
bab 74
.
.
.
Miranda kembali kelosmen dengan wajah kusut dan kesedihannya. ia tak menyangka jika Mantan suaminya sudah cepat berpaling darinya.
Hingga tiba dikamar Miranda masih dengan wajah lusuhnya.
Victor yang sedang beristirahat menatap Miranda yang cemberut dan nampak sedih.
Victor tak lupa melirik Kantong makanan ditangan Miranda.
"Ada apa ?? kenapa masih cemberut ?? Bahkan kau sudah beli makanan sebanyak ini.."Tegur Victor saat melihat Miranda meletakkan kantong makanan dihadapannya.
Tatapan tajam dilayangkan Miranda. "Memangnya kenapa ?? mau protes lagi ??!!!" sentak Miranda dengan cepat
"Aku kan hanya bicara fakta. Kenapa marah ??"
" Diamlah !!! aku mau tidur !!!" Miranda langsung merebahkan tubuhnya dan memilih menghadapkan wajahnya kesisi lain.
Victor dibuat keheranan dengan sikap Miranda. ia tak mau ambil pusing dan memilih membuka kantong makanan Yang dibawa Miranda.
Mata Victor membulat bak bola saat mengetahui semua isi didalam Kantong itu. " Ya ampun Miranda..Dia mau mengosongkan ATM ku ??!!"
.
.
Didalam mobil Jakson keheningan begitu terasa semenjak keluar dari kedai makan tadi, Nindi tak berani berkata apapun.
"Nin. maafkan saya yang menjadikanmu alasan. saya hanya tidak mau mantan istri saya bertindak aneh lagi. apalagi status kami yang sudah bercerai." tutur Jakson dengan tulus.
" Iya tuan saya mengerti."Balas Nindi. sedikit kecewa, namun apalah dayanya. selama 1 tahun dekat dan bekerja dengan jakson Nindi memendam rasa suka pada atasannya itu. namun Seakan tembok besar sudah dibangun Jakson, Tak ada sesuatu yang menggambarkan Jakson untuk tertarik dengannya.
"Oh ya.. kau ada kabar tentang Amara ?? dia sebenarnya dimana ??" Tanya Jakson memecahkan kesunyian lagi.
"Dia baik tuan. tapi maaf untuk dimananya saya tidak bisa memberitau."Balas Nindi.
" Amara begitu menjaga jarak ya ?? padahal saya tidak pernah menyalahkan dia." ucap Jakson dengan penyesalan.
" Iya."balas Nindi singkat.
"Tuan.jakson sepertinya masih menyimpan rasa untuk Amara.. oh..Nindi sadarlah.." batin Nindi
.
.
Miranda yang baru selesai mandi segera mencegah Victor yang hendak pergi.
"Vic tunggu dulu !!" cegah Miranda.
"Ada apa ?? aku harus cari kerja lagi. siapa tau hari ini aku bisa dapat kerja."Balas Victor.
Miranda menarik Victor untuk duduk. "bagaimana jika kita pindah keluar kota ??"
" Pindah ?? kemana ?? Uangku tidak banyak Mir, disana akan bagaimana trmpat tinggal kita. jangan aneh-aneh" balas Victor.
"Vic. jika diluar kota tidak ada yang mengenal kita, Kau akan mudah mencari kerja, begitupun dengan aku. entah skandal atau status kita tidak akan ada yang peduli, kecuali pengalaman kerja kita."Terang Miranda.
Victor setia mendengarkan.
" aku punya Bibi diLuar kota. sementara kita belum dapat uang untuk mencari rumah kita bisa tinggal dirumahnya. bagaimana ??" tambah Miranda.
Victor mulai memahami ajakan Miranda, dan ada benarnya juga.
"Tapi kau kan sudah lama tidak menghubungi apalagi memgabari mereka ?? apa mereka mau menampung kita ??" Tanya Victor lagi.
"Bibiku sudah tua. ia hidup sendiri hanya bersama pengasuhnya. tidak akan seperti itu juga."
"Dimana bibimu tinggal ??"
" Jogja."
.
.
Karna uang yang menipis Victor dan Miranda terpaksa naik Kereta api, bahkan dikelas ekonomi.
Sepanjang perjalanan Miranda banyak sekali mengeluh, hingga terkadang menimbulkan adu cekcok dengan penumpang lain.
Victor yang lelah hanya memejamkan mata tanpa mendengar ocehan Miranda yang terus mengeluh itu.
.
.
.