Secret Affair

Secret Affair
Karyawan baru



bab 79


.


.


.


Miranda tengah sibuk dengan laptopnya. meski sekretaris hanyalah sebuah formalitas guna menutupi hubungan gelapnya, Miranda tetap bekerja dan menghandle pertemuan Hadi sang atasan.


Pelukan dari belakang membuat aktivitas Miranda terhenti.


"Apa baru kerja saja kau sudah mau lembur ??" tegur Victor.


"Mau bagaimana lagi. aku harus menyalin jadwal atasanku malam ini. besok jika dia tanya aku kan bida langsung menjelaskan." balas Miranda seraya menengadah.


"Kau begitu bersemangat sayang.." Kecupan hangat mendarat dikening Miranda.


"Thank's Vic.."


"Mir.." panggil Victor.


"Emm.."


"Bagaimana jika kita menikah ??" Victor menuju telinga Miranda. "Aku ingin punya anak darimu."bisik Victor.


Sontak senyum Miranda luntur seketika bersamaan dengan aktivitasnya. "Kenapa tiba-tiba menikah ??"


"Ya.. aku hanya mau menjalani kehidupan normal denganmu Mir. kita tinggal bersama tanpa ikatan, bibimu bahkan sudah menyarankan akan hal ini." terang Victor.


"Tapi aku belum siap Vic..Bahkan aku masih mau meniti karir."Tolak Miranda dengan jelas.


Victor melepaskan dekapan tangannya. "Kita sudah sama-sama tua Mir..Usia kita sudah tidak muda lagi..Karir bisa kau capai meski kita sudah menikah ?!!!"


"No !! Itu salah besar. karirku akan langsung meredup jika aku sudah memiliki pasangan resmi."


Victor tak habis fikir dengan pemikiran istrinya. "Maksudmu apa ?? Kau malu punya suami aku !!?"


"Bukan begitu. kita logikakan saja. Aku tidak mau jika kita menikah lalu aku diberhentikan dari statusku sebagai sekretaris. Syarat menjadi sekretaris djhotel itu adalah termasuk wanita yang masih lajang Vic.."tutur Miranda.


"syarat macam apa itu ??!!" Victor mula emosi.


"Stop mengintrogasi aku Vic !!!" balas Miranda tak kalah keras


Tak ingin semakin termakan emosi, Victor memilih keluar dari kamar saja.


Sementara Miranda hanya membuang nafas perlahan lalu kembali duduk.


.


.


.


Atas arahan rekan kerjanya, Victor diantar dimejanya, yang berjajar dengan rekan lainnya.


"Terima kasih ya.. perkenalkan aku Victor.." Victor menjabat tangan rekan kerjanya.


"Aku Yusuf. semoga kita bisa menjadi tim yang hebat." balasnya.


Victor menggangguk dan lansung duduk. ia meneliti sekeliling dimana. banyak staf bawah seperti dia.


"Aku tidak menyangka Bandit itu bisa sesukses ini.."gumam Victor seraya menyeringai.


Tak lama terdengar suara hentakan hieels serta suara sapaan dari karyawan wanita yang berpapasan.


"Pagi Nona. anda cantik sekali.." puji salah satu karyawan wanita ketika bertemu Amara


"Kau juga cantik.. berhenti memanggilku cantik kalau tidak kau akan aku pecat.." canda Amara


Suara yang sejak tadi Victor cari, terdengar hingga dengan cepat Victor mencari sumber suara itu.


Sudut bibirnya terangkat saat melihat Amara yang sedang tersenyum ramah dan mengobrol dengan karyawan wanita.


Tanpa ragu Victor mendekati Amara dan menyapanya. "Amara.."


semua menoleh melihat Victor yang begitu berani memanggil nama direktur keuangan dikantor itu. Amara tak kalah terkejut, bagaimana bisa pria yang begitu ingin sekali ia hindari ada dihadapannya.


"Hey kau anak baru ya.. tidak sopan sekali !! dia ini direktur keuangan disini panggilnya yang sopan dong !!!" tegur salah satu karyawan.


"Kau !!? Sedang apa kau disini ??!!" tanya Amara dengan wajah tak suka. bahkan senyumnya luntur seketika.


"Maaf Nona.. dia ini karyawan baru disini. jadi pasti belum mengenal Nona. "karyawan wanita yang bersama Amara menjelaskan.


"Karyawan ??? baru ?!!" Amara begitu terkejut.


"Iya Am. kita akan bekerja bersama.." balas Victor tanpa ragu.


Amara membuang tatapan kearah lain seolah tak percaya pada takdir. bagaimana bisa mereka akan bekerja dalam satu kantor.


.


.


.