
Bab 130
.
.
.
Beberapa suapan mendarat sempurna dimulut Miranda. Victor terlihat sangat telaten menyuapi Miranda.
"Aku kenyang Vic.."Ucap Miranda lirih.
" Baiklah. Sekarang minum obatmu ya ??" Balas Victor yang dengan cekatan mengambilkan obat Miranda menyodorkan pada wanita itu dan dengan perlahan victor membantu Miranda membawakan air minumnya.
"Sekarang kau istirahatlah. aku harus bekerja. Tidak lama, aku akan minta waktu jika siang aku akan kembali."Tutur Victor. Yang membantu Miranda untuk berbaring lagi.
Miranda menatap nanar pria yang telah ia hianati. "Kau masih mau merawatku Vic ?? Kenapa ??"
"Kau bicara apa, lalu siapa yang akan merawatmu. Aku hanya berharap kau bisa berubah agar aku bisa percaya padamu lagi."Balas Victor yang meraih tas kerjanya.
"Jangan fikirkan apapun. istirahatlah yang paling penting. Oh ya, tuan Jakson mungkin nanti akan kemari menjengukmu, bersikaplah baik padanya, Karna dia berniat baik menjengukmu sejak semalam."Terang Victor.
Miranda menggangguk pelan patuh. Victor pun langsung keluar ruangan rawat Miranda.
Sebenarnya ia masih tidak tega meninggalkan Miranda. Namun biaya perawatan Miranda tidaklah sedikit, Victor harus memikirkan semuanya.
Dengan langkah pasti, Victor menapaki Lantai rumah sakit menuju pintu keluar.
.
.
Miranda yang cukup bosan memilik mendudukkan kembali tubuhnya.
Ia menatap sekilas kakinya dan seketika Miranda mengumpat. "Sialan !!! Aah...bagaimana bisa aku hidup tanpa kaki begini..."Miranda menutupi wajahnya dengan mengusap hingga kepala.
"Lalu kenapa kau tidak mati saja !!!??" sebuah suara mengejutkan Miranda.
Sontak Miranda langsung menatap kearah pintu.
"Siapa kau ??!!"
Wanita itu hanya menyunggingkan senyum seraya mendekati Miranda dengan tatapan yang begitu tersirat kebencian.
Miranda dibuat ketakutan apalagi saat melihat tatapan wanita itu.
"Kau... Kau.. Yang sengaja menabrakku dan Hadi ??!!" Tanya Miranda dengan wajah syoknya.
"Jangan sebut nama suamiku ****** sialan !!!!" bentak wanita itu dengan tegas.
"Su..suami.. Kau.. Kau.." suara Miranda bergetar hebat menyatu dengan ketakutannya.
"Iya. Aku istri pria yang kau habiskan hartanya !!!. Aku istri pria yang menggagahimu setiap menitnya !!! Aku istri yang telah dihianati habis-habisan oleh pria sialan itu !!! Dan semua karna kau ?!! ****** sialan !! Aku menyesal kenapa malah suamiku yang mati dan kenapa kau tidak !!!!"Wanita itu meluapkan rasa sedih bercampur kesal dan amarah pada Miranda. Bahkan wanita itu sampai menangis hingga menitikan air mata.
Mulut Miranda menganga dengan mata yang juga turut berair.
"Seharusnya kalian mati bersama sesuai hubungan menjijikan kalian itu !!! Tapi kenapa kau masih hidup !!! Aku akan membunuhmu ****** !!!" Wanita itu berlari mendekati Miranda dan mencekik leher Miranda.
"Lepas.. To..uhuk..uhuk... " miranda mencoba melawan. Namun seakan sudah dikuasai iblis, wanita itu terus menguatkan tangan yang mencengram leher Miranda.
"Kau pantas mati !!!" Teriak wanita itu.
"To...lo..ng.."Miranda sudah kesulitan bernafas.
Wanita itu semakin menguatkan cengkraman tangannya.
"Lepaskan dia !!!" Suara barito terdengar yang dengan cepat mendorong wanita itu hingga terperosok kelantai.
"uhuk...uhuk..uhuk.."Miranda terbatuk-batuk seraya memegangi lehernya.
Nindi mendekati Miranda dengan begitu kawatir.
"Kau baik-baik saja ?? Miranda ??" panggil Nindi
Miranda hanya menggangguk dan belum bisa bersuara.
Jakson berjaga dan melihat wanita yang mencekik Miranda mulai berdiri dan langsung berlari keluar.
"Hey tunggu !!!" Jakson hendak mengejar namun ditahan Miranda.
"Janga..n.. Biarkan saja... Biarkan saja..."Cegah Miranda dengan masih terengah-engah.
.
.
.