
Bab 129
.
.
.
Lain cerita dikamar Pengantin yang semalam merasa canggung, kini malah pagi yang cerah harus mereka awali dengan berolahraga ranjang penuh hasrat.
Penyatuan entah yang keberapa kali Dilakukan Amara dan Haikal hingga keduanya terkulai lemas setelah saling melepaskan satu sama lain.
"Kau benar-benar mau membunuhku Haikal.."Ucap Amara dengan nafas tersengal-sengal.
Haikal memiringkan tubuhnya dan menjadikan Tangan sebagai tumpuan. "Tapi kau menyukainya kan ?? Bagaimana ??"
Wajah Amara memerah lalu dengan cukup kuat ia memukul dada Haikal. "Kau...jangan seperti itu..."
Haikal tertawa lepas lalu dengan cepat menarik Amara dalam dekapannya. "Kau tau, tidurku semalam begitu nyenyak sekali.. Aku tidak pernah tidur senyenyak ini biasanya.."
"Benarkah ?? Apa hubungannya ??" Tanya Amara dengan menatap suaminya yang tubuhnya terlihat begitu kekar dan perkasa itu.
"Tentu saja karna bersama kau sayang.. Masa tidak tau.."timpal Haikal.
"Bukan karna kau berhasil menggagahiku semalaman ??" Balas Amara sekenanya.
"Itu juga termasuknya.."Ucap Haikal yang membuat Amara mencubit perut Haikal.
"Awww !!! Jangan menggodaku lagi baby..Nanti kalau dia bangun berbahaya.." Canda Haikal.
"Bagaimana mungkin hanya dicubit diperut malah dia yang bangun !!!??" Timpal Amara dengan wajah begitu lucu.
"Namanya dia normal, dan lagi sekarang dia sudah bersarang, makanya sensitif sekali.." jawab Haikal tanpa malu.
"haisss bicara denganmu terus aku bisa gila !!" Amara hendak beranjak dari tempat tidur, ia menggulung selimut guna menutupi tubuh polosnya.
"Aaakkhh !!!" Pekik Amara
"Kenapa sayang ??" Haikal langsung mendekati Amara.
Amara segera menggeleng. "Tidak apa-apa.. Ini aneh sekali, bahkan aku pernah melahirkan sebelumnya, tapi kenapa rasanya sesakit ini.. Kau benar-benar brutal.."Gerutu Amara Yang melangkah perlahan menuju kamar mandi.
Haikal hanya bisa tersenyum menatap Istrinya berjalan layaknya penguin kekamar mandi. Tak ada ucapan lain selain rasa syukur atas kebahagiaan yang begitu ia harapkan kepada sang pencipta.
.
.
Ceklek...
Victor memasuki ruangan Miranda bersamaan dengan perawat yang akan keluar.
"Sudah diperiksa ?? Bagaimana sus kondisi dia ??" tanya Victor.
"Sudah mulai membaik tuan.. Tolong Nona dibantu untuk makan dan meminum obatnya ya ??" Balas suster itu.
"Baiklah.. Terima kasih.."Victor menjawab dengan ramah.
Perawat itu segera keluar. Sementara Victor terus masuk mendekati Miranda yang terus menatap kearah lain.
Victor meletakkan kantong bawaannya diatas meja nakas. "Kau belikan Nasi goreng dan Ayam kesukaanmu, kau mau makan ??" Tawar Victor.
Hening, Miranda tak mau menjawab.
"Mau sampai kapan kau merutuki semuanya ?? Kita hanya bisa menjalani Mir, Semua takdir Tuhan.."Ucap Victor mengingatkan.
"Aku bukakan ya ?? Nanti aku suapi.."Victor membuka makanan yang ia bawa. Menyiapkan semuanya dan siap menyuapi Miranda.
"Buka mulutmu.."Pinta Victor seraya menyodorkan sendok kearah Miranda.
Miranda menatap Victor dengan mata yang sudah berair. Ia malah menangis lagi dan lagi.
"Miranda.. Berhentilah menangis.. Air matamu bisa habis nanti.."Hibur Victor.
Miranda masih terus sesenggukan dengan menangkupkan kedua tangan menutupi wajahnya.
"Miranda.. Kau harus segera makan dan minum obat. Apa kau betah disini terus ??" Lagi Victor mencoba membujuk.
"Aku.. Aku.. Malu Vic.."tangis Miranda pecah kembali.
Victor mengusap punggung Miranda dan membawa wanita itu dalam pelukannya. "Jangan fikirkan hal lain.. Fikirkan sekarang kau harus cepat sehat dulu.."
Miranda terus menangis pilu dan pilu. Ia bahkan tak mampu bicara walau hannya sekata saja. Mungkinkah dia sudah menyesali semuanya ??
.
.
.