Secret Affair

Secret Affair
Tidak masuk



bab 18


.


.


.


Amara membawa beberapa berkas hingga menumpuk dikedua tangannya. ia telah mempersiapkan beberapa bahan untuk presentasi Jakson sang bos besar besok.


Dengan sedikit kesusahan, Amara mengetuk pintu ruangan Jakson.


balasan dari dalam agar Amara masuk, membuat Amara segera masuk meski cukup sulit membuka pintunya. "Maaf tuan. saya tidak bisa menyapa anda," Ucap Amara


Jakson cukup terkejut saat melihat Amara yang membawa beberapa berkas dalam kedua tangannya.


" Ya ampun Am, seharusnya dibawa dua kali.." tegur Jakson yang segera membantu Amara menurunkan beberapa berkas yang dibawa Amara.


Amara menerbitkan senyum dengan menunduk hormat. " Sekalian saja tuan. maaf merepotkan."


" Kau ini.. " Jakson membawa beberapa berkas ketempat duduknya, ia meneliti beberapa langsung.


" Itu untuk iklan pengembangannya, lalu ini untuk bagan modalnya, ini untuk bahan anda mempromosikannya, em..lalu ini lagi untuk Scan poster dan beberapa iklan terkait lainnya." terang amara menjelaskan satu persatu berkas yang ia bawa.


sudut bibir Jakson terangkat dengan bangga ia mengangguk menyukai kerja Amara yang selalu tepat waktu dan sangat bagus.


" Good Job Am, kau benar-benar bisa diandalkan." Puji Jakson.


" Oh iya, saya ada sesuatu untukmu. sebentar." Jakson meraih sesuatu dari dalam lacinya.


kemudian segera menyodorkannya sebuah amplop kepada Amara.


" ini apa tuan ??" tanya Amara


"buka saja." jawab Jakson seraya terus meneliti berkas yang ada ditangannya.


Amara yang terlihat penasaran segera membuka amplop itu.


Senyum lebar terlihat jelas diwajah Amara kala melihat dua tiket pesawat atas nama dirinya dan suaminya.


" Iya. saya pesankan sekalian untuk suamimu. kata istriku, suamimu kan juga akan pergi keBali. Kau akan berangkat lebih dulu bersama suamimu, karna saya juga sudah pesan tiket sendiri, rencana saya mau mengajak istri saya sekalian liburan." Terang Jakson.


" Terima kasih tuan.. terima kasih.. Suami saya pasti senang sekali.." balas Amara penuh bahagia.


" Iya sama-sama. ini sangat setimpal dengan kerja kerasmu selama ini." Ucap Jakson.


" Kalau begitu saya permisi tuan." Amara undur diri dari hadapan Jakson saat sudah mendapat persetujuan dari atasannya itu.


Diluar Amara berjingkrak ria, "Aku harus memberitau Victor." Ucap Amara yang segera meraih ponsel yang tergantung dilehernya.


Benda pipih itu tertempel sempurna ditelinga Amara. lama panggilan sudah tersambung namun tak dijawab oleh victor.


" Apa dia sedang sibuk ??" Amara bertanya pada dirinya sendiri lalu menghentikan langkah kakinya mencoba menghubungi Suaminya.


Nihil tak ada jawaban. Amara kembali mencoba dan mencoba namun tetap tak ada jawaban. akhirnya Amara menemukan ide.


" Aku hubungi saja Nindi dia kan satu tim dengan victor." Ucap Amara sendiri.


setelah menemukan nomer teman lamanya itu, Amara kembali menempelkan benda pipih itu ditelinganya, hingga suara Nindi terdengar dari benda pintar itu.


" Halo Am, ada apa ?? kau bersama Victor ya ?? kenapa suamimu tidak masuk hari ini ?? Aku sampai kuwalahan Am.." Celoteh Nindi dengan suara paraunya nampak sekali rasa lelah dari suara Nindi yang terdengar.


Amara cukup terkejut dengan kata-kata Temannya itu. "Tidak masuk ?? Victor ?? hari ini dia tidak masuk ??" Tanya Amara memastikan.


" Iya Am. aku sampai harus menghandle pekerjaannya, bahkan laporan berita kemarin juga belum ia buat, Ah. !!! kepalaku sampai mau pecah rasanya."Balas Nindi


Amara mematung dengan degup jantung tak menentu, ia teringat kata-kata Victor sewaktu mengantarnya tadi pagi, jika ia akan meliput berita cukup pagi. tapi kenapa malah tidak masuk ??


Otak Amara sudah mengedar mencari jawaban dari semua keganjalan ini.


.


.


.