The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 88



Veronica Belstreyd:



Keesokan harinya ….


Hoam~


Jangan tanya apa apa lagi, aku sedang berada di kamar mandi dan berendam air panas.


Huft~


Semalam, aku lelah sekali melihat kemesraan Kakak dan Veronica. Hmm, kapan aku akan memiliki kekasih?


Hah~


Aku tidak mampu memikirkannya, tetap saja aku akan kesepian.


"Kira kira kapan aku memiliki kekasih?" tanyaku pada diriku sendiri.


Tiba tiba ….


Prang!


Astaga, suara pecahan kaca yang berasal dari ruang tamu?! Sebaiknya kulihat dulu!


Setelah selesai berpakaian ….


Kukeluar dari kamarku dan berlari ke arah ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu, yang kulihat adalah Michelle dan Eliza yang sedang berlatih berjalan.


Sebaiknya aku bersembunyi saja dan melihat apa yang mereka lakukan.


"Berhati hatilah, Eliza, nanti kau bisa saja terjatuh," kata Michelle menyuruh Eliza untuk berhati hati.


"Tenanglah, Michelle, aku pasti bisa," jawab Eliza dengan wajah yang penuh dengan ketenangan.


"Tapi, aku takut kau akan terjatuh," kata Michelle khawatir.


Prang!


Suara pecahan kaca terdengar lagi. Eliza memang tidak suka berhati hati!


"Kau tenang saja, selama aku dapat berjalan, maka aku percaya kalau mataku akan sembuh dengan cepat," jawab Eliza merasa yakin.


Daripada curiga, lebih baik aku masuk ke dalam dan melihatnya.


"Kalian berdua? Aku pikir sedang ada tikus. Sedang apa kalian?" tanyaku lembut.


"Oh, aku hanya mengajari Eliza berjalan selama ia tidak bisa menyentuh dan melihat apa apa," jawab Michelle tersenyum.


Wajah buaya kalian berdua sangatlah kelihatan! Aku mau muntah!


"Baiklah, apakah boleh kubantu?" tanyaku menatap Michelle dengan senyuman.


"Tentu saja, kau boleh membantunya," jawab Michelle biasa saja.


Kugenggam tangan Eliza dan membawanya berjalan pelan pelan.


Selangkah demi selangkah, Eliza mulai berjalan dengan sempurna tanpa adanya menyentuh barang yang mudah pecah.


Kurasa ini lebih baik daripada harus memecahkan semua barang berharga yang sudah tertata rapi.


Aku pikir Kak William pasti akan memarahiku ketika melihat lantai yang berserakan begini.


Tidak, aku harus meminta Pelayan untuk membersihkannya.


"Pelayan, tolong bersihkan seluruh sampah yang ada di bawah meja ini," perintahku memanggil Pelayan.


"Baik, Tuan Putri," jawabnya datang dan membersihkan pecahan kacanya.


Aman, untunglah Kak William dan Kak Carl belum datang ke sini. Apakah mereka tahu tentang kedatangan Eliza dan Michelle sialan itu?


Aku masih tidak yakin dengan kata maafnya, bisa bisanya dia mengucapkan kata maaf dengan mudah sedangkan aku harus kehilangan Ayah dan Ibuku karena dia.


Seharusnya kau sudah kuhukum mati dan kepalamu akan di jadikan pajangan tiang alun alun!


Tapi, karena ini adalah alur novel dan aku harus mengikuti alurnya, mau tidak mau, kau belum kubunuh.


Tenanglah, percayalah pada firasatmu dan jangan percaya dengan kata maaf singkat dari Eliza dan Michelle.


"Cukup jalani saja dan nikmati hasilnya, Saphira. Kau harus percaya kalau Eliza sama sekali belum melakukan perbuatan baik apapun," gumamku sedikit kesal.


"Eliza, sepertinya kau sudah mengalami sedikit kemajuan," kataku tersenyum paksa.


Matanya terus saja tertutup dengan kain putih, apakah kau merasa nyaman dengan kain jelek ini?


"Benarkah? Tapi, aku masih sangat ragu untuk coba berjalan normal," jawab Eliza sedikit ragu.


Ingin sekali kumenolaknya karena aku harus mengakhiri akting bodoh ini. Baiklah, mungkin kali ini aku hanya bisa pasrah dengan keadaan.


"Anggap saja semuanya adalah dunia terang atau taman bunga, maka pemandangan melihatmu akan semakin cerah," kataku menjelaskannya pada Eliza.


"Baiklah, anggap saja ini adalah taman bunga," jawab Eliza santai.


Berlahan lahan ia melangkah ke depan hingga dia bisa berjalan tanpa menabrak sesuatu.


Sedikit perkembangan dan kemajuan akan mendorongmu ke tempat yang cerah.


Cih, kutarik kata kataku yang tadi! Untuk apa aku mendukung dan mendorongnya ke jalan cerah?


Akulah yang membuat matanya buta agar ia tidak bisa melihat apa apa.


"Kau hebat sekali, Eliza, kau berjalan dengan arah yang sempurna," kata Michelle senang.


Sudah kuduga, dia pasti akan memujiku dengan beberapa kata yang menjijikkan itu!


Hatiku sudah terbakar, tidak memiliki perasaan pada orang jahat.


"Kau terlalu memuji, Eliza," kataku tersenyum paksa.


"Maaf telah merepotkanmu, Cath. Sekarang, aku harus mengantar Eliza pulang dulu," jawab Michelle.


Pergilah, justru melihat kedatanganmu adalah hal terburuk yang pernah kualami!


"Baiklah, hati hati di perjalanan," kataku tersenyum.


"Kami berdua pergi dulu, sampai jumpa," jawab Michelle pulang bersama Eliza.


Akhirnya yang kutunggu tunggu datang juga, mereka berdua sudah pergi dari sini.


Ah, aku lupa kalau aku ingin pergi ke ruang Penyihir dulu.


...


Setelah sampai di ruang Penyihir ….


Tok!


Tok!


Tok!


Kuketuk pintunya sebanyak 3× dan hanya dapat jawaban singkat darinya.


"Masuklah," jawab Serlia dari dalam.


Lagi lagi, hanya jawaban itu saja yang kudapatkan setiap harinya.


Sudahlah, sebaiknya kumasuk ke dalam saja daripada berada di luar.


Kubuka pintu ruangnya dengan pelan dan melihat Serlia yang sedang minum segelas racun.


Pantas saja dia meminjam bukuku kemarin malam, ternyata inilah alasannya meskipun aku tidak mendengarnya dengan jelas kemarin.


Ceklek~


Kututup kembali pintunya dan menghampiri Serlia tanpa rasa takut.


Gulp~


Gulp~


Gulp~


"Bloody Poison," ucapnya.


Aku tidak jadi mendekatinya karena cahaya kegelapan muncul di tubuhnya dan kembali normal.


Hah~


"Pemulihan darahku selesai juga. Seharusnya kau tidak perlu datang ke sini dulu," kata Serlia yang sudah merasa santai.


"Aku tahu itu, tapi ada hal penting yang ingin kukatakan padamu," jawabku serius.


"Hmm? Hal apa?" tanya Serlia tidak tahu.


"Ini menyangkut tentang Eliza dan Michelle," jawabku serius.


Kududuk di kasur Serlia dan menjelaskan semua kejadiannya padanya.


"Tadi, Michelle dan Eliza datang ke sini hanya untuk belajar berjalan"


"Karena banyak barang pajangan yang pecah, kuputuskan untuk mengajarinya berjalan secara terpaksa"


"Entah ada apa yang membuat Eliza dan Michelle bersikap baik tiba tiba. Apakah kau pikir mereka hanya berbohong?"


"Aku masih tidak yakin dengan kata maafnya," jelasku pada Serlia.


Setelah mendengar penjelasanku, pelan pelan Serlia mengerti dengan apa yang kukatakan.


Sungguh, aku benar benar tidak yakin dengan kata maafnya.


Jadi, inilah sebabnya aku tidak percaya dengan kata katanya karena takut kepribadiannya memang belum berubah.


"Jangan pernah yakin dengan kata maafnya. Apa kau tahu, mereka pasti sedang menyusun rencananya," jawab Serlia juga tidak yakin dengan kata maafnya.


"Benar juga, itulah sebabnya kenapa aku sangat benci kata maaf darinya," kataku serius.


Sambil mondar mandir, Serlia memikirkan sebuah sesuatu penting untuk ia beritahukan padaku.


"Kalau di pikir pikir, Eliza memang merencanakan sesuatu. Aku percaya pasti karena menyerah, dia sengaja membangun rencana baru untuk menyingkirkanmu," jelas Serlia serius.


Yah, kau memang jenius dalam berpikir panjang. Baiklah, aku juga tidak lupa untuk merencanakan sesuatu.


"Kira kira, apa yang harus kita lakukan?" tanyaku menatap Serlia.


.


.


.


[Bersambung]