
Michelle Alexandra Den Gabriela:
Lagi lagi, kenapa aku berpikiran tentang Eliza?! Karena sandiwara maafmu, pikiranku jadi teracuni!
Tak~
Kuletakkan pisau dan garpu di atas meja karena sudah selesai makan.
"Kalau begitu, aku pergi ke kamar dulu. Besok malam, aku pasti akan mengawasi kedatangan Anna," kataku berdiri dan pergi ke kamar.
Sesampainya di kamar ….
Bugh~
Kurebahkan diriku di kasur dan memeluk guling milikku.
Bagaimana dengan Eliza? Apakah dia akan datang menemuiku besok malam?
Karena aku tidak berbuat apa apa di siang hari, maka aku akan mengawasi kedatangan Anna.
Dasar, aku baru ingat kalau Anna selalu muncul saat Kak Carl dan Veronica bermesraan.
Berarti, Anna selalu muncul di waktu yang tidak tepat? Astaga, bisa bisa aku jadi naik darah karenamu.
"Tunggu saja besok, aku tetap mengawasimu, Anna~" kataku menutup mataku berlahan dan tidur.
Keesokan harinya, tepat pada malam jam 18:00 ….
Aku sudah selesai makan malam bersama kedua Kakakku dan Serlia.
Sekarang, aku berada di luar kamar Kak Carl yang berdekatan dengan kamarku.
Anna, si jala*g kecil yang suka pada Kakak kedua, tidak akan kubiarkan lolos hari ini.
Hah? Di mana Serlia? Bukankah katanya tadi dia akan ke sini? Terlalu lama!
Tiba tiba ….
"Cath? Sedang apa kau di sini?" tanya seseorang dari belakang yang bernama Eliza.
*Menoleh ke belakang*
Eliza?! Michelle?! Ada hal apa yang membuat kalian datang ke sini?! Apakah angin badai yang menyapu kalian berdua?
Mengesalkan, aku sangat tidak suka melihat kedatangan kalian berdua!
"Ehm, aku sedang menunggu kedatangan Serlia, jadi aku berada di lorong gelap ini sendirian," jawabku tersenyum paksa karena kesal.
"Sialan! Kenapa mereka berdua harus datang menggangguku?!" gumamku kesal.
Cukup akting seperti dulu, agar Eliza tidak curiga pada sifatku.
"Oh, begitu. Dengar dengar, Serlia sedang pergi ke ruang Penyihir. Apakah itu benar?" tanya Michelle.
"Benar, dia ke sana untuk mengambil sesuatu penting," jawabku masih tersenyum paksa.
"Begitu ya? Kami pulang dulu, Eliza hanya datang untuk menemuimu karena rindu," kata Michelle mengantar Eliza pergi.
Menyebalkan! Pergilah sejauh mungkin dan jangan datang kembali!
Tak lama kemudian ….
"Veronica, apakah kau mau masuk ke dalam bersamaku?" tanya Kak Carl dari jauh.
"Tentu saja, asalkan jangan ada seorang perempuan yang bernama Anna," jawab Veronica berjalan menggenggam tangan Kak Carl.
"Tidak, Anna tidak akan datang ke sini selama ada seseorang yang mengamankannya," kata Kak Carl.
"Baiklah, aku tetap percaya padamu, Carl," jawab Veronica.
Gawat, Kakak dan Veronica akan sampai sebentar lagi! Sebaiknya aku bersembunyi dulu untuk menghindari kemunculanku.
Kupergi ke arah tiang berada dan bersembunyi di belakangnya.
Ceklek~
Suara buka dan tutup pintu terdengar di telingaku. Tandanya, mereka berdua telah ….
Hei! Apa yang kupikirkan?! Tidak mungkin Kak Carl melakukan hal terlarang itu pada Veronica yang masih harus melanjutkan sekolahnya.
Hehe, sebaiknya aku berjaga jaga saja di sini.
...
Di kamar Carl ….
Veronica POV
Aku sudah berada di kamar bersama Carl. Yah, ini adalah kencan malam kami berdua dan besok adalah yang terakhir, yaitu kencan di danau angsa dan berenang di sana berdua.
Astaga, rencananya memang sangat buruk, tapi entah kenapa aku senang menerimanya.
*Duduk di kasur*
"Carl, untuk apa kita berdua di kamarmu?" tanyaku bingung.
Tunggu, kenapa dia mendekatiku? Apa jangan jangan ….
"Tenanglah, aku hanya mengajakmu minum Wine di sini. Aku tidak akan berbuat seenaknya padamu," jawab Carl mengelus kepalaku.
Wine? Aku pikir kau akan melakukan hal yang melewati batasnya.
Apa yang kupikirkan?
"Oh, aku pikir kau akan melakukan ….," kataku seketika ucapanku terhenti.
Sttt!
Carl menutup mulutku dengan tangannya. Ini hangat sekali, lebih hangat daripada bibirnya ….
"Kau mau mengajakku melakukannya? Sayangnya, kau masih harus menyelesaikan kelulusanmu," jawab Carl menutup mulutku.
Aku tahu itu, jadi kau harus lepaskan aku dulu.
Tanpa harus kubilang, Carl menyingkirkan tangannya dari mulutku dan pergi menuangkan Winenya.
"Baiklah, sekarang kita akan minum," kata Carl sambil menuangkan Winenya.
"Aku menunggu," jawabku memandang ke arah lain.
Setelah selesai menuangkannya, Carl mendekatiku dan memberikan segelas Winenya padaku.
"Minumlah," kata Carl.
Tanpa pikir panjang lagi, kuminum Winenya hingga tak tersisa sedikitpun.
Glek~
Glek~
Glek~
Ah, ternyata Winenya sangat manis.
"Winenya sangat manis. Apakah aku boleh minum lagi?" tanyaku menatap Carl.
"Aku akan memberikanmu, tapi tidak menggunakan gelas," jawab Carl memegang gelas yanh berisikan Winenya.
"Lalu, bagaimana cara meminumnya?" tanyaku bingung.
Bagaimana caranya aku minum tanpa gelas? Kau pelit sekali.
Kulihat Carl yang meminum sedikit Winenya tanpa menelannya.
Dan ….
"Emm ….," kataku tidak dapat bicara.
Ia menempelkan bibirnya pada bibirku. Sebagian Wine yang masuk ke dalam mulutku dan sebagian Wine mengalir keluar dari bibirku.
Tunggu, kenapa rasanya bahkan lebih manis daripada yang kuminum tadi? Apakah ini semua karena rasa bibirnya?
*Melepaskan ciuman*
"Yah, kurasa bibirmu lebih manis daripada Cruelberry. Ingin sekali kumenciumnya lagi," kata Carl membersihkan bibirnya yang masih ada sisa Wine.
Tak lupa, ia membersihkan bibirku yang masih ada sisa Wine.
"Jangan lupa, kau juga harus membersihkan bibirmu yang manis dan indah ini," lanjut Carl membersihkan bibirku.
Dasar nakal, aku sendiri tidak bisa berkata kata.
"Kuakui Winenya sangat manis jika kau memberikannya lewat bibirmu, Carl," jawabku tanpa sadar wajahku memerah.
Yah, baru pertama kali aku minum Wine dengan mulut kekasihku sendiri.
Yah, ini adalah pertama kalinya.
"Benarkah? Apa itu artinya kau mau lagi?" tanya Carl menatapku.
Hei! Bukan itu mak ….!
"Emm ….!"
Tanganku di tahan dan bibirku di cium olehnya lagi.
Kali ini, tubuhku terbaring di kasur dan tubuhku berada di bawah tubuh Carl.
Bibirnya masih setia mencium bibirku, genggaman tangannya sangatlah kuat sehingga aku tidak dapat melepaskannya.
"Emm …. lepas ….," kataku masih tidak dapat berbicara.
Bwah~
Carl membersihkan bibirnya dan menatapku.
Aku berada di bawah tubuhnya dan dia berada di atas tubuhku, tapi tangannya menahan kasur agar tubuhnya tidak jatuh.
Situasi ini seperti ….
"Kau tahu? Malam ini adalah malam terindah yang pernah kulakukan bersamamu," kata Carl menatapku dengan senyuman.
"Aku tahu dan ini adalah pertama kalinya kualami hal yang indah ini," jawabku memandang ke arah lain.
"Tidak apa apa, bertahanlah hingga kau menyelesaikan sekolahmu, karena aku sudah tidak sabar untuk ….," kata Carl sengaja.
Kututup mulutnya agar ia tidak banyak bicara.
"Jangan mengatakannya, aku sudah tahu," jawabku sambil menutup mulutnya dengan posisi yang masih berbaring.
Sudahlah, kulepaskan saja mulutnya.
*Melepas*
"Aku akan menunggu hingga waktunya tiba, mengerti?" tanya Carl menatapku.
"Aku mengerti," jawabku tersenyum biasa.
Tanpa kusadari ….
Cup~
Pipi kiriku di kecup sekilas olehnya dan duduk kembali.
*Duduk*
Hah~
Aku baru tahu kalau malam ini seindah lilin yang menyala di danau.
.
.
.
[Bersambung]
Maaf kalau masih ada kesalahan narasi, karena Author baru belajar saja.