
Bab 95
.
.
.
Dari jarak yang tak jauh, Ani dan sindy juga turut bahagia. Akhirnya sahabat mereka terlihat bahagia dengan pria yang berstatus mantan kekasihnya itu.
"Uuhhh.. So sweet sekali..." Sindy begitu terenyuh.
"Jangan lebay deh.."Ucap Ani.
"Aku akan abadikan, dan akan aku buat distoryku.. Biar siVictor sama Miranda gila itu melihatnya."Ucap Sindy penuh semangat.
"Kau bilang sudah unfollow mereka ??!!" Ani begitu terkejut.
"Awalnya begitu. Tapi setelah aku fikir-fikir akan bermanfaat nanti entah kapan. dan benar kan ?? Aku akan membuat sibuaya gila itu menyesal, salah sendiri mencampakan wanita secantik dan sebaik Amara.."celoteh sindy seraya mengarahkan kamera ponselnya pada Haikal dan Amara yang berpelukan.
"Dasar !!" Umpat Ani yang memilih mendekati dua anak kecil yang sejak tadi berlarian ditepi pantai.
.
.
Diposisi Amara dan Haikal keduanya masih meluapkan kebahagiaan dengan saling berpelukan.
"Apa sekarang nyaman bisa memelukku ??" canda Haikal.
Amara segera melepas kedua tangannya dan menjauh, namun dengan cepat Haikal meraih pinggang ramping itu.
"siapa yang menyuruhmu menjauh ??" Tanya Haikal.
"Kau, kan ??!! Kau tidak mau aku peluk ??!" balas Amara dengan bernada kesal.
Sudut bibir Haikal terkembang senyum. "Marah ??"
" Tidak.." Amara menatap kearah lain.
"Wowww !!! Ani !!! Look at this ??!!" panggil Sindy.
Ani mengikuti kemana arah sindy menyuruhnya. "Oh.. Ya ampun.. Dasar bucin !! Tidak tau tempat" Gerutu Ani yang memilih menutupi kedua anak kecil itu agar jangan sampai melihat.
Jakson yang memang ada juga disana bersama Nindi yang setia disampingnya harus menelan pil pahit karna Cintanya bertepuk sebelah tangan, bahkan sebelum ia mengutarakannya, Amara memilih pria lain untuk mendampingi hidupnya.
"jadi tuan keJogja hanya ingin menemui Amara ??" Tegur Nindi yang mulai jengah karna merasa diabaikan.
Jakson menggangguk pelan.
Nindi tersenyum kecewa. "Jika seperti itu kenapa anda harus membawa saya ??!!"
"Saya fikir melalui kau, saya bisa mendekati Amara. Tapi ternyata tidak, Amara sangat sulit didekati."Tutur Jakson.
"Lalu anda tidak memikirkan saya ??!! Saya menjadi orang bodoh dan mengikuti kemana anda pergi dihari libur saya hanya untuk memastikan sebuah perasaan ??!! Saya tau, saya hanya seorang sekertaris !! Tapi apa serendah ini wanita yang menjadi sekertaris ??!! Harus menjadi kambing hitam dalam misi pribadi anda !!!?" Entah keberanian dari mana Nindi meluapkan kekecewaan itu.
Jakson langsung menatap intens nindi yang menatapnya juga.
"Perasaaan anda itu memang bukan hak saya. Tapi saya juga berhak bebas !! Anda katakan akan menemui klien sejak kemarin datang. Tapi ternyata semua hanya tipuan ?!! Anda malah mengajak saya memantau kedekatan Amara dan kekasihnya, Dimana hati anda tuan ?!!! Apa anda sama sekali tidak memikirkan saya !!!?? Sementara wanita yang kau kejar tidak sama sekali memandang anda !!!?" Tambah Nindi dengan berapi-api. Lalu karna sudah tidak bisa menahan air mata, Nindi membalikkan tubuhnya dan berlari menjauh.
lidah jakson kelu tak bisa bersuara apapun. Ia ingin mencegah, namun apa yang dikatakan Nindi semua adalah benar. Jakson terlalu egois disini sampai mempermainkan Nindi menggunakan nama pekerjaan.
"Maaf.."Gumam Jakson lirih sekali.
Nindi tergugu ditoilet umum didekat pantai itu.
Ia menangis sejadi-jadinya, rasa sakit bercampur marah menjadi satu didalam dadanya.
Baru kali ini ia merasakan rasanya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dan ternyata begitu sakit sekali jika dirasakan.
"Tuhann... Apa aku tidak boleh bahagia !!! Kenapa cintaku tak terbalaskan lagi Tuhan..hiks..hiks..hiks.." Tangis Nindi menggebu-gebu.
.
.
.