
Bab 134
.
.
.
Seakan Waktu sedang tak berpihak padanya,Mobil Taksi Yang ditumpangi Victor terjebak macet.
Rasa kawatir dalam diri Victor semakin menjadi, apa lagi saat Ponsel Miranda tak bisa dihubungi.
Victor kalut bukan main. "Ya Tuhan.. Ini bagaimana ??!!"
"Aku hubungi rumah sakit saja."Victor buru-buru mencari nomer telfon rumah sakit dimana Miranda dirawat
Baru saja Victor hendak menekan tombol hijau dilayarnya, sebuah panggilan masuk dari pihak rumah sakit membuat dada Victor bergemuruh hebat. Bahkan tangan Victor bergetar sekali.
Dengan begitu kawatirnya, Victor segera mengangkat panggilan itu.
"Halo.."suara victor nyaris susah keluar dari kerongkongan akibat rasa kawatir yang mendalam.
Suara perawat dari dalam sambungan telfon terdengar ditelinga Victor. Seakan bumi berhenti berputar sejenak kala sebuah kabar mengejutkan didengar Victor.
Ponsel Victor terjatuh begitu saja dengan tatapan kosong dan rasa tak percaya.
.
.
.
Disini. Disebuah pemakaman, Victor terduduk dengan diam didepan sebuah gundukan tanah. Matanya tak lepas sedikitpun dari nisan yang bertulis indah nama Miranda. Sesuatu yang tak pernah Victor bayangkan sebelumnya. Miranda begitu cepat meninggalkan dirinya. Tak ada air mata, Air matanya seolah sudah membeku sejak ia tiba dirumah sakit dan melihat tubuh Miranda yang sudah tidak bernyawa.
Dibelakang Victor, Amara bersama Haikal, Jakson, Nindi, Sindy, Ani dan Danu setia menemani teman mereka yang sedang berduka itu.
Miranda ditemukan meninggal sesaat setelah Victor pergi dari rumah sakit. Laporan dari pihak rumah sakit mengatakan Miranda meninggal karna kehabisan oksigen akibat serangan dari seorang wanita. Dan kini wanita itu sudah diamankan aparat yang berwajib.
Amara yang bisa tau apa yang dirasakan Victor mendekat mencoba memberi kekuatan pria yang dulunya adalah mantan suaminya.
Amara berjongkok disisi Victor seraya berkata. "Tuhan lebih sayang dia. Kau jangan terlalu bersedih, dia pasti tidak mau kau bersedih seperti ini.."
"Dia sudah akan berubah Am..Dia bilang setelah sehat akan menemuimu dan meminta maaf darimu.. Kau tau, Mendapat maaf dari Jakson saja membuat dia begitu bahagia.. Kenapa Tuhan tidak memberinya sedikit waktu agar bisa meminta maaf padamu.."Balas Victor.
"Kau tenang saja.. Aku sudah memaafkan dia."Ucap Amara.
"Mir.. Amara sudah memaafkanmu. Tenanglah, Kau sudah tidak terbelenggu rasa berdosa lagi.."Victor berucap demikian seraya mengusap Nisan Miranda.
Haikal turut berjongkok disisi Victor. Ia menepuk pundak teman lamanya itu. "Kuatkan hatimu kawan."
Victor nampak tertunduk dengan berusaha menahan air mata yang akan terjatuh.
"Menangislah. Tidak apa-apa. Sesekali pria juga boleh menangis."Tambah Haikal.
Tangis Victor benar-benar pecah
Dalam sandaran Haikal. Haikal membiarkan Victor menumpahkan kesedihannya dalam dekapannya. Haikal terus mengusap punggung Victor memberi kekuatan. Amara pun juga menepuk lembut pundak Victor untuk memberi dukungan moral.
Sindy dan Ani juga tak sadar turut menitikkan air mata melihat kejadian mengharukan dihadapan mereka.
"Meski dia wanita menjengkelkan kenapa aku jadi kasihan padanya..hiks..hiks.."Ucap Sindy.
"Iya.. Dia harus meninggal karna dibunuh. Seharusnya dia bertobat dulu, Menyesali semua kesalahannya..."Tambah Ani.
"Kalian ini bicara apa sih ??!! Jangan sembarangan dong !!" Tegur Nindi.
"Miranda sudah berniat merubah diri dan semuanya. tadi pagi saat aku menemuinya aku bisa melihat ketulusan dari sorot matanya itu."Tambah Nindi yang masih ingat percakapan mereka.
Jakson merengkuh pundak Nindi. "Jangan sedih. Kita iklaskan saja dia.."
Nindi menggangguk pelan dan menyandarkan kepalanya didada Jakson.
.
.
.
This ending ya men-temen..
Hampir tapi 😁😁😁
.
.
.