
"Terima kasih telah membantuku," kataku berterima kasih pada Serlia.
"Sesama teman harus saling membantu, bukan?" jawab Serlia tersenyum
Ternyata kau mengerti juga apa artinya teman. Mari kita lihat bagaimana reaksi Eliza besok pagi.
____________________________________________
Keesokan harinya ….
Hoam~
Untunglah aku tidur di kamar sekarang, kalau tidak maka Kak Carl akan tahu aku pergi ke ruang bawah tanah.
Teerlebih lagi, hukumanku belum berakhir dari tangannya~
Hu~
Kira kira, bagaimana dengan keadaan Eliza yang sehat? Aku rasa dia akan menyukai matanya.
Seharusnya kau berterima kasih padaku karena telah memberikan mata baru untukmu. Siapa suruh kau selalu memberikan hadiah buruk untukku.
Sekarang, rasakanlah akibatnya.
"Haha, aku tidak sabar lagi," kataku tersenyum.
Yah, aku menantikan kejutannya.
Sebaiknya aku mandi dulu dan menenangkan suasana hatiku.
"Sarah, siapkan air panas untukku!" teriakku memanggil Sarah, Pelayan pribadiku.
*Suara pintu terbuka*
"Baik, Tuan Putri, aku akan segera menyiapkannya," jawabnya membungkuk dan pergi ke kamar mandi.
...
Di kamar mandi ….
Hah~
Kurendamkan tubuhku ke dalam kolam air panas yang telah di sediakan oleh Sarah khusus untukku.
Nyaman sekali, pikiranku terasa sedikit tenang setelah berendam.
Kusandarkan kepalaku ke dinding dan menikmati suasana nyaman yang kumiliki sekarang.
"Berendam di kolam air panas sangatlah nyaman seperti biasanya, aku tidak ingin keluar dari kolam ini ….," kataku santai.
Baik, aku sudah selesai berendam, saatnya mengganti pakaian dulu.
Baguslah kalau Sarah sudah menyiapkannya untukku tanpa harus kusuruh. Benar benar Pelayan yang baik.
Kupakai gaun kuning yang di siapkan oleh Sarah untukku dan keluar dari kamar mandi.
Ceklek~
Kututup pintu kamar mandiku dan duduk di meja rias sambil memandangi cermin.
Benar, aku terlalu cantik sehingga membuat Eliza iri padaku. Catherine, bagaimana kau bisa istimewa begini?
Bahkan setelah aku bereinkarnasi ke tubuhmu, Eliza tetap saja iri pada penampilanmu?
Aku kagum melihatmu, dapat bertahan di antara kesulitan yang menghalangimu.
Hingga kau mati dan memberikan tubuhmu pada jiwaku, kau baru tahu apa arti dendam sesungguhnya.
Aku tahu, kau bukanlah perempuan yang terkenal takut, tapi karena kau tidak dapat mengendalikan sihir yang ada di tubuhmu ini, kau di ejek Eliza setiap hari.
Semoga saja aku bisa bertahan di sini lebih lama lagi, bahkab lebih lama daripada dirimu.
Aku membutuhkan tubuhmu karena jiwaku tidak tahu harus kabur ke mana lagi.
*Menghela nafas*
Tenanglah, Catherine, aku tetap membalaskan dendammu hingga selesai.
"Setiap menatapi cermin ini, entah kenapa aku merasa kalau aku bukanlah Saphira," kataku menyentuh cermin dengan telapak tanganku.
Sudahlah, sebaiknya aku berdandan dulu, agar Kak William dan Kak Carl tidak melihat wajah pucatku.
...
Setelah selesai berdandan, aku keluar dari kamarku dan menuju ke ruang makan.
Seperti biasa, aku sarapan bersama keluargaku yang sekarang.
"Selamat pagi, semuanya," sapaku.
Mereka membalasku hanya dengan anggukan.
Kududuk di sebelah Serlia seperti biasanya, dan menikmati sarapanku. Senyuman yang menghiasi wajahku membuat Serlia terus menatapku.
"Ada apa denganmu?" tanya Serlia menatapku.
"Aku hanya merasa senang dengan hari yang cerah ini saja," jawabku tersenyum riang.
Hah, pastinya aku senang karena ada kejutan yang menantiku.
"Ngomong ngomong, di pesta perayaan natal nanti, apakah kita perlu mengundang anggota keluarga Srylpharuna?" tanya Kak William meminta pendapat dari kami.
Hmm? Mengundang anggota keluarga Srylpharuna? Sepertinya itu menarik.
"Terserah saja, aku tidak merasa keberatan," jawab Serlia dan aku secara bersamaan.
Tanpa Srylpharuna, sama saja tidak ada Eliza. Aku belum puas menindasnya.
Jika dia sudah buta, akan kurayakan pesta besar ini bersama Serlia.
"Baiklah, kuputuskan untuk undang mereka," kata Kak William santai.
Selain mengundang keluarga Srylpharuna, pestanya juga harus bagus dan meriah.
Yah, pesta yang sudah kuinginkan dan kunantikan sejak dulu, karena aku belum pernah merasakannya di kehidupanku yang sebelumnya.
"Kira kira, perayaan seperti apa yang paling bagus menurutmu, Kak?" tanyaku penasaran.
"Kakak lebih menyukai pesta kembang api," jawab Kak William.
"Baik, aku juga menyukainya," kataku.
Haha, sangat menyenangkan jika sudah berkumpul bersama seutuhnya meskipun Ayah dan Ibu sudah tidak bersama.
____________________________________________
Di Istana Srylpharuna ….
Eliza POV
Hoam~
*Membuka mata*
Eh? Kenapa tempatnya gelap? Apakah ruangan sedang tidak ada lampu? Kenapa gelap sekali?!
Tidak, ada apa dengan mataku?! Kenapa aku tidak bisa melihat dengan jelas?!
Michelle? Di mana kau? Apakah kita berdua sudah pulang?
Kenapa dunia terasa gelap?
Aaaaaarrrrrrggggghhhhhh!!!!!
"Michelle, apa yang terjadi padaku?! Kenapa aku tidak bisa melihat?!" tanyaku berteriak.
Aku bahkan tidak tahu apakah Michelle sudah bangun atau tidak.
"Eliza?! Ada apa denganmu?!" tanya Michelle.
"Tempat ini terasa gelap, apakah lampu tidak menyala?" tanyaku.
"Kau sudah buta?! Tempat ini tidak gelap, kita sudah berada di Istana!" jawab Michelle kasar.
Tempatnya tidak gelap? Itu artinya, aku BUTA?! Tidak! Kenapa aku harus mengalami nasib mengerikan ini ….!
Ini semua salahmu, Catherine! Salahmu! Seharusnya dari awal aku tidak menerima surat ancaman itu, pasti mataku tidak akan terjadi apa apa.
"Hei! Eliza! Ada apa denganmu?!" tanya Michelle dengan nada kekhawatiran.
Aku tidak bisa melihat lagi, aku tidak bisa melihat lagi!
Hah~
"Tutuplah mataku menggunakan kain putih, aku sudah buta sekarang," jawabku hanya bisa pasrah.
Sepertinya Michelle benar benar khawatir padaku meskipun aku tidak bisa melihat ekspresinya lagi.
Yang kulihat hanyalah kegelapan, kesunyian, dan kekosongan. Kini, aku benar benar buta.
Eh? Aku merasakan sesuatu yang terikat di mataku.
"Sudah kututup, jangan lepaskan kain putih yang kuberikan ini"
"Jujur, aku sangat khawatir dengan kondisimu yang buruk begini, rasanya aku mau menangis"
"Aku percaya kau tidak bersalah, Eliza. Tenanglah, kau tetap bisa merebut Samson dari Catherine"
"Sungguh, aku benci Catherine dan Serlia!" kata Michelle terdengar marah.
Terima kasih telah bersamaku hingga sekarang, Michelle. Hanya kaulah orang yang sudah lama mengenalku.
Sejak berumur 4 tahun, kita pernah bermain bersama tanpa mengajak Catherine.
Hingga sekarang, aku sadar kalau hubungan dekat kita sudah seperti Kakak beradik.
Tanpa sadar, setetes demi setetes air mataku keluar dari mataku yang di tutupi kain.
Awas saja kau, Cath! Akan kubuat kau menjadi butiran debu!
"Michelle, bantu balaskan dendamku! Betapa bencinya aku pada Catherine yang kuanggap sebagai pembawa sial!" kataku marah.
"Baiklah, apapun dendammu, akan kubalas semuanya hingga kau bisa bahagia kembali," jawab Michelle.
Bagus, aku menginginkan penglihatanku kembali! Dan, jangan harap kau mendapatkan Samson dariku, jala*g!
Ingatlah, semua yang kau miliki itu adalah milikku.
Hahahahaha!
____________________________________________
Di Istana Arshleyer ….
Saphira/Catherine POV
Acchiu!
Kenapa suhu badanku terasa dingin? Padahal aku tidak sakit sama sekali.
Sudahlah, tidak perlu di pikirkan. Yang penting persiapkan dirimu untuk pesta natal minggu depan.
Apakah orang orang akan datang? Aku harap begitu.
Oh, aku hampir lupa dengan mata Eliza yang sudah tidak normal itu. Karena matanya tidak di lindungi sihir, maka racun akan masuk dengan mudah.
Hehe, menyenangkan sekali mengerjainya.
.
.
.
[Bersambung]