Secret Affair

Secret Affair
Tentu saja



Bab 109


.


.


.


Victor terus berkelahi dengan fikirannya, dia dan Miranda semalam mengulang pergulatan ranjang hingga beberapa kali, bahkan Miranda begitu dominan dengan gaya yang berganti-ganti. Bukan apa-apa yang mengganggu fikiran Victor, melainkan kandungan Miranda. Victor bisa ingat Amara dulu dilarang sering berhubungan selama kehamilan mudanya, tapi kenapa ini Miranda malah meminta lagi dan lagi ??


Hingga pukul 7 pagi Victor masih betah bersandar ditempat tidur seraya menatap Miranda yang terlelap tidur.


Kembali lagi, Victor yang penasaran dengan tanda buatannya semalam sedikit menyingkap rambut pendek Miranda.


Lalu setelah itu ia memiringkan perlahan kepala Miranda.


Bekas kissmark yang sudah mulai memudar terlihat disana juga.


"Ini berbeda dengan buatanku, tapi.." ucapan Victor terhenti saat miranda mengeliat dan mulai membuka matanya.


"Emm.. Vic.. Kau tidak kerja ??" Tanya Miranda dengan suara paraunya.


"Ini aku mau mandi. Segeralah bangun."Balas Victor yang segera turun terlebih dulu.


Miranda pun turut bangun ia mengusap wajah dan mensyugarkan Rambutnya.


ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.


Perlahan Miranda meraih ponsel miliknya dan membuka.


Tanda yang sudah sering diterima Miranda. Senyum sumringah Miranda terlihat jelas. Ia pun segera membalas pesan singkat itu.


.


.


Victor tiba dikantor bersamaan dengan Haikal dan juga Amara.


Keduanya nampak sumringah beriringan masuk. Kini Haikal pun tak canggung lagi merengkuh pinggang Amara membawa wanita itu masuk bersama dengannya. Sapaan dari para karyawan diterima pasangan itu.


Victor menghentikan langkahnya. Entah mengapa melihat Amara dan Haikal hatinya seolah masih tidak rela saja. "Seharusnya aku sudah iklas. Kami berpisah sudah lama, bahkan aku juga akan menikah. Huh..come on Victor, lupakan Amara.."Gumam Victor lirih.


Amara dan Haikal tengah menunggu lift khusus menuju ruangan mereka terbuka.


" Saat makan siang nanti kita fitting baju ya ??" ucap Haikal.


"Apa kau akan membuat pesta ??"Tanya Amara


"Tentu saja."balas Haikal dengan mudah.


"Kau tidak malu, kau dapat istri seorang janda. Apa kata kolega kerjamu nanti ??!" Timpal Amara.


"Memangnya kenapa kalau janda ??"Haikal malah mencondongkan wajah kearah Amara. Reflek Amara menghindar


Bersamaan dengan Victor yang kembali harus menelan pil pahit karna melihat adegan yang terlihat mesra itu.


"Sial !!" Umpat Victor yang buru-buru pergi lewat jalan lain.


Lift terbuka dan Haikal segera menarik Amara masuk kedalam.


"Haikal.. Aku bicara serius. Kau masih single, apa kau tidak malu mengadakan pesta dengan calon istri janda sepertiku ??!" Amara begitu sangat kawatir.


"Single pun aku sudah punya Anak Amara..kau ingat itu juga kan.."


"Itukan hanya kita yang tau Haikal !!?" amara melipat kedua tangannya. "Aku tidak mau kau jadi bahan ejekan rekan kerjamu.."Tambah Amara lagi.


Haikal menempelkan tubuh Amara agar dekat dengannya. "Yang menikah aku, yang memilih aku, Hidup juga hidupku, untuk apa kau memikirkan orang lain. Kau hanya janda bukan istri orang, ingat itu. Aku selalu mengganggapmu tetap Amara gadis kecilku, bukan Amara ibu dari anakku.. Ini pernikahan yang begitu aku impikan selama ini, jadi please..Jangan membuatku sedih dengan kata-katamu.."Terang Haikal sepenuh hati.


Amara menggangguk pelan lalu menyandarkan kepala didada Haikal.


"Ternyata nyaman ya bersandar didadaku ?? Hangat ya ??" Goda Haikal.


Buru-buru Amara menegapkan tubuhnya. Wajahnya kembali memerah karna godaan Haikal barusan. "Kau terlalu percaya diri tuan.." balas Amara yang buru-buru menghindar keluar bersamaan dengan lift yang sudah terbuka.


Haikal terkekeh melihat tingkah lucu Amara yang terlihat malu saat digoda olehnya.


.


.


.