
bab 40
.
.
.
Pagi sudah tiba. Amara sudah bersiap dengan setelan kerjanya. kali ini ia akan mengunjungi tempat dimana produk yang ber sumber ide darinya akan diluncurkan. sungguh benar-benar sebuah keajaiban.
Didepan cermin Amara membenahi penampilannya. Hingga saat Victor baru selesai berganti pakaian langsung memeluk Amara dari belakang.
" Kenapa kau selalu cantik.. aku sampai was-was kalau jauh darimu.." Ucap Victor seraya bergelayut dipundak Amara.
" Ini semua juga karna doa darimu.. terima kasih dukungannya Vic.." Balas Amara.
Victor menggangguk seraya memejamkan mata. "Aku masih sangat mengantuk."
" Memang semalam kau pulang jam berapa ??" tanya Amara yang melepas dekapan Victor.
" Entahlah. anak-anak melarangku langsung pulang.."jawab Victor sekenanya
Amara hanya menggeleng pelan. " ya sudah. aku jalan duluan ya ?? pertemuan kami pagi ini."
" Iya. aku juga akan mulai bekerja. mungkin aku sampai disini sedikit malam sayang, soalnya liputanku agak jauh dari sini." terang Victor.
" benarkah ?? hati-hati ya.. beri aku kabar jika kau akan pulang malam." Ucap Amara yang mengecup pipi Victor . lalu segera keluar, karna ia sudah sangat terlambat.
Jakson juga sudah keluar dari kamarnya. hari ini suasana hatinya sedikit tidak nyaman. sejak semalam Ia begitu menginginkan Miranda, namun Miranda berkilah jika tamu bulanannya belum usai. Meski cukup kecewa, tapi apa boleh buat. Dan pagi ini Miranda mengatakan jika dirinya tengah tidak enak badan dan akan tidur dikamar seharian, Namun yang membuat fikiran Jakson memutar adalah bekas kissmark dileher Miranda lagi. jika diingat sudah dua kali Jakson melihat tanda itu. Jakson bingung akan bertindak bagaimana, sementara dirinya tidak suka membuat tanda seperti itu saat bercumbu dengan Miranda.
Karna berkutat dengan fikirannya, Jakson sampai tidak mendengar sapaan dari Amara. bahkan Pagi itu jakson menggunakan kaca mata agar gurat kegudahannya tak terlihat.
Jakson
" Apa suaraku kurang keras ?? tuan Jakson tidak mendengarnya..?" gumam Amara yang memilih berlari kecil agar bisa mengimbangi langkah Bosnya.
" Tuan.!!!" tegur Amara saat sudah dekat, suaranya yang cukup keras membuat Jakson langsung terperajak.
" Am !! Kau megejutkanku !!?" Balas Jakson dengan Mengatur nafasnya.
"benarkah ?? Huh.. ya sudah. ayo."jakson melanjutkan langkah kakinya, begitupun dengan Amara.
Didepan apartemen, Sebuah mobil mewah sudah terparkir dan siap menjemput Jakson dan Amara.
" Tuan pesan mobil ini ??" tanya Amara.
" Bukan. tuan Haikal yang mengirimnya. mobil ini khusus untuk mengantar dan menjemput kita."Jawab Jakson singkat.
Amara terdiam.langsung dan turut masuk.
Gedung besar tinggi menjulang, layaknya sebuah aula yang megah nuansa Elegan dan Sangat mewah disuguhkan dihadapan Amara dan Jakson.
Amara sampai dibuat takjub dengan gedung yang katanya hanya sebuah aula itu.
" Tuan. yakin produk kita akan diluncurkan disini ??" Tanya Amara
" Iya. aku tidak menyangka tuan Haikal sekaya ini." Balas Jakson yang turut takjub.
Amara langsung menatap bosnya dengan terkejut. "Ini milik Haikal ?? em.. maksudku tuan Haikal ??!"
" Iya Am. ini salah satu properti tuan Haikal. setau saya. ayo masuk.." Ajak Jakson yang segera melangkah lebih dulu.
Amara masih mematung tak percaya. Kepergian Haikal tanpa kabar dulu ternyata memgumpulkan pundi-pundi uang seperti ini ??
" Anda tersesat Nona Amara ??" tegur sebuah suara dari belakang Amara.
Seketika Amara menoleh dan tak enak hati sebab yang ia fikirkan ternyata sudah dibelakangnya. Entah apa karna Amara yang termenung terlalu lama, atau karna memang hati mereka masih menyatu ??
" Maaf tuan. saya hanya kagum dengan gedung milik anda ini." Amara tertunduk memberi salam.
Haikal menerbitkan senyum seraya melangkah mendekati Amara. "Siapa bilang ini milikku ?? kita sama-sama tamu. ayo masuk bersama." Ajak Haikal.
Amara pun menjadi salah tingkah dan tanpa sadar menggangguk menurut.
Haikal pun segera melangkah diikuti beberapa rekannya. Sementara Amara pun segera mengekor saja.
.
.