
Bab 90
.
.
.
Mata Sindy dan Ani termanjakan kala melihat rumah megah milik Haikal. Bukan lebih tepatnya istana.
Amara beberapa kali menatap Haikal yang ada disisinya, namun Haikal seolah tak begitu menggubrisnya.
Mobil dihentikan Haikal tepat didepan pintu masuk rumah itu setelah mereka melewati halaman yang amat luas.
"Em.. Am..This your Home ??" Ani ragu-ragu bertanya.
"tentu saja. Mari silahkan turun." balas Haikal dengan cepat.
Ani dan sindy pun terlihat segera turun.
"Haikal.. Apa-apaan kau ini !! Kenapa berkata seperti itu !?? Aku jadi seperti membohongi mereka !!!?" Tegur Amara saat memastikan dua temannya sudah turun.
Haikal menghadap Amara dan menatap wanita dihadapannya dengan serius. "kau tau kan aku bukan pria romantis. Tapi kau mau bukti. Dan beginilah aku membuktikan kesungguhanku. Mau atau tidak 2 bulan dari sekarang kita akan menikah."
Amara seolah tak percaya dengan apa yang didengar. "Hah..Haik..-"
" Kau tinggal menjawab saja Am. Aku serius akan hal ini. Kau bilang aku tidak boleh main-main kan tentang sebuah hubungan." Terang Haikal dengan sungguh-sungguh.
Amara terdiam seketika. Ia ingin bahagia. Namun rasa kesal karna dipermainkan Haikal masih saja ada didalam hatinya.
Tak menjawab lagi, Amara segera turun dan menghampiri kedua sahabatnya.
"This your Home ?? Are you sure Am ???" Sindy masih tak percaya. Satu tahun saja mereka tidak berkunjung rumah Amara sudah berubah.
Baru saja Amara hendak membuka suara Haikal lebih dulu mempersilahkan.
"Kalian pasti lelah. Ayo masuk, jangan sungkan disini. Tuan..-" Haikal menghentikan ucapannya saat hendak berkenalan dengan suami Sindy.
" Saya Danu."
" Ok.. Tuan Danu.. Mari.." haikal.menggiring Danu masuk terlebih dulu.
"em.. Sayang, kau ajak mereka beristirahat juga ya.." Ucap Haikal yang terhenti sebentar.
Amara tak menjawab, ia cukup geli dipanggil seperti itu
Sadar Haikal sudah tidak nampak, ani buru-buru memberondong Amara dengan banyaknya pertanyaan. "Am.. Kau benar akan menikah dengannya ?? Dia kan mantan pacarmu dulu ?? Dan lagi, apa rumah ini pemberian dia ?? sejak kapan kau menjalin hubungan dengannya ?!?"
" An.. Please pertanyaanmu banyak sekali.. Aku pusing mendengarnya !!? sudahlah, kita istirahat saja dulu. Ayo.." Amara melenggang terlebih dulu, lalu dengan cepat dua teman Amara mengekor.
.
.
.
"Tadi pagi tuan Haikal datang sebentar, tapi tidak tau kok sudah pergi lagi."Balas Yusuf dengan bekerja.
" Lalu Amara ??"
"Kau ini kepo sekali ya ??!! Mana aku tau kemana nona Amara.." balas Yusuf dengan kesal.
" Huh.. Percuma Bicara denganmu.." Gerutu Victor.
.
.
Miranda mencium pipi Hadi sesaat setelah mereka bertemu dengan klien. Kemesraan mereka seolah tak ditutupi sama sekali meski ditempat umum seperti itu.
"Jangan memancingku Mir..aku bisa menelanjangimu disini." Ucap Hadi
"Memang kau fikir aku takut ?? aku juga menginginkannya.."Bisik Miranda.
"Kau bertambah nakal ya baby.. Apa kau butuh uang ??" Tanya Hadi yang seolah faham biasanya Miranda selalu begitu jika membutuhkan sesuatu.
" Kau tau saja.." Miranda mengecup bibir Hadi tanpa ragu.
"katakan.."
"Aku perlu rumah. Kau tau kan aku masih numpang ditempat bibiku.."tutur Miranda dengan manja.
sunggingan senyum begitu terlihat diwajah Hadi. "Seperti apa yang kau inginkan. ??"
" apa saja. Asal pantas untukku.." balas Miranda.
" 4 ronde, aku akan membelikanmu mansion"Tawar Hadi.
" What ?? Kau mau membunuhku ??" Miranda begitu terkejut.
Hadi terkekeh dengan jawaban Miranda. "Terserah kau saja baby..Kita bermain malam ini, besok kau dapat rumahmu."
" dasar mesum..Aku tidak tau apa yang kau pakai sampai bisa sekuat itu." Balas Miranda.
" Bagaimana ??"
" Deal.." Miranda merangkul lengan Hadi dengan penuh semangat.
.
.
.