
Bab 104
.
.
.
Amara dan Sindy baru saja tiba dirumah sakit. Tujuan mereka adalah kamar rawat Nindi dimana Ani yang ditugaskan berjaga semalaman.
Baru saja Tiba Didepan kamar Nindi, Ani yang ternyata berada didepan pintu mondar-mandir mencegah Amara dan Sindy bersuara.
"An..-"
"Shutt !! Ayo.. Ayo.. Kita menjauh sedikit.."Ani buru-buru menarik tangan Amara dan sindy.
"why ???" Tanya sindy.
"Shuutt !! Pelankan suaramu.. Nanti aku jelaskan.."Ucap Ani selirih mungkin. Lalu ia kembali membawa dua sahabatnya itu menjauh.
.
.
"Sebenarnya ada apa ??" tanya Amara saat mereka sudah sedikit jauh
"Tuan Jakson sedang bicara serius dengan Nindi. Kalian tau, ternyata selama ini Nindi memendam rasa pada tuan jakson.."Celoteh Ani penuh dramatis.
"What ??!!" Sindy begitu terkejut. Amara apa lagi. Ia sama sekali tak menyangka dengan semua yang didengar
"Kau.. Kau tau dari mana An ??!!" Tanya Sindy buru-buru.
"Tadi pagi sekali aku berniat mencari sarapan. tapi dompetku tertinggal. Dan saat aku kembali ternyata Tuan jakson ada didalam. Dia tengah minta maaf pada Nindi."Tutur Ani.
"Kau menguping ??!!" Terka Amara.
"Ya mau bagaimana lagi.. Tuan jakson menemui Nindi diluar sepengetahuan kita, aku kan jadi penasaran ?!!" Timpal Ani.
"Oh.. My good...Nindi.. Kenapa harus tuan jakson.."Ucap Sindy.
"Aku sudah yakin sejak kemarin jika Nindi tidak baik-baik saja fikirannya.."Tambah Amara
"Tapi please.. Jangan menanyakan hal ini pada dia. Kita tunggu sampai dia pulih dan bersedia membicarakan sendiri pada kita. Bagaimana ??" Tawar Ani.
"Ide bagus. Lagian itu kan kehidupan pribadi dia. Kita tidak berhak ikut campur."tambah Amara.
"Tapi jika tuan Jakson menolaknya kan kasihan Nindi Am.."Timpal Sindy.
"Dia akan bercerita dengan sendirinya nanti. Sudahlah, kita kesana saja. Pura-pura biasa dan seolah tak tau apa-apa." ajak Amara.
"Kau yakin ???" Ani memastikan.
Amara menggangguk. "sudah. Ayo.." Amara melangkah lebih dulu lalu kemudian diikuti Sindy dan juga Ani.
.
.
Tok
Ceklek...
"Pagi..." sapa Amara.
Nindi terperajak kaget saat Wajah Amara terlihat didepan pintu. Begitupun dengan jakson yang tak menyangka akan bertemu wanita idamannya disana.
"Oh.. Ada tuan Jakson. Maaf tuan saya tidak tau.."Amara buru-buru menunduk memberi salam.
"Biasalah Am. suamimu kan rekan kerjaku.."balas Jakson dengan berusaha terlihat biasa.
Amara hanya tertunduk tanpa mau menatap jakson.
"Ka..kalian sejak kapan disini ??" tanya Nindi ragu-ragu.
"Baru saja Nin.. Tadi ketemu Ani drestoran depan. Aku mencegah dia beli makanan, soalnya aku sudah masak banyak."tutur Amara.
"Iya Nin.. Masakan Amara macam-?macam. Kau pasti suka.." tambah Sindy.
"Kenapa tidak bilang dari tadi ?? Aku kan bisa mengicipi ?!!" timpal Ani.
"Em.. Kalau begitu saya pergi dulu Nin..teman-temanmu juga sudah datang."Pamit Jakson.
"eh !! tuan tidak sarapan sekalian. ??" Tegur Ani.
"No.. Thank you..saya harus menemui klien pagi ini."balas Jakson lagi yang kemudian segera keluar karna tak enak lama-lama disana. Semua wanita hanya bisa menatap kepergian Jakson yang sudah tak terlihat tubuhnya.
"Nin.. Kau mau makan apa ?? Lihatlah, Amara bawa banyak makanan ??" tawar Ani.
"Am.. Kau seharusnya tidak perlu repot begini.."ucap Nindi.
"Kau bicara apa Nin.. Tidak ada yang repot kok.."7Timpal Amara.
"Seharusnya kalian bisa menikmati masa libur, tapi harus terganggu karna aku" gerutu Nindi.
"Berhenti bicara dan buka mulutmu ?!!" Amara menyendokkan makanan disendok penuh.
"Am..." rengek Nindi berusaha menolak.
"Come on girl..jangan membuat malu dirimu sendiri.."Ucap Amara menggoda temannya itu hingga menimbulkan gelak tawa Ani dan Sindy.
.
.