
bab 52
.
.
Victor membenarkan selimut pada tubuh Miranda yang sudah menggunakan piyama tidur. sejak tadi Miranda masih saja menangis penuh penyesalan. bahkan meski sudah tak terisak, gurat kesedihan terus terlihat dari mimik wajahnya.
" Tidurlah..kau harus istirahat."Ucap Victor setelah melabuhkan kecupan singkat dikening Miranda.
"Vic.. kenapa jadi begini ?? Lalu bagaimana nanti rumah tangga kita ??" Ucap Miranda masih dalam kegundahannya
" nasi sudah menjadi bubur..kita sudah ketahuan. kita hanya bisa menjalani saja. kau harus kuat.."Victor membelai pipi Miranda.
" Tapi aku tidak mau berpisah dari Jakson Vic.. aku tidak bisa hidup..-"
" Stop Mir !!!" bentak Victor.
"Kau hanya mencintai hartanya saja !!! kau fikir aku tidak bisa membahagiakanmu dengan uangku ?!!! Kau katakan perasaanmu masih sama seperti beberapa tahun yang lalu terhadapku ?! tapi kenapa sekarang kau bilang tidak mau berpisah hanya karna uangnya jakson ?!!!!" Tutur Victor bernada kesal.
Miranda menutupi wajahnya dengan kedua tangan seraya kembali menangis.
Victor mendegus kesal dan membuang nafas dengan cukup kasar.
"Jangan tangisi pria yang tidak mau memperjuangkanmu. tidurlah, kita hadapi semua bersama nanti, kau tidak akan sendiri.."Ucap Victor yang langsung berdiri dari duduknya. ia memilih keluar dari kamar dari pada harus memarahi Miranda.
Miranda hanya kembali tergugu meratapi penyesalannya. ia memang benar mencintai Victor, namun ia juga tak mau kehilangan jakson, pria Kaya yang telah menjadikannya ratu dalam rumah tangga mereka sejak dulu.
Tujuan Victor adalah taman hotel. ia nampak mondar mandir seorang diri disana. jujur, Victor pun juga tak akan bisa membayangkan bagaimana nasib putrinya, jika sampai Amara menggugat cerai bahkan sampai memenjarakannya.
Dengan kasar Victor mengusap wajahnya. "kenapa semua jadi begini ??!!!" Gumamnya.
Kemudian Victor merogok saku celananya guna menggambil ponsel miliknya. Memilih menghubungi Amara adalah tujuan Victor kali ini.
Namun harapan Victor ternyata hanya sebuah harapan saja. Amara tidak mengangkat panggilan dari Victor, meski sudah dicoba beberapa kali, bahkan pesan singkat juga sudah dikirim beberapa kali, tak satupun yang dibalas oleh Amara.
"Amara.. kau dimana ?? Ingat putri kita Amara.. jangan gegabah.." Gumam Victor lagi seraya memukul udara karna rasa kesalnya.
.
.
Hingga suara pintu terbuka membuyarkan Perhatian Haikal. Haikal segera menoleh kearah pintu kamar yang sejak tadi tertutup.
Nampak seorang pelayan muda menunduk hormat pada Haikal.
"Nona sudah selesai saya gantikan baju tuan. beliau juga masih tidur."Lapor pelayan itu.
Haikal menggangguk pelan. "Apa tubuhnya panas ?? atau dia menginggau ??"tanya Haikal
"sedikit tuan. tapi Nona terua terisak dan menangis dalam tidurnya."Balas sang pelayan.
Haikal hanya bisa menarik nafasnya dengan panjang.
"Temani dia. malam ini kau harus tidur bersama dia. jaga dia."Perintah Haikal lagi.
" Baik.tuan."balasnya.
Haikal pun langsung memutar tubuhnya namun kembali berhenti dan kembali membalikkan tubuhnya lagi.
"Letakkan ponsel ini disisi wanita itu. Ingat, jika dia demam atau mengingau segera panggil saya."Pesan Haikal.
" Baik tuan."Pelayan menerima ponsel yang diberikan tuannya lalu ssegera menunduk dan segera masuk kembali kedalam kamar.
Haikal pun juga segera turun kelantai bawah guna beristirahat. Setidaknya ia sudah tenang karna Amara aman bersama dia..
Laporan dari anak buahnya yang sudah mendapat informasi tentang Amara dan Victor benar-benar membuat Haikal marah.
"Jika aku tidak ingat Amara dan putrinya, aku sudah menghabisimu bajingan !!! Aku sangat menyesal kenapa dulu melepaskanmu.."Umpat Haikal dengan mimik wajah serius.
.
.
.