
Bab 116
.
.
.
Seakan hendak terus memastikan, Victor kini tiba disebuah rumah sakit sesuai yang tertera dikeras pemeriksaan Miranda.
Meski awalnya ragu dengan apa yang akan didengar nanti, Tapi Victor akhirnya memutuskan untuk tetap masuk kedalam.
Atas arahan dari perawat, Victor bertemu seorang dokter wanita sesuai dengan Yang tertera dalam kertas pemeriksaan Miranda.
"Silahkan duduk tuan. Ada yang bisa dibantu ??" Dokter Zakia mempersilahkan.
Victor langsung duduk. Kebetulan tidak ada antrian pasien pagi itu.
"Dok. Saya mau menanyakan sesuatu."Ucap Victor ragu-ragu.
"Iya silahkan saja tuan."balas dokter wanita itu.
Victor menyodorkan kertas yang sejak tadi dia genggam kearah sang dokter. "Dok. Ini hasil pemeriksaan istri saya. Tolong jelaskan maksudnya apa ya dok ??"
Dokter itu menerimanya. Ia cukup terkejut saat mendengar Victor mengatakan jika itu milik istrinya.Sang dokter menatap sekilas Victor.
"Anda yakin dia istri anda ??" Tanya sang dokter.
"Iya. Kami memang belum menikah secara resmi, tapi saya sudah mendaftarkan pernikahan kami kemarin. Saya bawa buktinya."Victor mengeluarkan kertas dari dalam tasnya.
"Tidak perlu tuan. Saya hanya memastikan."Balas dokter itu dengan senyum keramahannya.
"Saya akan jelaskan semuanya, tapi saya tidak tau kenapa dan ada apa karna pasien kemarin hanya melakukan pemeriksaan saja."dokter mulai berbicara.
.
.
Victor keluar dari ruanga dokter dengan langkah gontai. Penjelasan sang dokter benar-benar membuat jantungnya bagai diremukkan menjadi satu. Ia tak habis fikir kenapa dan ada apa dengan Miranda yang membohonginya selama ini.
Kata-kata dokter terus terngiang ditelinga Victor segala penjelasan begitu menyayat hatinya.
"Nona Miranda telah melakukan operasi steril tuan. Operasi steril itu adalah metode kontrasepsi permanen yang bertujuan untuk mencegah seseorang memiliki anak atau bisa dibilang tindakan pencegahan kehamilan. Operasi itu sudah dilakunan Nona Miranda sejak beberapa tahun yang lalu tuan. Kemarin dia hanya memeriksakan apa sterilnya masih aman dan baik atau perlu tindakan yang lain." Terang dokter.
Victor mengusap kasar wajahnya. Ia terduduk dikursi yang masih didalam rumah sakit itu. Ia telah dibohongi telak selama ini.
"Kenapa Mir.. Kenapa ??" Gumam Victor yang tak kuasa.
.
.
Tanpa disangka, Ditoko perhiasan sudah lebih dulu datang Amara dan Haikal yang memang hendak mengambil pesanan cincin mereka.
Miranda pun yang tidak terlalu memperhatikan pengunjung toko Perhiasan itu tak tau jika Amara juga ada disana.
"Ini terlalu mewah haikal.. Aku tidak mau.."Ucap Amara.
"Sayang.. Ini pernikahan kan harus spesial.."Balas Haikal.
Amara mendegus lagi seraya menatap kearah lain, Haikal benar-benar mempersiapkan semuanya dengan baik. Ia tak mau sampai ada yang terlihat tak sempurna.
Namun Netra Amara terhenti saat tak sengaja melihat Miranda yang tengah mencoba cincin. Bukan itu yang menjadi fokus penglihatan Amara, Melainkan pria disisinya yang tanpa malu menciumi pipi Miranda meski banyak pelayan toko disana.
"Miranda.."Gumam Amara lirih. Namun Haikal bisa mendengarnya.
Haikal pun mengikuti tatapan Amara. "Itulah wanita pilihan Victor."ucap Haikal.
"Kau tau ??" Tanya Amara
"Aku beberapa kali melihat dia bersama rekan bisnisku. Yang bersama Miranda itu rekan bisnisku namanya Hadi. Dia pengusaha tambang dan beberapa properti lain."Tutur Haikal.
"Kenapa aku sangat jijik melihat dia.."Ucap Amara dengan wajah tak suka.
"Kau kasihan pada Victor ??" Terka Haikal. Sontak tatapan tajam dilayangkan Amara.
"Aku muak dengan mereka berdua. Apa tidak bisa kita hidup tanpa bayang-banyang dua manusia itu ??"
"Setelah menikah kita kembali kejakarta. Bagaimana ??" Tawar Haikal.
"Kau serius ??" Balas Amara wajahnya mulai sumringah.
Haikal menggangguk dengan senyum misteriusnya. Lalu mendekatkan bibir ditelinga Amara seraya berbisik. "Tergantung servismu sayang."
wajah amara memerah seketika dengan godaan sang kekasih. Haikal hanya tertawa kecil melihat kelucuan wajah Amara.
.
.
.