuat Adikmu ini terpukul," kataku menghapus air mataku.


Tanpa pikir panjang lagi, Kak Carl maju menampar pipi William dengan keras.


William? Begitulah, dia sudah bukan Kakakku, melainkan Kakak yang mengkhianati kepercayaan Adiknya!


Plak!


Satu tamparan keras mendarat ke pipi William.


"Cukup, Will! Aku juga tidak akan menganggapmu sebagai Kakakku lagi."


"Karena kau sudah memfitnah Catty yang tidak tahu apa apa, maka aku tidak akan tinggal diam untuk menghancurkanmu bersama jala*g kecil ini!" kata Kak Carl dengan nada yang begitu kasar.


Mata Ruby Kak Carl bersinar dengan begitu terang setelah menatap mata hitam biasa milik William.


Sungguh berbeda sekali aura kalian berdua, memang pantas di juluki saingan.


"Aku akan membuktikan kalau Adikku ini tidak bersalah sama sekali ….!" kata Kak Carl menyenggol William dan membawaku pergi tanpa berkata apa apa.


Terserah kau ingin berbuat apa, William. Yang penting, kau bukanlah Kakak Kandungku lagi.


Aku, Saphira Kanaya, berjanji akan membalaskan dendan Catherine hingga alur ceritanya selesai.


"Selamat tinggal, William ….," lirihku terus berjalan di genggam oleh Kak Carl.


Keesokan harinya ….


Hari ini adalah hari libur. Kami berdua Kak Carl tidak bisa tidur di dalam Istana karena kebakaran kemarin, itulah kenapa kami tertidur di kereta kuda ini.


Hoam~


"Apa kejadian kemarin adalah mimpiku? Istana yang terbakar, William mengkhianatiku dengan serius," lirihku dengan suara pelan.


Kemudian, Kak Carl juga sudah bangun dari tidurnya.


"Catty? Apa kau baik baik saja?" tanya Kak Carl seraya menggosok matanya kirinya.


"Apakah kejadian kemarin itu bukan mimpi?" tanyaku dengan murung.


Kemarin itu adalah salah satu mimpiku yang menjadi kenyataan.


William sialan, sudah kuduga selama ini kau lebih peduli pada Eliza, Adik Tirimu yang munafik itu.


Tanpa kusadari, aku menangis di pelukan Kak Carl yang terasa begitu hangat, seperti cahaya matahari.


Air mataku keluar setetes demi setetes membasahi pakaian Kak Carl dan gaunku.


"Kenapa kau menangis, Catty? Apa ini semua karena kejadian kemarin?" tanya Kak Carl nemelukku.


"Kakak? Kenapa Kerajaan kita harus menjadi seperti ini? Ayah dan Ibu sudah meninggalkan kita, William mengkhianati kepercayaan kita berdua ….!" jawabku menangis mengeluarkan banyak air mata.


Melihatku yang menangis begini membuat Kak Carl tidak tega sama sekali dan memelukku di bahu kanannya.


.


.


.


[Bersambung]