The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 108



Apa kau baik baik saja? Tidak ada yang terluka, bukan?" tanya Samson menahanku yang hampir terjatuh.


Suasana macam apa ini? Padahal aku bisa berdiri. Astaga, apa ini tidak terlalu berlebihan?


"Aku baik baik saja dan tidak terluka sama sekali. Bisakah kau turunkan aku?" jawabku cemberut.


Turunkan aku atau gantinya adalah kepalamu.


"Ehm, baiklah," jawab Samson menurunkanku.


*Berdiri*


Kurasa ini lebih baik daripada aku harus bersamamu terus.


"Kapan kau datang ke sini?" tanyaku bingung.


"Sejak tadi, aku datang karena merindukanmu," jawab Samson singkat.


Merindukanku? Entah kenapa aku menyesal setelah menanyakan hal itu kepadamu.


"Apakah aku boleh meminum sisa Wine milikmu?" tanya Samson mengambil gelas milikku.


Hei! Jangan memi ….


Gulp~


Gulp~


Gulp~


Tunggu, gelas ini memiliki bekas bibirku! Jangan bilang kalau Samson ….


*Blushing*


Apa yang kupikirkan?! Ini adalah pengalaman yang kualami pertama kali!


Huh, aku yakin kalian semua pasti tahu soal itu.


"Lumayan, apakah kau habis meminumnya?" tanya Samson mengangkat gelasnya.


"Yah, kau benar," jawabku dengan wajah memerah.


"Hmm, apakah kau tidak keberatan jika aku sudah menci ….," kata Samson belum selesai bicara.


Kututup mulutnya dan tidak membiarkannya membicara. Dasar gila, kau pikir aku akan membuatmu mengakuinya?


"Diam atau gantinya adalah kepala dan matamu!" lirihku kesal sambil menutup mulutnya.


Kulepaskan mulutnya dan membiarkannya membicara. Sudahlah, perkataan tentang ciuman tak langsung tidak perlu kuingatkan lagi.


"Sekarang dengarkan aku, kenapa kau meminum Wine yang baru saja kuminum?" tanyaku menatap Samson.


"Kau tahu? Wine yang kuminum rasanya pahit dan tidak enak. Tapi, Wine dari bekas mulutmu adalah Wine termanis yang pernah kuminum. Ingatlah, bekas bibirmu sudah menjadi milikku," jawab Samson tersenyum.


Kau ini, benar benar sulit kalau menghadapimu terus terusan!


Tunggu, apa aku melupakan kedatangan Eliza, Samuel, dan Michelle? Sialan, kapan mereka berdua datang?


Menyebalkan ….


___________________________________________


Di kamar Carl ….


Carl POV


Sekarang aku ada di kamar dan duduk di kasur bersama Veronica.


Adikku benar benar tahu seleraku, aku memang beruntung memiliki Adik seperti Catty.


10 botol Wine dan anggur di atas mejaku, dan sepasang tirai kasur yang di hiasi dengan glitter.


Di tambah lagi dengan kelopak Bunga Mawar yang ada di lantai, rasanya pesta ini sangat indah melebihi pesta lainnya.


Meskipun Adikku mengizinkanku menyukai Veronica, tetapi aku tidak akan pernah membiarkannya bersama Samson.


Mengapa? Karena Samson menderita sebuah kutukan pada matanya dan aku takut Catty akan dalam bahaya.


Hah, sudahlah, yang penting biarkan Catty bersenang senang dulu dengan pestanya.


Kubangun dari kasurku dan pergi mendekat ke arah meja berada.


Kuambil 2 gelas kosong dan menuangkan 2 gelas Winenya.


"Carl, apa yang kau lakukan?" tanya Veronica menatapku dari belakang.


*Menoleh ke belakang*


Bagaimana ini? Wajah Veronica sangat manis dan cantik ketika kulihat.


Astaga, aku harus bisa menghadapinya, jangan sampai melewati batas.


"Ehm, aku akan mengajakmu minum Wine buatan Adikku, apakah kau mau?" jawabku sekaligus bertanya padanya.


Kududuk kembali di kasurku dan mendekatkan wajahku ke arah wajah Veronica.


Bibirnya yang merah muda ini sangat mudah menggodaku, bagaimana aku menahannya?


Terlebih lagi, kami berdua sudah menikah tapi secara tak langsung, apakah dia akan menerimanya?


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Veronica menatapku.


"Minumlah, kau pasti menyukainya," jawabku memberikan segelas Winenya kepada Veronica.


Tanpa pikir panjang, Veronica menerima gelasnya dan meminumnya dengan cepat.


Gulp~


Gulp~


Gulp~


"Wine ini enak sekali, kepalaku sampai pusing setelah meminumnya," kata Veronica merasa pusing dan pingsan terbaring di kasur.


*Pingsan*


Veronica? Ada apa denganmu? Bukankah Wine adalah kesukaanmu, kan? Tapi, kenapa kau bisa pingsan begini?


*Mengambil gelas Wine milik Veronica*


*Mengendus*


Tingkat alkohol sebesar 98%?! Catty, apakah kau tidak tahu kalau Veronica sangat mudah untuk mabuk?


Sial, hanya satu cara yang bisa kulakukan untuk menenangkannya.


Sebentar, wajah Veronica tampak memerah dan tubuhnya penuh banyak keringat.


Apakah Veronica benar benar tidak tahan dengan alkohol setinggi itu? Berbeda denganku dan Catty yang tahan terhadap alkohol yang tinggi sekalipun.


Jangan lupakan Serlia juga yang tahan terhadap alkohol.


"Uh, tubuhku sangat panas …., aku butuh sesuatu yang dapat membuat tubuhku dingin ….," kata Veronica mabuk dengan keadaan yang tidak sadar.


Ah! Bagaimana ini? Tubuhnya kepanasan sedangkan dia sedang dalam keadaan mabuk.


Kumohon jangan membuat nafsuku semakin besar untuk menggodamu.


*Menelan saliva*


Glek~


Kurasa, kesabaranku sudah habis ….


*Mendekat ke wajah Veronica*


"Maafkan aku, Veronica, tapi kau sudah membuat kesabaranku habis hanya dalam 1 menit," kataku menatap Veronica yang tidak sadarkan diri.


Tanpa berpikir apa apa lagi, kuarahkan bibirku tepat ke arah bibirnya dan mengenainya.


Ciuman ini, aku baru pertama kali melakukannya tanpa ada seorangpun yang tahu.


Kututup tirai yang ada di balik kasur itu dan melanjutkannya lagi bersama Veronica.


Untunglah aku sudah mengunci pintu kamarku, kalau tidak maka semuanya akan kacau jika melihatku melakukan hak seperti ini pada Veronica.


Tenanglah, aku tidak akan melewati batasku.


___________________________________________


Di ruang penyambutan ….


Saphira/Catherine POV


Eliza dan yang lainnya lama sekali! Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?


Sialan, b*j*ng*n mana yang akan datang terlambat jika ia mendapatkan surat undangan dariku.


Huh, mungkin ini adalah takdirku untuk tidak bisa membalaskan dendam Catherine.


Kira kira, kapan mereka bertiga datang?


Tiba tiba ….


"Hidup Yang Mulia Pangeran dan Putri!"


Sudah datang? Kenapa baru datang sekarang? Apa mereka tidak tahu betapa lamanya aku menunggu kedatangan mereka?


Terlebih lagi, Serlia sedang bersenang senang meminum banyak Wine di sana.


"Akhirnya mereka datang juga, sudah lama aku tidak melihatmu, Eliza," kataku tersenyum licik.


Dari jauh ….


"Eliza, apa kau yakin ingin menikmati pesta ini meskipun matamu buta?" tanya Samuel khawatir.


"Tenanglah, aku sangat menyukai pesta, jadi biarkan aku menikmatinya," jawab Eliza senang.


"Baiklah, biarkan aku membantumu untuk duduk," kata Samuel menggenggam tangan Eliza dan menuntunnya hingga sampai ke kursi.


Bisa di bilang kalau Samuel menyukai Eliza setulus hati, tapi Eliza malah menolaknya hingga ia sendiri kehilangan sesuatu yang berharga miliknya.


Hmm, apakah ini yang di sebut karma? Hasil jebakanku sendiri ternyata mengundang masalah besar pada seorang Putri Kerajaan Srylpharuna.


Kalau Eliza benar benar bertunangan seperti yang kulihat waktu itu, memangnya siapa yang memaksanya? Bagaimana cara menjelaskannya jika yang kupikirkan adalah ancaman?


Mencurigakan, aku yakin Eliza masih menyukai Samson meskipun telah mengucapkan sumpah pertunangannya sendiri.


Kalau di pikir pikir, Eliza mau mencari perhatian Samson dengan cara berpura pura baik di hadapanku.


Sesuai dugaanku, Eliza pasti tahu Samson ada di sini, jadi dia sengaja datang bersama Michelle dan Samuel.


Hehe, aku tidak akan membiarkanmu mendekati bahkan menyentuh Samson walaupun hanya sehelai rambutmu dan sejari kukumu!


.


.


.


[Bersambung]


Hai, Author comeback, mulai sekarang, Author akan update seperti biasa ya.