
"Ini …., ceritanya sangat panjang," jawabku tersenyum paksa.
Lupakan, tidak ada yang boleh tahu kalau aku di culik oleh ketiga kembar itu.
Eh? Jangan bilang kalau aku sudah melupakan Eliza? Bagaimana caraku melihatnya? Firasatku mengatakan kalau rencanaku berhasil, tapi aku tidak yakin sama sekali.
Oh, aku baru ingat kalau Serlia punya bola kristal di ruang Penyihir. Nanti saja kupinjam dengannya.
Tang!
Yang harus kuselesaikan sekarang adalah latihan berpedang ini. Tanganku sudah sakit karena terus mengayunkan pedangnya.
Tang!
Sring!
Kuarahkan pedangku ke arah mata Kak William.
Haha, aku yang menang!
"Siapa yang menang, siapa yang kalah? Kakak yang akan menentukannya sendiri," kataku tersenyum miring,
*Pasrah*
"Baiklah, kau menang," jawab Kak William pasrah.
Kuturunkan pedangku dan mengembalikannya pada Kak Carl.
Sungguh pedang yang sangat mudah di pakai, aku menyukainya.
"Terima kasih telah meminjamkan pedangmu padaku, Kak," kataku mengembalikannya pada Kak Carl.
"Sama sama, sekarang kau bisa ke dalam," jawab Kak Carl tersenyum.
Tinggal mengajak Serlia masuk dan pergi ke ruang Penyihir, aku tidak akan di marahi Kakak, bukan?
Lagipula, Kakak juga mengizinkanku masuk. Tanpa harus meminta izin dengannya, aku bisa membawa Serlia untuk pergi ke ruang Penyihir~
"Serlia, bisakah kita berdua pergi sebentar?" tanyaku menghampirinya.
"Pergi ke mana?" tanya Serlia bingung.
Sulit untuk menjawabnya, kuarahkan wajahku ke arah telinga Serlia dan membisikkannya.
"Ruang Penyihir," jawabku berbisik.
Ia hanya mengangguk menyetujuiku dan menarikku hingga ke ruang Penyihir.
Sesampainya di ruang Penyihir ….
Ceklek~
Serlia menutup pintunya berlahan dan bertanya padaku tentang apa yang ingin kukatakan tadi.
"Cath, apa yang ingin kau katakan?" tanya Serlia bingung.
"Bolehkah aku meminjam bola kristal milikmu?" tanyaku.
Bola kristal? Tentu saja, aku membutuhkannya untuk melacak keberadaan si ular Eliza itu!
"Bola kristal? Untuk apa?" tanya Serlia penasaran.
"Yah, hanya untuk mengetahui keberadaan si Eliza," jawabku tersenyum tipis.
Tanpa berkata apa apa, Serlia langsung mengambilnya di dalam lemari lalu memberikannya padaku.
"Ini bolanya. Cara menggunakannya adalah membaca sihir untuk menyalakannya," kata Serlia memberikanku.
Membaca sihir? Aku tidak salah dengar, bukan?
Untung saja aku tahu cara mengucapkannya. Tutup mata berlahan, fokuskan tangan ke arah bola kristalnya, dan ….
"Crystality Shining," ucapku.
Sihir ini pernah kulatih saat mengetahui tubuhku banyak menyimpan sihir.
Jangan salah, aku pernah membaca nama nama sihir di perpustakaan dulu.
Di novel aslinya, Catherine juga terbilang banyak menyimpan sihir, tapi perbedaannya, sihir yang ada di tubuhnya tidak pernah ia gunakan.
Sulit untuk menguasainya, harus memerlukan proses latihan di sekolah.
Berlahan lahan, cahaya putih menyala di bola kristalnya dan memunculkan sebuah gambar.
Wah, ternyata sihir yang kulatih tidak sia sia ya. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.
"Ternyata kau bisa menyalakannya menggunakan sihirmu ya, aku baru melihatnya," kata Serlia sedikit senang.
Lihatlah gambar di bola kristal itu, Eliza dan Samuel sudah berada di air sungai?
Apa yang mereka lakukan selanjutnya?
Samuel meletakkan telapak tangannya ke atas kepala Eliza dan mengatakan sebuah sumpah.
"Aku bersumpah akan mencintai Eliza dengan setulus hati dan sepenuh hati. Mulai sekarang sampai selamanya, kukatakan bahwa Eliza sudah menjadi milikku," kata Samuel serius.
"Aku bersumpah akan memegang janjiku sebagai tunangan dari Samuel, bahwa suatu hari nanti aku akan menikahinya," jawab Eliza juga serius.
Nah, suasana apa yang kulihat sekarang? Dan, untuk apa Eliza mengucapkan sumpah itu?!
Di lihat dari ekspresi wajahnya, tampaknya dia merasa terpaksa melakukannya.
Apakah Eliza sungguh tidak tahu kalau sumpah bukanlah sebuah permainan?! Seluruh kata kata yang sudah kau ucapkan tidak bisa di tarik kembali.
Semoga saja kau dapat bertahan hidup tanpa menghindari karmamu~
Huft~
Lebih baik aku tidak memiliki kekasih saja.
____________________________________________
Keesokan harinya ….
Aku berada di perpustakaan sendirian tanpa ada yang menemaniku. Serlia sedang mencari racun untuk menguji nyali di gunung salju.
Sedangkan Kak Carl ada urusan penting yang harus ia selesaikan, termasuk pergi ke taman Mawar salju.
Kalau aku? Yah, di ruangan ini aku hanya membaca tanpa melakukan apapun.
Buku yang sedang kubaca adalah dongeng Cinderella yang malang.
Sebelumnya, aku tahu bagaimana kisah Putri Cinderella sejak aku masih menjadi Saphira dan sampai sekarang aku tetap menyukainya.
Anehnya, bagaimana buku dongeng ini bisa ada di zaman kuno? Apakah dongeng dengan yang asli benar benar sudah kelewatan zaman?
Sudahlah, aku hanya fokus membaca! Jangan ada yang masuk maupun menggangguku!
Dongeng Cinderella, menceritakan kisah hidup seorang gadis yang di siksa oleh Ibu dan Kakak Kakak Tirinya.
Sampai sekarang, dongeng ini masih teringat di dalam pikiranku, sangat sulit untuk melupakannya.
"Menurutku, kisah Cinderella hampir mirip dengan kisahku yang dulu, di tinggalkan seorang Ibu, di siksa oleh Ibu dan Adik Tiri dengan cara di peras"
"Huh, entah apa reaksi Papa setelah tahu kalau aku sudah mati kecelakaan," kataku menyandarkan kepalaku ke dinding sofa.
Tiba tiba ….
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu terdengar di telingaku. Siapa lagi yang datang?
"Masuk," kataku singkat.
Ceklek~
Seseorang membuka pintunya dan masuk ke dalam.
Samson?! Untuk apa kau ke sini dan menemuiku?! Terlebih lagi, bagaimana caranya kau masuk ke dalam?! Apakah kau baru selesai meminta izin dengan Kak William?
Astaga, aku tidak menyangka kau akan senekat ini demi menemuiku!
"Catherine," sapanya ramah.
"Yah, duduklah," jawabku menyuruhnya duduk.
Tanpa pikir panjang, Samson duduk di sofa tepat si sebelahku.
*Duduk*
Sudahlah, abaikan saja dia.
"Untuk apa kau datang ke sini?" tanyaku penasaran.
"Aku sedang bosan di Istana, jadi aku datang ke sini untuk menemuimu," jawab Samson tersenyum.
"Lalu, untuk apa kau menemuiku?" tanyaku penasaran lagi.
"Aku merindukanmu," jawabnya to the point.
Merindukanku?! Serius?! Telingaku tidak salah dengar, kan?!
Apa akal sehatmu hilang?! Aku hanya takut Kak Carl melihat kedatanganmu! Bisa bisa nanti aku akan di hukum karena sembarangan mengundang tamu.
Untung saja Kak Carl pulang agak lama karena sedang bersama Veronica, semoga saja kau aman.
"Baiklan kalau begitu, aku mau membaca dulu, jangan menggangguku," kataku kasar dan kembali membaca.
"Nanti dulu, aku belum selesai berbicara," jawab Samson menghentikanku.
Ah! Aku tidak dengar apa apa. Yang kudengar hanyalah suara lalat!
Biarkan saja, aku tidak peduli.
Kuterus membaca buku sehingga menciptakan suasana hening di antara kami berdua.
...
Hah~
Cukup, aku tidak sanggup dengan suasana hening. Lebih baik kupecahkan daripada mengabaikannya.
"Apa kau datang ke sini ada meminta izin dengan Kak William?" tanyaku menatapnya.
"Tentu saja aku ada meminta izin dengannya, katanya kau ada di perpustakaan, jadi aku datang ke sini dan melihat wajah manismu," jawab Samson berterus terang.
Masuk akal, aku sedikit percaya dengan kata katamu.
.
.
.
[Bersambung]