
Brak!
William meletakkan kuasnya di meja dengan keras karena terkejut akan kabar dariku.
Sabarlah, Catherine dan aku memang sedang membutuhkanmu.
"Catherine terluka karena serangan dari penyusup?! Bukankah Istana ini sudah sangat waspada?!" tanya William emosi.
"Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi! Yang penting adalah tolong selamatkan nyawa Catherine sebelum ia kehilangan nyawanya!" jawabku panik.
"Baiklah, aku akan segera ke sana," kata William panik juga.
Tanpa basa basi lagi, kami pergi keluar dari ruangan Pribadi William dan menuju ke kamar Catherine.
Sesampainya di kamar Catherine ….
Brak!
William mendorong pintu kamarnya yang tidak di kunci karena sudah sangat panik.
Astaga, kau mengagetkanku saja, Will.
"Catherine, apa yang terjadi padamu?! Siapa penyusup yang menyerangmu?! Katakan padaku!" kata William menepuk pipi Catherine yang terlihat tidak sadarkan diri.
Bodoh! Catherine tidak sadarkan diri sedangkan kau memanggilnya dengan menepuk pipinya.
Sihir penyembuh milikku tidak bisa di pakai sepenuhnya, hanya orang dengan sihir besar saja yang bisa.
Mungkin memanggil tabib juga percuma saja, lebih baik kusatukan saja kekuatanku dengan kekuatan lainnya.
"Healing Miracle," ucapku.
Kuarahkan tanganku pada tubuh Catherine yang tidak sadar sama sekali.
Cahaya putih muncul di tanganku dan berlahan lahan menutup pendarahan di tubuhnya.
Masih setia kuarahkan tanganku ke tempat tubuhnya, kali ini kugabungkan dengan menggunakan sihir penyembuhan terlarang milikku.
"Healing Goddesses Miracle," ucapku.
Cahaya putih menyilaukan muncul di tanganku dan berlahan lahan membuat luka di tubuh Catherine hilang.
Hah~
Aku berhasil menutup lukanya, luka yang dalam ini mengandung racun yang mematikan.
Apakah ini yang di namakan efek dari penyembuhan sepenuhnya?
Inilah sihir terlarang yang pertama kali kugunakan. Akan ada batasnya jika sihir ini tidak bisa sebesar gunung salju.
"Selesai, tinggal tunggu Catherine bangun saja," kataku lega.
Sementara itu di alam bawah sadar ….
Saphira/Catherine POV
Ugh, siapa yang membuat racun sedahsyat ini? Bahkan lebih dahsyat daripada meteor.
Tapi, lukaku tidak terasa sakit lagi. Apakah sudah sembuh total? Kakau begitu, aku bisa pergi jalan jalan dengan Serlia!
Kubuka mataku berlahan dan melihat kalau lukaku sungguh sudah sembuh. Kubangun dari tidurku, melihat isi kamarku yang hanya di datangi 2 orang, yaitu Kak William dan Serlia.
Astaga, sejak kapan Kak William datang? Apa ini ulah Serlia yang memanggilnya?!
Aku tidak bisa berkata kata lagi.
*Memeluk*
Serlia? Serindu itukah kau padaku? Ketika kubangun, kau langsung memelukku dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Akhirnya kau sadar juga! Lihatlah betapa khawatirnya diriku!" kata Serlia memelukku.
"Hah? Aku baru tahu kalau Putri keturunan ras Iblis juga bisa khawatir," jawabku sengaja meledeknya.
"Apa kau sungguh meragukanku?" tanya Serlia melirikku.
"Haha, hanya bercanda saja," jawabku tersenyum mengejek.
Yah, pada akhirnya kami di akhiri dengan canda tawa saja.
________________________________________________
Beberapa saat kemudian ….
Kami berdua sudah sampai di Istana Courtines, tempat di mana Serlia di besarkan dan di angkat menjadi Putri pertama.
Raja Robbecto dan Ratu Argelia, sudah lama kita tidak saling bertemu.
Kulangkahkan kakiku selangkah demi selangkah bersama Serlia. Setelah sampai di dalam, kami menuju ke ruang tamu dan melihat keluarga besar Courtines sedang berkumpul duduk bersama.
"Ayah, Ibu, Ruth, aku kembali!" kata Serlia berlari ke arah mereka bertiga.
"Serlia? Ternyata kau masih sopan seperti biasanya, aku senang sekali," jawab Ratu Argelia senang.
Keluarga yang begitu bahagia, tidak seperti keluarga Arshleyer yang selalu di selimuti kekacauan.
"Catherine? Kapan kau ikut dengan Kak Serlia?" tanya Ruth menatapku.
"Oh, aku mengikutinya sejak tadi. Maaf kalau aku tidak mengabarimu," jawabku tersenyum.
"Baiklah, apakah Kak Serlia bekerja dengan baik?" tanya Ruth penasaran.
Gawat, tidak mungkin aku mengatakan rahasia Serlia di depan orang tua angkatnya. Bisa bisa nanti Serlia di lantarkan ke tempat lain.
"Baik, dia sangat menyukai pekerjaannya," jawabku tersenyum ragu.
"Baguslah kalau Kak Serlia menyukai pekerjaannya," kata Ruth tersenyum.
Hah~
Benar benar harmonis, siapapun yang melihatnya pasti merasa iri.
Aku tahu Serlia adalah anak angkat keluarga Courtines dan Ruth adalah anak Tunggal di keluarga Courtines. Anehnya, mereka berdua sangat dekat dan akrab layaknya Kakak beradik.
Sedangkan aku dan Eliza? Meskipun bukan keluarga, dia terus iri melihatku beruntung dan ingin sekali menghancurkanku.
Sejak pengumuman musim dingin kemarin, Eliza terus saja menatapku dengan tatapan tidak senang.
Padahal, aku tidak berbuat apa apa sama sekali.
Sungguh perempuan yang tidak jelas.
Astaga, aku hampir lupa kalau salju akan turun. Sebaiknya aku pergi menyusul Kak Carl dulu.
"Serlia, bisakah aku pergi menyusul Kakakku di danau angsa?" tanyaku pamit.
"Hah? Kau tidak menungguku?" tanya Serlia heran.
"Ehm, aku mau menyusul Kakak sebentar," jawabku tersenyum paksa dan pergi.
Tap!
Tap!
Tap!
Tanpa pamit sedikitpun, Serlia mengejarku dari belakang dan mengikuti arah jalanku.
"Catherine, tunggu!" teriak Serlia mengejarku dari belakang.
________________________________________________
Di tempat danau angsa ….
Hosh~
Hosh~
Hosh~
Untunglah aku sudah sampai di tujuan. Sekarang, mari kita lihat keromantisan Kak Carl dan Veronica.
*Mengintip di balik semak semak*
Dari jauh ….
"Carl, untuk apa kau mengajakku ke sini? Tempat ini sangat dingin," kata Veronica menahan kedinginan udara.
"Bukankah Kerajaan Belstreyd adalah kutub utara? Kenapa kau bisa merasa dingin?" tanya Kak Carl mengejeknya.
"Bodoh, aku adalah manusia biasa, bukan Peri es. Hanya saja, sifat dan kepribadianku yang mirip seperti kutub utara," jawab Veronica sedikit malu.
Bermain candaan ya? Tampaknya sangat menarik. Ingin sekali kubergabung, tapi aku tidak mau menjadi nyamuk.
"Hu~, aku terjebak di antara percintaan Kakakku~" lirihku.
Tanpa sadar, tiba tiba saja Veronica tergelincir karena mau mundur sedikit ke belakang.
*Tergelincir*
Woah!
Veronica tergelincir? Ini adalah kesempatan Kakak untuk menahannya! Semangat, Kakak!
*Menahan*
"Hampir saja kau jatuh, wahai Putri Veronica yang cantik," kata Kak Carl menahannya agar ia tidak jatuh.
Kakak! Tolong jangan ucapkan kata kata manis yang bisa membuat jiwa jombloku melayang~
"Ehm, terima kasih, Pangeran Carl yang tampan dan berani," jawab Veronica dengan wajah memerah.
Ah! Kalian berdua sama saja, suka mengucapkan kata kata manis di depan para jomblo.
Bukankah Serlia tadi mengikutiku? Kenapa arwahnya belum muncul? Maaf, aku hanya mengejeknya.
Tiba tiba ….
"Catherine, mau berapa lama kau mengintip Carl di sini?" tanya Serlia dari belakang membisik telingaku.
*Terkejut*
Oh, ternyata Serlia. Aku pikir kau adalah seorang bandit yang akan menangkapku.
Sttt!
"Tadinya aku mau memanggil Kakak, tapi waktu bersenang senangnya belum berakhir," bisikku pelan.
"Waktunya belum habis? Kenapa kau tidak membiarkannya saja?" tanya Serlia berbisik.
"Ayolah, hanya sebentar, aku bukan orang gila yang mau berlama lama di tempat dingin ini," bisikku kesal.
Hah, kau terlalu menggangguku, Serlia. Melihat kehadiranmu membuatku ingin menjitak keningmu agar kau sadar.
.
.
.
[Bersambung]