
bab 77
.
.
.
Hingga sampai diluar kantor, Victor tak menemukan Gea maupun Amara. Ia terus mengedarkan mata berusaha terus mencari. " gea.. kau dimana nak ??" Gumam Victor.
.
.
Dikantor megah lain, Miranda membenahi pakaiannya. entah mengapa Miranda rela melakukan hal tak baik hanya demi sebuah jabatan kerjaan.
Selesai membenahi bajunya, Miranda kembali melayangkan tatapan genit kearah pria gendut yang mengusapi peluh diseluruh wajahnya akibat pergulatan panas mereka barusan.
Dengan langkah centilnya, Miranda menuju pria itu dan duduk dipangkuannya. "Jadi, Jabatan apa yang akan kau berikan Hadi.."
"Kau mau jabatan apa baby ?? Aku akan berikan sesuai kemauanmu. karna aku bukan Jakson.." Balas Hadi, pria gendut yang dulu adalah rekan kerja Jakson, tak lupa tangan nakalnya bergerilya dibalik kemeja Yang dikenakan Miranda dan berlabuh dipegunungan Miranda yang memang besar menantang.
Miranda mendesah lirih seraya Menggigit bibir bawahnya dan memejamkan mata saat rasa geli bercampur nikmat ia rasakan.
Hadipun terkekeh saat melihat reaksi Miranda. "Kau sangat hebat baby.. bagimana jika kau menjadi istri ketigaku ?? kau tidak perlu lelah bekerja seperti ini ??"
"Ketiga ?? bahkan kedua saja aku tidak mau..aku harus yang pertama."balas Miranda dengan nakal.
"Kau egois sekali ya ?? tapi aku sangat suka.." Timpal Hadi
"Jadi jabatan apa sebagai bayaran olah raga barusan ??" Tanya Miranda lagi.
"Manager pengembangan. bagaimana ??" Tawar Hadi.
" Kenapa rendah sekali.."
"Lalu ??"
"Aku mau menjadi sekretarismu saja." Miranda bergelayut manja.
Hadi terkekeh lalu memgecup pipi Miranda. "Apapun itu baby.."
Miranda terlihat girang, hingga tanpa segan ia memeluk leher Hadi dengan manjanya. "Thank you baby.."
.
.
"Hey... kok ngambek begitu ?? katanya tadi ikut kekantor mau ketemu Daddy ??" Amara mencoba Membujuk Gea yang masih nampak cemberut duduk diruangan Dimana Amara bekerja.
" Tapi aku kesal sama papi !!!" Balas Gea.
Amara mengembangkan senyum dan berpindah duduk dihadapan Gea. "Lihat mommy" Amara mulai bicara. patuh, Gea menurut.
"Kesal boleh. marah juga boleh. tapi Gea tidak boleh benci sama Papi. papi tetap papinya Gea, sampai Gea dewasa pun papi tetap walinya Gea." Nasehat Amara.
" Tapi Bagaimana dengan mommy ??" tanya Gea dengan polos.
" Mommy tidak apa-apa sayang.."Amara memeluk Gea dengan erat.
" Ya sudah. lain kali Gea tidak seperti itu lagi."Balas Gea.
.
.
.
Haikal juga mencari keberadaan Amara dan Gea. Haikal tau betul bagaimana watak Gea yang jika sedang marah. Seakan sudah tau, kebiasaan Gea jika marah, Haikal menuju ruangan kerja Amara.
helaan nafas lega terdengar dari Haikal saat sudah didepan pintu ruangan Amara.
"Boleh daddy masuk ??" Suara barito Haikal terdengar.
Gea langsung menoleh kearah pintu, senyum pun segera terbit dan dengan seketika Gea turun dari duduknya dan berlari menghambur memeluk Haikal.
"Daddy !!"
" Anak Daddy marah ceritanya ?? kok cantik-cantik gampang marah ??" Goda Haikal yang masih memeluk Gea.
"Tidak marah Dad. hanya mau diam saja !!?" protes Gea.
Amara yang mendengar obrolan Haikal dan Gea hanya terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.
"Jadi masih mau marah ??" Haikal menatap lekat Gea
Gea segera menggeleng. " No dad.. I'm hungry"
"Are you sure ?? ok. mau makan apa ??" tawar Haikal dengan senang hati
"Em..."Gea mencoba berfikir.
"tidak ada makan diluar ya, Mommy sudah bawa makan siang."Timpal Amara.
"Mommy !! mau makan diluar saja !!" rengek Gea.
"Tapi mommy sudah masak banyak sayang.." ucap Amara
"sudah.. sudah.. jangan berdebat. Kita makan diluar."Haikal penuh semangat.
" Yeeee !!!!" Gea terlihat sangat girang.
Amara menggelengkan kepalanya seraya menatap Haikal, namun hanya jawaban anggukan yang diberikan Haikal padanya.
.
.
.
.
Pada kefoo ya kok manggil Daddy ??
😁😁😁
.
.
.