
Bab 93
.
.
.
Dan benar saja,Amara tetap mengenakan kaos oblong tadi. Hanya saja ia kini menenteng tas dan mengikat rambutnya menjadi satu diatas.
Meski semua mata menatapnya, Amara berusaha biasa saja.
"Ayo.. Katanya mau jalan-jalan."Ucap Amara seraya melenggang masuk kemobil terlebih dulu.
"kalian pakai mobil saya yang itu."Tunjuk Haikal.
"Anda yakin tuan ?? Em.. Bagaimana jika kami sewa ??" tawar Danu.
Senyum Haikal terbit seketika. "Tidak perlu tuan. Anda teman Amara. Anggap saja ini sambutan dari saya sebagai perkenalan."
"Ohh.. Anda baik sekali tuan.Haikal.."Puji Sindy.
"Daddy. bagaimana dengan kami ??" tanya Gea.
"Terserah padamu sayang, kau mau ikut daddy dan mommy atau dengan mereka."balas Haikal dengan antusias.
"Aku sama Fia ajalah."ucap Gea. "Ayo Fia.." Gea melenggang menuju mobil satunya yang diikuti sindy ani dan Danu.
Haikal pun segera masuk kedalam mobil juga.
"Gea mana ??" Tanya Amara saat sadar putrinya belum didalam mobil.
"Dia ikut Tuan Danu."Balas Haikal.
"Lalu kita ??" Amara begitu terkejut.
"kita berdua sajalah.. Sepertinya putri kita tau ini adalah waktu untuk kita berdua saja."Ucap Haikal seraya menjalankan mobilnya kembali.
Amara hanya memutar bola matanya dengan malas. Ia memilih mengalihkan pandangannya saja dan kemudian diam, percuma saja berdebat dengan Haikal, ia tidak akan menang.
.
.
Mata Sindy dan Ani disuguhkan sebuah pantai yang begitu amat ingin mereka kunjungi dan Calon suami sahabatnya benar-benar mewujudkannya.
Semua segera turun dari Mobil masing-masing dan mereka semua langsung mendekat kebibir pantai dimana sudah banyak sekali orang yang berwisata disana.
Sementara Amara hanya melipat kedua tangan didada seraya menikmati betapa asri udara dipantai itu.
"Kau suka ??" Tanya Haikal dari belakang.
"Iya. 2 tahun aku hidup dijogja, tapi aku sama sekali belum berlibur kemanapun. Terima kasih."Jawab Amara lirih.
Haikal mensejajarkan dirinya disisi Amara. "Kau katakan saja jika ingin liburan. Masih banyak pantai didaerah jogja ini.."
"Uangmu akan habis jika menuruti keinginanku."ucap Amara.
Haikal terlihat terkekeh mendengar ucapan Amara.
Amara menurunkan tangan seraya menatap Haikal. "Sekarang aku tanya padamu. Kau bisa punya kekayaan sebanyak ini, dan memiliki segalanya seperti ini dari mana ?? apa kau merampok orang kaya, atau bank ??" Amara mengutarakan rasa ingin tau yang sudah begitu lama ia pendam.
Haikal menatap jauh kearah pantai. "Memangnya aku perampok."balas Haikal
"Jawab saja !!! Aku tidak menerima kebohongan lagi ya ??!! Awas saja jika kau sampai bohong padaku, aku tidak akan mau bicara denganmu !!"
Haikal memutar tubuhnya hingga kini ada dihadapan Amara.
"Kau tau. Harapan terbesarku adalah menikah denganmu, tapi mengingat aku dulu yang tidak memiliki apa-apa membuatku ragu bisakah aku membahagiakanmu. Maafkan aku yang pergi tanpa pamit dan kabar hingga membuatku harus menerima pria bajingan itu." Tutur Haikal mulai bicara.
"Saat itu aku berada disebuah pilihan yang begitu sulit. Aku harus mengabdi dengan seseorang, dan meninggalkan semua kehidupan lamaku, berpindah dari satu kota kekota lain, dari satu negara kenegara lain, Dan ini semua adalah hasil dari pengabdianku selama 7 tahun." tambah Haikal.
"Kenapa kau tidak memberiku kabar ?? Jika memang kau hendak berjuang, aku pasti akan menunggumu.."Protes Amara yang menyesal karna merasa menghianati Haikal.
"Aku sudah menitipkan sebuah surat untukmu melalui Victor. Karna memang aku tidak memiliki akses apapun saat ikut seseorang itu. Aku fikir Victor bisa dipercaya dan memberikannya padamu, ternyata dia tetap membenciku karna menjadi kekasihmu. Dan malah menikahimu" balas Haikal seraya tertunduk. Saat sesal kecewa teringat dibenaknya.
Sebuah kebenaran kembali diterima Amara. Ia sama sekali tak menyangka jika Victor seperti itu, menggunakan kesempatan dalam sebuah kesalahfahaman.
.
.
.