The Novel Princess: Avenging Princess Catherine

The Novel Princess: Avenging Princess Catherine
The Novel Princess: CH 37



Tarikan Serlia semakin kuat, membuat Michelle meringis kesakitan. Kepalanya di banjiri dengan darah, rambut indahnya hampir rontok semua.


Serlia! Melihatmu saja sudah membuatmu takut!


Seperti yang pernah kukatakan, aku sungguh tidak tahan dengan bau darah!


Suasana yang sangat mengerikan ….


Argh!


"Lepaskan aku, Penyihir gila!" teriak Michelle kesakitan.


"Tidak akan mau," jawab Serlia terus menjambak rambutnya.


Dengan memberanikan dirinya, Eliza mencoba memberitahu Michelle tentang identitas sesungguhnya dari Serlia.


"Ehm, Michelle, sebenarnya posisi Serlia bukanlah Penyihir, melainkan seorang Putri angkat Courtines," kata Eliza dengan kakinya yang gemetaran.


Michelle mematung terdiam setelah mendengar perkataan Eliza. Ia tak habis pikir kalau orang yang saat ini dia singgung adalah seorang Putri berdarah dingin berbangsa Drastiria, Serlia Arthera Ve Courtines.


"A …. a …. aku minta maaf, Tuan Putri Serlia," kata Michelle meminta maaf secara terpaksa, namun ekspresinya menunjukkan bahwa ia sedang ketakutan.


Karena senang di panggil dengan sebutan Tuan Putri, akhirnya Serlia melepaskan tangannya dari rambut Michelle.


Nah, bagaimana hasilnya setelah menyinggung seorang Putri terhormat? Malu? Takut? Atau hampir mati?


Ingatlah, ini adalah tindakan yang akan di lakukan oleh Serlia jika ia merasa tersinggung walaupun hanya beberapa kalimat yang kau ucapkan.


Sebenarnya, aku ingin sekali membantu Serlia menghabisi Michelle, tapi karena auramu itulah yang membuatku tidak bisa membantumu.


Keren, hanya kata membosankan itu yang bisa kuucapkan.


Kulihat Serlia yang menginjak tangan Michelle sambil memasang aura menyeramkan miliknya.


"Lain kali, jangan membuatku tersinggung seperti ini. Kalau tidak, maka nyawamu adalah bayarannya," kata Serlia dengan nada mengancam.


"Ayo turun ke bawah, Cath," lanjutnya menarik tanganku dan membawaku pergi meninggalkan mereka berdua di kamarku.


Hei, kita berdua mau ke mana lagi?! Ke ruang penyambutan? Untuk apa?


"Kita kembali ke tempat asal, ada yang ingin kutunjukkan padamu," kata Serlia berlari sambil menarik tanganku.


Larianmu terlalu cepat, Serlia~


Kepalaku jadi pusing~


Hah? Ruang penyambutan? Sudah kuduga kau akan membawaku ke sini.


Eh? Kenapa terjadi keributan antara William dan Kak Carl? Tunggu, Kak Carl sudah menunjukkan identitasnya?! Parah sekali, Anna adalah satu satunya ancaman!


"Sadarlah, Will! Kau sedang dalam pengaruh kutukan, bukan?!" bentak Kak Carl tampak emosi memandang William.


Mata merah Ruby yang bersinar terang, sangat menyeramkan ….


Kalian berdua sama saja, Serlia, Kak Carl!


Tetapi, kudengar kalau Kak Carl bilang William sedang dalam pengaruh kutukan.


Kutukan apa yang membuat William menjadi seperti ini? Tidak! Sepertinya bukan hanya karena kutukan, melainkan penyebab lain!


Satu satunya yang bisa kuselidiki adalah surat ancaman itu. Memangnya siapa yang di ancam Eliza?


"Kau tidak tahu apa apa, Carl!" jawab William dengan kasar dan duduk kembali ke kursi Raja.


Apa yang sedang kau sembunyikan, William? Apakah sebesar itu rahasianya?


Ini tidak bisa di biarkan! Para rakyat yang hadir di pesta ini sudah marah besar!


Sebaiknya kuakhiri saja pesta konyol ini! Tidak berguna!


*Turun dari tangga*


"Para rakyat bijaksana yang sudah hadir, pestanya sudah berakhir. Sebaiknya kalian bubar saja," perintahku.


Tanpa basa basi lagi, mereka semua pergi meninggalkan Istana.


Yang tersisa di Istana sekarang adalah Anna, Alice, Veronica, Samson, Alexander, William, Kak Carl, Eliza, Michelle, Ruth, dan Serlia.


Entah ada angin buruk apa yang membuat Alexander menatap ke arah Serlia dengan tatapan sinis.


Memangnya apa salah Serlia hingga kau menatapnya seperti melihat musuh?


Aneh ….


"Sepertinya Putri Serlia berhasil bersembunyi di antara para musuh, ya. Jangan lupa kalau aku tahu identitasmu," kata Alexander dari jauh.


Suasana menjadi hening seketika setelah mereka menatapku.


Tapi, Anna memecahkan keheningannya karena senang melihat Kak Carl.


"Akhirnya kau datang juga, Carl. Aku pikir kau tidak akan datang lagi ke Istana ini," kata Anna senang melihat kedatangan Kak Carl.


Pencari perhatian, menjauhlah dari Kakakku! Hanya Veronica yang pantas mendapatkan perhatian dari Carl daripada dirimu, Anna jala*g!


"Sepertinya aku sedang tidak baik hari ini, aku pergi dulu," jawab Kak Carl datar.


Jawab saja dengan kata kata yang melukai hatinya, Kak! Setahuku, Anna pernah membohongi seluruh laki laki yang dulunya menjadi kekasihnya.


Karena khawatir, Veronica menghampiri Kak Carl dengan cepat.


"Kau tidak apa apa, Carl?" tanya Veronica khawatir.


Melihat Veronica, wajah Kak Carl berubah menjadi blushing secara tiba tiba.


"Ehm, aku baik baik saja," jawab Kak Carl.


Semuanya selalu baik setelah kau bertemu dengan Veronica. Kakak, apakah kau tidak akan bermain bersama Adikmu lagi?


Sudahlah, yang ingin kulihat hanyalah keromantisan Kak Carl dan Veronica.


Eh? Ada apa denganmu, Anna? Cemburu? Tampaknya kau marah sekali melihat Veronica bersama Kak Carl.


Haha, aku senang melihatmu menderita!


Tanpa kusadari ….


"Jadi kau adalah calon Adik Iparku? Ternyata, kau lebih cantik daripada tunanganku sendiri," kata Samson yang tiba tiba berada di belakangku.


A …. apa? Samson? Tidak, sudah terlambat untuk menjauh.


"Ehm, Samson? Kurasa kau tidak perlu mendekatiku. Eliza pasti akan marah setelah melihatnya," jawabku tersenyum paksa.


Kata kata macam apa itu?! Terlalu lebay untukku!


"Tidak perlu mendekatimu? Karena kau cantik dan menarik, maka aku akan terus mendekatimu," kata Samson seraya membelai rambut Golden Blonde milikku.


Cantik? Menarik? Bahaya sekali kalau kau terus mendekatiku.


Tak lama kemudian, Eliza dan Michelle datang ke ruang penyambutan dengan keadaan yang buruk.


Kepala Michelle masih penuh dengan darah karena tarikan dari Serlia. Memang pantas di juluki sebagai Putri berdarah Dristiria.


Tentu saja Alexander sangat khawatir melihat keadaan Michelle yang wajahnya di penuhi dengan darah.


Wajar saja, menurutku itu adalah pelajaran agar dirimu tidak membuat Serlia marah.


"Ada apa dengan kepalamu hingga mengeluarkan banyak darah begini?" tanya Alexander khawatir.


Mendengarnya saja sudah membuatku muak! Aku benci padamu, Michelle.


"Hiks, ini semua karena Serlia! Dia yang menamparku, mendorongku, dan melukaiku hingga berdarah!" jawabnya seraya tangannya menunjuk ke arah Serlia.


Heh, mulai lagi dramanya! Salahmu sendiri karena berani menyinggung Eliza.


"Oh, jadi karena luka kecil di kepala, kau langsung menuduhku?"


"Memang benar aku yang melakukannya, karena kau menyebutku dengan kata Penyihir rendahan!" kata Serlia dengan santai menatap Michelle.


Luka separah ini saja kau anggap kecil? Benar benar psikopat!


Bagaimana bisa takdir novel ini memberikanku teman mengerikan seperti Serlia?


Tidak apa apa, yang penting aku bisa selamat dari Iblis Eliza itu!


Alexander yang menatapnya menjadi ketakutan karena aura menyeramkan di tubuhnya selalu muncul.


Tidak bisakan kau menyembunyikannya walau hanya sebentar? Selalu saja aura menyeramkan itu muncul di tubuhmu.


"Bi …. bisakah kau berhenti menatap kami berdua?" tanya Alexander ketakutan.


Berlahan lahan, Serlia mulai tenang. Aura menyeramkan juga hilang dari tubuhnya.


.


.


.


[Bersambung]