
bab 107
.
.
.
Setelah mengantar Nindi kembali kehotel, Amara bersama Sindy dan Ani juga harus kembali Kerumah. Sebab Setelah magrib Sindy dan Ani serta keluarganya akan kembali keJakarta.
Tiba dirumah wajah ketiga wanita itu sedikit ditekuk hingga membuat dua pria yang sudah ada dirumah sedikit keheranan.
"Kalian kenapa ??" tegur Danu.
"Diamlah !! baju-baju sudah kau siapkan belum ?!!!" sentak sindy.
"Tentu saja sudah."balas Danu.
"Aku siap-siap juga ya.."Ani melenggang menuju kamarnya.
Sementara Amara dan sindy memilih duduk.bersama Pria mereka.
"Nindi sudah sehat ??" Danu membuka suara lagi.
Sindy membuang nafas dengan kasar. "Iya. Tapi dia ngotot tidak mau kembali bersama kita. Aku sendiri heran sekali."
"Mungkin dia sedang ingin sendiri."timpal Haikal.
"Dia sedang tidak baik-baik saja Haikal..hatinya sedang rapuh " Balas Amara
"Tapi setiap orang punya privasi sayang.. Kita tidak boleh memaksakan keinginan seseorang.."Nasehat Haikal.
"Betul kata tuan Haikal..Biarkan dulu dia menenangkan fikirannya, setidaknya kita jangan semakin memojokkan dia."tambah Danu.
"3 hari bersama Tuan Haikal kau tambah pintar Suamiku.."puji Sindy.
Danu tersenyum dengan bangga.
"Anak-anak dimana ??" Tanya Amara saat sadar sejak tadi tidak melihat putri kecilnya.
"Mereka kelelahan dan tertidur."balas Haikal.
"Biarkan saja. Toh penerbangannya kan masih nanti."Tambah Danu.
.
.
Waktu keberangkatan Sindy dan suami serta Ani pun tiba. Karna Gea belum bangun Amara terpaksa tidak ikut mengantar Kedua sahabatnya itu. Pelukan pelepasan diberikan amara pada Sindy dan Ani.
"Kami pulang dulu ya.."Pamit Anindan Sindy.
"Iya. Kalau cuti lagi main kemari ya ??" Ucap Amara
Amara hanya tersenyum tipis.
"Tuan Haikal terima kasih sudah menampung kami, bahkan memberikan semua fasilitas kepada Kami, Semoga rencana pernikahan anda bersama Amara lancar sampai hari yang anda tentukan."Ucap Sindy berpamitan.
"Iya terima kasih kembali."Balas Haikal dengan singkat.
Danu lebih dulu masuk kedalam mobil karna Fia masih terlelap dalam gendongannya. Dan kemudian disusul Sindy dan Ani.
Lambaian tangan mengiringi mobil yang mulai berjalan itu.
"jangan sedih.. Masih ada aku kan disini.."Goda Haikal seraya merengkuh pinggang Amara.
"Cih.. jangan senang dulu, Besok aku akan kembali juga kerumahku."Balas Amara yang memutar tubuhnya masuk.
"Hay siapa yang memberimu ijin pergi dari sini !!?" Cegah Haikal.
"Memang kau siapa melarangku ??!" Ejek Amara
"Awas kau ya !!" Haikal berlari mengejar Amara.
"Haikal !!!" Amara segera menghindar dengan berlari pula. Namun nyatanya langkah kaki lebar Haikal sudah bisa mengejar dirinya.
"Aahhh !!!" Amara didekap Haikal dengan erat.
"Sekarang kau tidak bisa kabur lagi calon istriku."Bisik Haikal.
Sumpah itu sangat geli sekali bagi Amara.
"Kau fikir aku tahanan apa ?!!" seraya menghindari deru nafas Haikal yang menempel ditelinganya.
"Iya. Kau tahanan Hatiku. Dulu kau sempat terlepas. Tapi kali ini tidak akan lagi." Tanpa diduga Haikal menggendong Amara layaknya bridestyle. Amara pun begitu terkejut saat tubuhnya melambung diudara. Reflek kedua tangan Amara langsung mengalung dileher Haikal.
Sunggingan senyum Haikal bisa dilihat Amara
"Haikal.. Kau tidak malu, banyak pelayan yang melihat.."ucap Amara saat sadar ada prlayan yang melintasi mereka.
"Apa kau lihat merekanmenatap kita ??" balas Haikal.
Dan benar saja. Para pelayan itu hanya menunduk dan tak berani berkomentar.
" Lalu aku mau kau bawa kemana ??!!" tanya Amara lagi.
"Tentu saja kekamar tidur." balas Haikal dengan mudah.
Mata Amara seketika membulat. "No !!!!"
.
.
.