The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 39



Kira kira, apa yang di sembunyikan oleh Eliza?


Nanti saja aku cari tahu.


Tak lama kemudian, Serlia mulai tersadar.


Fiuh, baguslah kalau kau baik baik saja.


"Ugh, apa yang terjadi padaku?" tanya Serlia.


"Kau hampir kehilangan kesadaran tadi, Ruth yang menghentikanmu," jawabku.


"Oh, jadi begitu," katanya singkat.


Hah~


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Kelas sudah mau di mulai," kata Ruth dengan terburu buru dan pergi.


Kelas sudah hampir di mulai? Biarkan saja, aku sangat benci dengan pelajaran.


Sekolah ini memang berbeda dengan sekolah di kehidupanku sebelumnya, tapi tetap saja sama sama membosankan.


Sudahlah, kulanjutkan saja tidurku.


Zzz ….


.


.


.


1 jam kemudian ….


Ding!


Dong!


Ding!


Dong!


Bel istirahat sudah berbunyi. Saatnya pergi ke ruang Penyihir dulu.


Baru selangkah ingin keluar saja, tanganku di tahan oleh Serlia. Kau mau apa lagi? Aku sedang terburu buru!


"Cath, kau mau ke mana?" tanya Serlia penasaran.


Ayolah, Serlia, ini bukan waktunya untuk bertanya.


"Aku ingin pergi ke ruang Penyihir untuk mengetahui tentang surat ini lebih lanjut," jawabku memutar bola mataku dengan malas.


Tung …., hei! Kenapa kau merebut suratnya dariku?! Cepat berikan padaku!


Sialan! Kau berhasil merebutnya!


"Hmm, memang ada maksud tersembunyi dari surat ini," kata Serlia dengan santai.


"Fellifus," ucapnya.


Isi surat itu kemudian berubah menjadi banyak tulisan yang keluar.


Beberapa kata yang ada di kertas itu telah tersusun dengan baik, sehingga tidak ada yang terlewatkan sama sekali.


...William, aku sudah membunuh Ayah dan Ibu untuk menjadi Putri pertama. Kau ingin menjadi Raja, bukan?...


...Salah, lebih tepatnya kau memang calon Raja, tapi aku tidak mendapatkan apa apa....


...Untuk selanjutnya, aku akan membunuh Catherine, sang Adik perempuan kesayanganmu....


...Kau tidak ingin melihatnya menderita, bukan? Bisa, tapi dengan satu syarat....


...Kau harus menuruti apa yang kuperintahkan dan usir Catherine dari Istana, agar posisi Putri pertama tetap menjadi milikku....


...Kalau kau menolak, maka nasib Catherine akan seperti Ayah dan Ibu....


^^^Dari Putri Eliza^^^


I …. isi suratnya, se …. sebuah ancaman ….? William menerima ancaman ini demi menyelamatkanku dari kematian ….?


Tes~


Tanpa kusadari, air mataku jatuh setetes demi setetes. Aku benar benar tidak menyangka dengan perlakuanku selama ini.


Kenapa kau tidak menceritakan semuanya padaku?! Kenapa?! Padahal aku sudah sangat membencimu!


Kenapa aku bisa sebodoh ini!!!


Duak!


Tanganku yang meninju dinding sekolah tidak terasa sakit sama sekali. Sakitnya tak lebih dari kenyataan yang kuketahui saat ini.


Eliza sudah sangat keterlaluan! Statusnya adalah anak Tiri, tapi berperilaku layaknya sang Iblis!


Aku tidak tahan lagi ingin balas dendam dengan perbuatan yang lebih kejam lagi. Tunggu saja nanti, Eliza!


"Serlia, bisakah nanti kita buat sedikit jebakan untuk Eliza? Kurasa kita tidak perlu fokus pada surat itu," kataku datar.


"Jebakan? Sepertinya menarik, tapi kapan?" tanya Serlia bingung.


"Sekarang, kita harus membuat jebakan yang paling kejam untuknya. Jangan biarkan dia selamat walaupun hanya luka kecil saja," jawabku tersenyum licik.


"Ka …. kau ini kejam sekali, Cath, tapi aku suka," kata Serlia tersenyum aneh.


Hehe, mari kita mulai permainannya, Eliza.


Sementara itu di kelas 1-♥ Menengah ….


Hoam~


Belajar di kelas membuatku merasa lelah. Kurasa aku harus ke kantin dulu.


Oh, aku baru ingat kalau si bodoh itu harus kubereskan. Lagi lagi, Serlia adalah sumber masalah baru sekarang.


Aku tidak boleh lengah, pokoknya mereka berdua harus keluar dari sekolah ini secepat mungkin!


Yah, aku keberatan kalau Catherine dan Serlia berada di sekolah.


Beberapa bulan lalu, Catherine sudah terkenal di kalangan para Kakak kelas, sedangkan aku hanya beban yang tidak di pedulikan sama sekali.


Memangnya kenapa aku di sebut beban? Akhir akhir ini, para Kakak kelas selalu saja menolongku di berbagai kesulitan dan menyalahkanku atas semua kejadiannya.


Cih! Seandainya aku tahu siapa yang mencuri sihirku, pasti aku tidak akan di rendahkan seperti ini!


Pokoknya, posisi tertinggi harus aku yang mendapatkannya!


Eh? Aku masih teringat dengan kata kata Catherine waktu itu mengenai identitasku.


Siapa aku sebenarnya? Bagaimana Catherine bodoh itu bisa mengetahui identitasku?


Ah, tidak perlu kupikirkan! Yang penting, akulah orang yang harus di hormati mereka di bandingkan sampah seperti si bodoh Catherine itu!


Kuberjalan ke kantin dengan gaya eleganku, dan tanpa sengaja aku menginjak sesuatu.


"Apa ini? Kenapa bau sekali?! Seperti bangkai hewan," lirihku tetap fokus ke depan.


Sial! Bau sekali! Apa yang kuinjak ini?!


Hah?! Kadal yang di penuhi dengan serangga menjijikkan?!


Aaaaarrrrrggggghhhhh!!!!!!


Seperti yang kalian ketahui, serangga adalah hewan yang paling kutakuti daripada hewan biasa.


Jangan sebarkan hal memalukan tentang diriku, karena reputasiku sebagai Putri pertama masih harus di pertahankan.


Mungkin kalian juga tahu kalau aku takut pada reptil, sejenis kadal atau katak begitu.


Siapapun, tolong singkirkan serangga ini dariku!


"Tolong!" teriakku sudah tidak tahan.


Tiba tiba, Anna, Alice, dan Veronica langsung datang menghampiriku.


"Ada apa, Eliza?" tanya Anna khawatir dan terlihat panik.


Hanya kau saja yang mengerti tentangku, Anna! Di mana Michelle? Aduh, aku sangat membutuhkannya!


"Di mana Michelle? Aku membutuhkannya untuk menyingkirkan bangkai ini dariku!" jawabku dengan keringat yang bercucuran.


Tolong, aku sudah terjebak di sini!


"Heh, sebagai Putri pertama, seharusnya kau tidak takut pada serangga dan reptil, apalagi bangkai hewan yang ada di bawah kakimu," kata Alice memandang rendah diriku.


"Aku setuju dengan kata kata Alice. Sebagai Putri pertama, kau tidak boleh takut dengan apapun," jawab Veronica tampak setuju dengan perkataan Alice.


Lupakan! Mereka berdua lebih berpihak pada pecundang lemah Catherine!


Dasar k*p*r*t! Kau membuatku semakin ingin menghancurkanmu!


Di sisi lain ….


Saphira/Catherine POV


Rasakan pembalasanku, Eliza! Masih banyak serangga dan reptil lainnya yang akan kuberikan padamu.


Alice, Veronica, mereka tampak santai melihat Eliza terluka begini.


Hahahahaha!


Aku puas sekali!


"Lihatlah, Serlia, Eliza sangat takut pada serangga meskipun hanya kumbang, ulat, dan lalat!" kataku tertawa puas.


"Apa katamu? Takut pada serangga lainnya juga? Memang bukan Tuan Putri Kerajaan sejati!" jawab Serlia ikut senang.


Sisa beberapa serangga seperti laba laba dan kecoa, ini akan semakin menyenangkan jika kuberikan padanya!


"Tinggal laba laba dan kecoa saja yang belum. Nanti kita taruh di mejanya," kataku terus mengintip dari balik tiang.


"Menaruh di meja kelasnya maksudmu? Itu terlalu mudah," jawab Serlia dengan santai memegang 10 laba laba dan 10 kecoa di tangannya.


"Teleport Orfilian," ucapnya.


Serangga itu tiba tiba saja menghilang dari tangannya. Kira kira, ke mana serangga itu pergi?


"Tenang saja, semua serangga sudah ada di dalam kelasnya, tepat di atas meja belajarnya," kata Serlia tersenyum puas.


Bingo, kau terlalu pintar, Serlia!


.


.


.


[Bersambung]


~Keterangan:


Maaf ya kalo POV Eliza yang agak banyak di tampilkan oleh Author.