The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 26



"Tolong jangan menangis di depanku, Catty …., aku juga merasa terpukul karena kehilangan Ayah dan Ibu ….," kata Kak Carl memelukku.


Kenapa semuanya menjadi seperti ini?!


Apakah aku gagal mengubah alur ceritanya dan membuatnya berantakan seperti ini?


Catherine, maafkan aku yang telah menyebabkan semua alurnya berantakan ….


"Bagaimana tidak? William tidak percaya padaku. Si jala*g Eliza itu berhasil merebut kasih sayangnya dengan cara kotor"


"Sialan! Semuanya berantakan begini! Terlebih lagi, William akan menempati posisinya sebagai Raja Arshleyer!"


"Kenapa?! Kenapa aku harus menanggung penderitaan ini dengan begitu berat?!"


"Padahal, aku sudah bahagia bisa hidup bersama keluargaku yang sangat menyayangiku …."


"Tapi kenyataannya, salah satu di keluargaku mengkhianati kita berdua …. Perjuangan yang sia sia!"


Air mata tidak berhenti mengalir dari mataku, membayangkan Istana dan keluarga yang begitu hancur.


Aku gagal menjadi yang terbaik, benar benar gagal ….


Hatiku sakit melihat orang yang kusayangi lebih memilih orang lain daripada Adik Kandungnya sendiri.


"Tenang saja, Catty. Aku akan membantumu mencari kebenarannya dan melenyapkan Eliza dari Istana kita!"


"Melihatmu yang sakit begini, entah kenapa aku juga ikut terjatuh ke dalam jurang bersamamu"


"William, Eliza, itulah yang akan kumusnahkan!"


Semua kata kata itu keluar dari mulut Kak Carl tanpa adanya rasa takut. Sungguh, aku belum pernah merasa di pedulikan oleh seorang Kakak.


Terima kasih telah mau mempercayaiku, Kakak ….


"Baiklah, jangan lupa tepati janjimu, Kak," jawabku dengan lembut.


Tak lama kemudian ….


"Hidup Raja William!"


"Hidup Raja William!"


"Hidup Raja William!"


Raja William? Apakah si Br*ngs*k William itu sudah menjadi Raja?!


Benar juga, Istana sedang dalam tahap renovasi sekarang.


Hmm, mungkin mereka berdua sedang merencanakan sesuatu.


Dengan ikut di acara pelantikan, pasti aku akan mengetahuinya dari mata kepalaku sendiri.


"Raja William? Terdengar menjijikkan!" kata Kak Carl menatap sinis William dari jauh.


Seandainya aku dapat masuk ke dalam Istana bukan dengan status Putri Kerajaan, melainkan orang lain.


Tunggu, rencana cemerlang apa yang kupikirkan? Aku harus memberitahu Kak Carl.


"Kakak, aku punya ide. Bagaimana kalau kita masuk ke Istana dengan cara menyamar?" tanyaku pada Kak Carl.


Semoga saja Kakak setuju dengan pendapatku. Habisnya, sekarang aku juga harus mendapatkan tempat tinggal.


"Menyamar? Bagaimana caranya?" tanya Kak Carl bingung.


Aku baru ingat kalau aku punya sihir menyamar menjadi orang lain.


Hehe~


"Srygirs Erolia," ucapku.


Berlahan lahan, penampilanku berubah dengan begitu cepat.


Rambut hitam yang begitu mencolok, bola mata berwarna biru Safir membuat penampilanku persis seperti Anna Flora Griseliyd.


Maaf ya, Anna, aku meniru penampilanmu.


"Lihatlah aku, sekarang namaku adalah Serlia Arthera," kataku mengubah penampilanku.


"Catty, bisakah kau mengubah penampilanmu yang lain lagi? Aku sangat membenci Anna," jawab Kak Carl memintaku mengubahnya lagi.


Sungguh? Apakah aku terlalu mirip dengan si pelac*r Anna?


Aku tahu alasan kenapa Kak Carl begitu membencinya!


"Baiklah, aku akan mengubahnya lagi," kataku mengubah penampilanku sekali lagi.


Kini dengan mata merah Ruby yang sama seperti Kak Carl, warna rambut hitam yang lebih mencolok.


Bisa di bilang kalau aku adalah kembaran perempuan Kak Carl sekarang.


"Panggil aku Serlia Arthera, mengerti?" tanyaku tersenyum menatap Kak Carl.


"Dengan senang hati, Putri Serlia," jawab Kak Carl memberi hormat padaku.


Kakak, jangan lupa menyamar juga dengan identitas lain.


"Srygirs Erolia," ucapku mengarahkan jari telunjukku pada Kak Carl.


Berlahan lahan, penampilan Kak Carl berubah sempurna.


Akan kuberi nama yang cocok untukmu, Kakak.


"Leon Alexander, itulah namamu," kataku menatap wajah Kak Carl dengan serius.


Kak Carl hanya mengangguk senang mendengarnya.


"Saatnya kita jalankan tugas," kataku tersenyum licik.


Kami berdua keluar dari kereta kuda dan masuk ke dalam Istana.


Setelah sampai di dalam, terlihat banyak orang yang hadir di acara pelantikan.


"Ramai sekali," lirihku sambil berjalan.


Dari jauh, ada Anna yang memperhatikanku dengan serius.


Melihatku berpenampilan seperti ini membuatnya menghampiriku secepat mungkin dan bertanya.


"Siapa kau? Kenapa penampilanmu mirip sekali dengan Carl? Apakah kau kembarannya? Atau pacarnya?" tanya Anna terus menatapku.


Hah? Kau melihatku seolah olah memandang musuh? Tentu saja aku ini mirip dengan Kak Carl, tapi bukan artinya Kak Carl menunjukkan identitasnya!


"Ehm, siapa Carl? Aku tidak kenal sama sekali," jawabku berpura pura tidak tahu.


Cih, merusak rencanaku saja! Untunglah Kak Carl sudah menjadi Leon Alexander!


Anna benar benar licik seperti biasanya.


Akan kutunggu jawabanmu sekarang juga!


"Oh, maaf kalau aku salah orang. Aku mengira kalau kau adalah kembaran Carl," kata Anna dengan sombong.


Kalau ingin menjawab pertanyaan dariku, tolong jangan sesombong itu! Aku tidak suka!


"Ngomong ngomong, kau datang di sini dengan siapa? Apakah kau adalah tamu yang tidak di undang oleh Raja William?" tanya Anna menaikkan alis kirinya.


"Aku memang tidak di undang, tapi aku datang ke sini dengan rasa hormatku pada Raja," jawabku menyunggingkan senyumku.


Raja kepalamu! William adalah Kakak Pertama yang gagal menepati janjinya! Sebentar lagi, dia pasti akan hancur.


Anna hanya mengangguk memutar bola matanya.


Karena tidak ada yang ingin di bicarakan lagi, aku langsung pergi tanpa mengucapkan permisi pada Anna.


Untuk apa mengucapkan permisi padanya jika posisiku sebagai Putri lebih tinggi? Pasti dia akan marah.


"Tidak mengucapkan permisi padaku, sungguh tidak sopan!" lirih Anna menatapku dengan malas.


Tidak peduli dengan apa yang Anna katakan, aku hanya fokus mencari tempat duduk untuk bersandar.


Untung saja aku sudah menemukannya, ini adalah tempat duduk terempuk yang pernah aku duduki sebelumnya, nyaman sekali~


Hmm? Di mana Kak Carl? Apakah ia sedang bersama Veronica? Tapi, Kakak kan sedang mengubah identitasnya.


Tunggu, bukankan itu adalah Eliza? Kenapa dia berbincang dengan Alice dan Veronica?


Kalau Alice memang sangat mengagumi Eliza yang sihirnya di ambil oleh Kak Carl.


Sedangkan Veronica? Dia hanya sebatas kontrak saja dengan Eliza. Aku percaya kalau Veronica bukanlah orang jahat meskipun di novel yang kubaca sebelumnya menceritakan kalau Veronica sangatlah kejam.


Menyenangkan sekali ya berbincang dengan orang jahat seperti Eliza, terlalu menyebalkan.


Sebaiknya kuhampiri saja.


"Salam, Yang Mulia," kataku memberi hormat pada Eliza, Alice, dan Veronica.


"Siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," jawab Eliza menatapku sinis.


"Eliza, ini adalah tamu! Tolong bersikaplah dengan sopan," tegur Alice.


"Heh, kau sangatlah sopan seperti biasanya, Putri Iblis!" jawab Eliza dengan kasar.


Coba saja aku tidak memberi hormat padamu tadi! Kutarik kata kataku yang tadi!


"Maaf kalau mengganggu. Namaku adalah Serlia Arthera," kataku tersenyum paksa.


Mereka bertiga menatapku dengan sangat aneh. Memangnya kenapa? Tidak kenal?


"Serlia Arthera tidak kuundang di acara ini, sebaiknya kau angkat kaki saja dari sini," jawab Eliza mendorongku hingga tersungkur ke lantai.


Melihat hal itu, Alice membantuku bangun dengan berlahan.


"Mari kubantu bangun, maafkan perlakuan sahabatku ini. Dia memang orang yang seperti itu," kata Alice menatapku dengan rasa khawatir.


.


.


.


[Bersambung]


~Keterangan:


Ehm, Putri Iblis yang di maksud oleh Eliza itu adalah keluarga Lilithia yang berasal dari ras Iblis.