
Bab 139
.
.
.
Meski masih dalam keadaan kawatir karna Amara belum membuka matanya, Namun haikal tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang baru saja dikabarkan oleh sang dokter yang memeriksa Amara.
Amara tengah Hamil menurut prediksi dokter tadi. Dan Haikal diminta membawa Amara kedokter Obgyn agar lebih jelas dan detailnya. Tak henti-hentinya, Haikal mengecupi seluruh wajah Amara yang masih terbaring diranjang dengan untaian rasa syukur yang begitu dalam.
Terdengar bel berbunyi dan anak buah Haikal yang memang masih didalam kamar itu segera membukakannya.
"Amara masih didalam ??" tanya Ani tanpa basa basi dengan anak buah suami temannya itu.
"Iya Nona. Nyonya tadi pingsan."Balasnya.
"Apa ??!!" Ani dan sindy terkejut bersamaan.
Mereka berlari masuk hingga sampai dikamar Amara. Mereka bisa melihat Amara yang dibantu duduk oleh Haikal dan tengah minum.
"Kalian kenapa lari- lari ??" tanya Haikal saat melihat dua teman istrinya berlari.
"Em.. Maaf tuan..Kami hanya kawatir pada Amara.."Balas Ani.
"Am.. Katanya kau pingsan ?? Kenapa ?? Kau sakit ??" tanya Sindy saat sudah didekat Amara.
"Entahlah. Aku tidak tau. Tadi aku sempat muntah-muntah, kepalaku juga pusing, Tubuhku tiba-tiba lemah." tutur Amara.
Sindy memicingkan matanya. "Kau hamil lagi Am ??" Sindy tau betul itu tanda-tanda wanita hamil.
"What ???" Amara menatap Haikal yang menyunggingkan senyum.
"kalian pandai sekali menebak. Iya, Amara hamil."Ucap Haikal seraya duduk disisi Amara. "Selamat sayang, Kau akan menjadi ibu lagi dari anak kedua kita.."Haikal memeluk Amara yang masih terkejut tak percaya.
"Benarkah ini ?? Aku.. Aku hamil hubby.. ??!"
"Iya sayang.."
Amara dengan girang memeluk Haikal dengan erat.
Sindy dan Ani turut bahagia. Akhirnya kebahagiaan teman mereka sudah lebih sempurna sekarang.
"Dokter belum bisa memastikan, tapi dia sangat yakin kau sedang hamil. Kita harus kedokter kandungan agar lebih jelasnya."Tutur Haikal.
"wah.. Selamat Am.. Otw anak kedua nih.."Ucap Ani.
"Thanks An.. Kau harus segera menikah, Agar bisa merasakan kebahagiaan ini.."balas Amara.
"Tenang saja.."Timpal Ani.
.
.
.
Hingga waktu yang ditunggu pun akhirnya tiba.
Persalinan Amara yang begitu dinanti banyak pihak membuat Amara begitu semangat, meski bukan kali pertama lagi, namun rasa sakit yang luar biasa harus kembali ia rasakan.
Haikal tak beranjak sedikitpun dari sisi Amara. Ia ingin menjadi suami siaga dengan terus menghujani Amara dengan ucapan doa semangat dan Kasih sayang.
Hingga erangan Kuat terakhir Amara menjadi saksi lahirnya putra kedua Amara dan juga Haikal.
Tangis memekik telinga memenuhi ruangan bersalin itu. Haikal tanpa sadar menitikkan air mata saat bayi mungil mereka berhasil keluar dengan selamat.
"Hubby..."Panggil Amara dengan suara lemah.
Haikal menggenggam kuat tangan Amara seraya menghujani wajah Amara dengan kecupan. "Baby.. Anak kita sudah keluar.. Selamat sayang. Terima kasih.."
Amara hanya tersenyum penuh bahagia.
Ani, sindy dan Nindi yang juga baru hamil melihat bayi mungil yang masih dalam troli bayi itu.
dan jangan lupakan sikecil Gea yang amat senang dengan kelahiran adiknya.

"Nin.. Kau ingin cewek atau cowok ?? Lihatlah, anak Amara tampan sekali.."Ucap Ani.
"Apa saja. Toh aku juga belum punya semua.."balas Nindi.
Ketiganya tertawa lepas bersama.
.
.
Sebagai ungkapan rasa syukur Haikal mengadakan syukuran dirumahnya.
atas permintaan Amara Memang Haikal dan Amara tinggal diJakarta selama Amara hamil sampai melahirkan.
Harrem Friandrigtha.
Pesta meriah berlangsung cukup membahagiakan. Tak ada kesedihan, tak ada lagi air mata, kali ini dan seterusnya hanya akan ada bahagia dan bahagia. Sesuai dengan janji Haikal selama ini.
Amara yang menatap Haikal kala menggendong putra mereka hanya tersenyum penuh rasa syukur.
banyak perjuangan penuh air mata untuk menyatukan dua hati yang dulu sempat terpisah.
" Terima kasih Tuhan.. Meski dulu kami telah melakukan dosa yang begitu besar, ternyata Engkau masih menyayangi kami dengan memberikan beribu kebahagiaan yang begitu nyata.." Batin Amara dengan melipat kedua tangannya.
.
.
.
Tamat.