
*Lirik*
Eliza duduk di kursi yang berdekatan dengan Serlia? Sebaiknya kuhampiri saja dia.
Kuberjalan ke arah Serlia dan Eliza berada dengan penuh percaya diri. Sudahlah, katakan saja apa yang ingin kau katakan.
"Serlia, sejak kapan kau duduk di sini bersama Eliza?" tanyaku tersenyum paksa menatap Eliza.
"Ehm, Catherine, aku sudah lama duduk di sini, tapi Eliza yang datang secara tiba tiba," jawab Serlia juga tersenyum paksa.
"Oh, begitu ya, maaf kalau aku terlalu lama berkumpul dengan kalian berdua," kataku yang kali ini tersenyum manis.
Sialan, senyuman ini terlalu menjijikkan! Semakin lama kau selalu membuatku kesal dengan sandiwaramu, Eliza!
Tanpa pikir panjang, kududuk di kursi yang berdekatan dengan Serlia juga dan menatap Eliza dengan penuh senyuman.
Untunglah Eliza buta dan tidak dapat melihat apapun, kalau tidak maka menyelesaikan rencanaku pun tak akan bisa.
Tapi, yang membuatku lelah adalah menyunggingkan senyumku terus terusan, padahal tersenyum adalah hal yang tidak kusukai.
Sabar …., menjalankan rencana yang kubuat sendiri memanglah tidak mudah.
Rencanaku kali ini adalah berpura pura baik kepada Eliza untuk menjauhkannya dari Samson.
Dasar, kenapa akhir akhir ini aku tidak suka kalau Eliza berdekatan dengan Samson? Jangankan berdekatan, jika Eliza menyukai bahkan ingin menikahinya pun aku tak akan pernah rela.
Aneh, apa aku benar benar sudah jatuh cinta pada Samson? Kenapa seorang antagonis bisa menyukai sang protagonis?
Terlebih lagi, Alexander sama sekali tidak mengejarku dan mengganggu kehidupan pribadiku. Apakah alur novel ini sudah berubah sepenuhnya? Dan aku akan hidup di sini selamanya?
Benar juga, aku kan sudah meninggal di kehidupan sebelumnya, jadi aku akan mencoba bertahan hidup di dunia ini.
Ternyata benar, aku memang menyukai Samson seperti dugaanku. Entah kenapa jantungku berdegup kencang saat bertemu dengannya, terus aku akan sedih jika tahu dia tidak bersamaku.
Ah, bahkan lebih sulit lagi kalau aku terus memikirkannya, lebih baik aku berbincang dengan mereka berdua saja.
"Eliza, kau datang bersama siapa?" tanyaku tersenyum.
"Ehm, aku datang bersama Michelle dan tunanganku," jawab Eliza sedikit gugup.
Yah, dia memang tunanganmu, tapi aku yakin kau pasti menyebutnya dengan sebuah arti yang memalukan.
Seandainya saja aku dapat menceritakan semuanya kepada Samuel, Eliza pasti akan tertekan dengan keadaan sekitarnya.
Jangan lupa, aku menunggu rahasia besarmu, yaitu mengandung anak Samuel tanpa menikahinya. Kurasa, yang akan marah padamu setelah tahu kau mengandung adalah Louis dan Arsula bodoh itu.
Aku jadi tidak sabar ingin memberitahunya, tetapi menunggu waktu yang tepat adalah hal terbaik bagiku.
"Baiklah, kenapa Michelle tidak berkumpul dengan kita bertiga?" tanyaku menatap Eliza.
"Aku tidak tahu ada apa dengan dirinya," jawab Eliza tersenyum.
Baiklah, aku mengerti apa yang kau katakan, tapi percaya padamu adalah hal yang paling tak kusukai.
Karena haus, kuambil gelas dan sebotol Wine yang ada di depanku dan menuangkan Winenya ke dalam gelas.
Gluk~
Sebelum meminumnya, kukocok dulu Winenya agar aroma dan alkoholnya semakin pekat.
*Mengocok*
"Ngomong ngomong, apakah kau mau minum Wine?" tanyaku menatap Eliza sambil mengocok Wine milikku.
*Meminum*
Gulp~
Gulp~
Gulp~
Alkohol sebesar 100% memang sangat enak, semenjak bereinkarnasi, aku jarang sekali mabuk.
Sekali saja aku mabuk ketika minum Wine dengan kadar alkohol yang tinggi, tapi berhenti meminumnya membuat bibirku tidak manis lagi.
Hah~
Manis sekali, aku suka sekali dengan Wine.
"Ini enak sekali, apa kau mau coba, Serlia?" tanyaku mengarahkan gelasku ke arah Serlia.
"Yah, kau pintar sekali membuat Wine dengan kadar alkohol sebesar 100%, nanti saja aku meminumnya," jawab Serlia tersenyum menatapku.
"Baiklah, terserah kau saja," kataku kembali meminum Wineku.
Gulp~
Gulp~
Gulp~
Habis? Huh, padahal Wine buatanku sendiri sangatlah manis dan enak.
Aku harap begitu, karena kadar alkohol dari Wine yang kuberikan sebesar 98%.
Selamat bersenang senang, Kakak kedua~
Tiba tiba ….
"Catherine, kau di sini? Aku mencarimu ke mana mana," kata Samson menepuk pelan bahuku dari belakang.
Samson?! Tunggu, aku tidak suka jika ia mendekati Eliza! Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?
"Ehm, kenapa kau mencariku?" tanyaku bingung.
"Aku mau mengajakmu berdansa bersamaku," jawabnya santai.
Berdansa? Benar juga, demi menjauhkan Samson dari Eliza, aku akan berdansa dengannya.
Untuk kedua kalinya aku berdansa dengan Samson, kuharap ini akan berhasil dan tidak akan gagal lagi.
"Dengan senang hati, aku akan menerima permintaanmu," kataku hormat dan berdiri kembali.
Kugenggam tangan Samson tanpa mempedulikan Eliza dan Serlia. Kuikuti terus langkahnya dan kami sampai di taman belakang.
Apa? Taman belakang? Kenapa kita tidak berdansa di dalam saja? Bukankah berdansa di sini sangatlah aneh?
"Aku mau kita berdua berdansa di sini bersama bulan purnama yang terang itu, apa kau mau?" tanya Samson yang tangannya masih kugenggam.
*Mengangguk*
Yah, kami memulainya tanpa menggunakan nada. Sedikit demi sedikit, aku mulai tenang tanpa harus merasa emosi dan kepanikan.
Kuikuti arahan dan gerak gerik yang di berikan oleh Samson sambil memejamkan kedua mataku.
Ketenangan dan keserasian, itulah yang kurasakan.
"Catherine, aku tidak percaya kalau kau sudah bisa berdansa," kata Samson dengan nada bicara yang tenang.
*Membuka mata*
"Aku mempelajarinya dengan ketenangan, dan mengikuti arahan yang kau berikan padaku," jawabku dengan nada suara yang sama dengan Samson.
Kami berdua masih berdansa dan belum berhenti sama sekali. Kupikir, Samson ingin mengatakan sesuatu padaku.
*Berhenti*
Eh? Berhenti? Apa yang mau kau lakukan?
Kulihat Samson yang bertekuk lutut di hadapanku dan mengambil sesuatu di saku celananya.
Di keluarkannya benda yang ada di saku celananya, terlihat sebuah kotak kecil yang ia pegang dan mengarahkannya padaku.
*Membuka*
Cincin berlian? Untuk apa?
"Catherine, aku menyukaimu pada pandangan pertama. Terimalah cincin ini dariku sebagai tanda bahwa kau adalah milikku," kata Samson menatapku.
Hah?! Jadi, apa yang firasatku katakan ternyata benar? Samson benar benar menyukaiku?
Kata hatiku sendiri tidak dapat menolaknya, apa aku harus menerimanya?
Apakah aku harus mengatakan isi hatiku juga kalau aku sebenarnya juga menyukainya?
*Menelan saliva*
Glek~
"Aku juga menyukaimu, Samson," jawabku tersenyum tanpa sadar meneteskan air mataku.
Ia memakaikan cincinnya di jari manis pada tangan kananku dan mengecupnya sekilas.
Cup~
"Kau adalah milikku, wahai Putriku yang cantik," kata Samson senang.
Ia kembali berdiri dan menatapku dengan serius. Sepertinya, dia bukan menatap wajahku.
*Mencium*
Sebentar, dia menciumku? Di tambah dengan pelukannya yang begitu erat, kehangatan membuat dingin di tubuhku menghilang.
Perasaan apa ini? Aku baru pertama kali di cium oleh laki laki yang menyukaiku.
Aku sungguh tidak bisa menolaknya, karena tanpa kusadari, aku juga menyukainya ….
.
.
.
[Bersambung]