Secret Affair

Secret Affair
Aku harus profesional



bab 80


.


.


.


Dengan langkah tergesa Amara menuju ruangan Haikal. ia tak menyangka jika temannya itu malah menerima Victor untuk bekerja dikantor yang sama dengannya.


Baru saja Amara hendak mengetuk pintu, Teguran diterima Amara. "Nona mencari tuan Haikal ??"


Amara langsung menoleh dimana Pria yang berpangkat asisten Haikal itu berada. "Iya. dia dimana ??" tanya Amara.


"Tuan pagi ini langsung menemui klien Nona." Terangnya.


"Oh.. baiklah.. aku akan kembali nanti" Ucap Amara.


"Ini nona silahkan diperiksa." Asisten Haikal menyodorkan berkas pada Amara.


"Iya. terima kasih.. saya keruangan dulu."amara pun memutar arah guna menuju keruangannya.


.


.


Victor terlihat meregangkan kedua tangannya saat ia merasa pegal akibat beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan. tak disangka, Pekerjaannya akan menumpuk seperti ini.


"Sialan bandit itu, dia sengaja menempatkanku disini agar aku bekerja rodi begitu ??!!" gerutu Victor. yang langsung teringat Amara.


"Ruangan Amara yang mana ya ??" Gumamnya lagi seraya terus mengedarkan mata.


" hey !! kau mencari apa ??" Tegur yusuf yang berada disisi Victor.


" Tidak.. aku hanya berusaha mengenali tempat. " balas Victor dengan senyumnya.


"Alasan. kau pasti mencari Nona Amara kan ?? eh, tadi kau berani sekali memanggil namanya, ?? seperti kau sudah kenal saja " Yusuf begitu ingin tau.


sudut bibir Victor terangkat. " tentu saja aku mengenalnya. dia..-"


" Diamlah !! tuan Haikal datang.." Yusuf menyela cerita Victor dan segera fokus kembali didepan layar laptopnya.


Victor mengikuti arah tatapan Yusuf tadi, benar saja terlihat Haikal berjalan beriringan dengan seorang wanita. mereka terlihat mengobrol serius sepanjang perjalanan menuju ruangan.


" Siapa wanita itu ??" gumam Victor.


.


Amara tak tenang bekerja. ia bahkan tak berani keluar ruangan karna tidak mau bertemu Victor.


Sesekali Amara melirik jam dipergelangan tangannya, "Seharusnya dia sudah kembali. aku coba kesana saja."Amara buru-buru berdiri dan.segera bergegas keruangan Haikal.


tok


.tok..


Amara mengetuk pintu ruangan Haikal.


suara terdengar yang menyuruhnya untuk masuk. Segera pula Amara masuk.


"Haik..-" Amara terdiam seketika. "Oww..maaf..maaf.. kalian sedang sibuk ya ??? em..aku keluar saja dulu.." Amara hendak berbalik saat tak enak dengan keadaan. ternyata didalam ruangan Haikal ada Rebecca tunangan Haikal.


"Am.. kau mau kemana ?? masuklah. kami tidak sedang bicara serius kok." tegur Rebecca.


Sementara Haikal hanya menyadarkan tubuhnya seraya tersenyum tipis melihat betapa lucunya wajah Amara.


"Tidak Re..em.. aku keluar saja nanti kalau sudah selesai aku akan masuk lagi." Timpal Amara.


" Selesai apanya.??!" Rebecca berdiri dan melangkah mendekati Amara. menggaet lengan Amara dan mengajaknya duduk. "ayo duduk. pasti ada sesuatu yang penting sampai kau keruangan Haikal. aku tau itu Am.."


"Re.. kau jangan salah faham ya, aku tidak membicarakan sesuatu diluar pekerjaan kok.." Amara begitu takut.


Rebecca malah tertawa lepas mendengar ucapan Amara. "Kau sangat lucu Am..kita sudah saling mengenal satu setengah tahun. aku tidak akan masalah Am., bahkan aku percaya 100% padamu.."


Amara ikut tersenyum seraya menunduk. Ia sangat takut jika terjadi salah faham antara Haikal dan Rebecca. mengingat statusnya yang seorang janda.


"Jadi ada apa ?? apa kau kesulitan ??" Rebecca membuka suara lagi.


Amara bingung bagaimana menanyakan pada Haikal. sementara Haikal memilih diam dan duduk santai seraya tersenyum menatap dirinya.


"Bagaimana aku bertanya pada Haikal..?? nanti Rebecca berfikir negatif tidak ya ??" Batin Amara


"Am.." Rebecca memegangi pundak Amara.


"Sorry Re..em.. aku memang sedikit kesulitan." Amara beralasan.


"Ya sudah. tanyakan pada Haikal. aku tidak akan mengganggu." Rebecca hendak berdiri.


" eh.. tunggu !! kau mau kemana ??!!" Cegah amara.


" Aku tidak mau mengganggu pekerjaan kalian. aku tunggu dibawah saja. nanti kita makan siang bersama ya ?? ajak anakku juga.." Rebecca mengedipkan salah satu matanya seraya melenggang.


Amara ingin mencegah lagi tapi Haikal sudah bersuara. "Aku harus profesional Am. kantor sedang butuh banyak staf pemasaran, dan Victor membutuhkan pekerjaan itu. Meneger menganggap Victor pantas, Aku bisa apa.." terang Haikal


Amara melongo mendengar penjelasan haikal.


.


.