
Bab 94
.
.
.
Amara terteguh mendengar penuturan Haikal. Tanpa kata tanpa apapun Amara memeluk Haikal dengan erat. Menangis tergugu hingga membuat Haikal terkejut. Haikal bahkan belum membalas pelukan Amara. Ia hanya berdiam diri membiarkan Amara menumpahkan air matanya.
"Kenapa kau jahat dengan membuatku menyakitimu !! Aku kan jadi merasa bersalah disini ?!!" Ucap Amara dalam tangisannya.
"Kau berjuang mati-matian tapi aku malah percaya jika kau memang hendak meninggalkan aku.."Tambah Amara lagi.
"Berhentilah menangis. Semua mata melihatmu.. Mereka pasti mengira aku memukulmu.." hibur Haikal.
"Biarkan saja.. Andai aku tau sejak dulu aku akan siap menjadi perawan tua menunggumu.."Balas Amara seraya membuka pelukannya.
Haikal terlihat terkekeh dan merangkul pinggang Amara. Mengikis jarak diantara keduanya. "Aku sudah mendapatkannyakan ??" ucap Haikal lirih seraya memainkan kedua alisnya.
Wajah Amara bersemu merah "Kau ingat dosa kita itu ??"
" tentu saja.. Karna itu aku mau menjadi orang baik."balas Haikal yang terus mendekatkan Amara agar terus berada dalam dekapannya.
"Baik dari mana ?!! Bahkan kau sama saja mempermainkanku kalau begini"
"Jadi bagaimana ?? kau terima tidak lamaranku ??" Ucap Haikal.
Amara tertunduk. "Haikal.. Aku mau jujur padamu, sebenarnya Gea itu putrimu."
Senyum diwajah Haikal luntur seketika dengan mimik wajah seriusnya. "Apa yang kau katakan ??"
"Aku marah padamu yang pergi tanpa kabar. kekalutanku membuatku percaya pada Victor. Disaat kau pergi aku melakukan test, dan ternyata benar aku sudah hamil. Awalnya aku mengajak Victor menemuimu, tapi Victor terus berkilah dan beralasan jika kau tidak mau ditemui. Aku benar-benar hancur saat itu.. Kehilafan kita aku sendiri yang menanggungnya. Makanya saat Victor menawarkan pernikahan aku mengiyakan."Terang Amara dengan air mata yang berderai.
"Jadi..-"
"Iya Haikal. Gea memang putri kandungmu. Aku mengandung 2 bulan saat menikah dengan Victor."ucap Amara meyakinkan.
Amara menerima pelukan Haikal. Keduanya sama-sama menyesali kesalahfahaman dan kesalahan dimasa lalu mereka.
Dan ternyata sejak tadi ada sepasang mata yang memperhatikan kedekatan Amara dan Haikal.
"Sial !!! Kenapa juga aku harus kepantai ini !!" umpat Victor yang memandang kesal kearah Amara dan Haikal yang masih berpelukan.
Victor segera berlalu, jujur ia masih begitu tak terima jika Amara bersama dengan Haikal, pria yang sejak dulu begitu ingin dijauhkan oleh Victor dari Amara.
.
Haikal membenahi anak rambut Amara yang berterbangan tertiup angin. Sebuah kecupan pun mendarat sempurna dikening Amara.
"Kau tau.. ini adalah sebuah berita yang membahagiakan bagiku.."Ucap Haikal lirih.
"Lagian kau tidak sadar, bagaimana mungkin Gea memiliki golongan darah yang sama denganmu jika bukan karna dia darah dagingmu.." protes Amara.
"Aku tidak berfikir kesana sayang.. Aku hanya merasa kebetulan saja."balas Haikal.
"Terima kasih.. Tuhan sudah menjawab doa kita. Aku akan mempercepat pernikahan kita."Tambah Haikal dengan sungguh-sungguh.
"Apa yang membuatmu ingin menikahiku ?? Aku janda, aku menghianatimu ?? Aku tidak memahami keadaanmu ??" Amara masih merasa bersalah.
"Supaya aku bisa menghukummu, dan merantai tanganmu agar jangan lepas lagi dariku."Balas Haikal seraya mengembangkan senyum.
Amara membalas senyuman Haikal, tak ada lagi keraguan dihatinya. Semua rahasia juga sudah ia katakan. Kejujuran dan kebenaran yang sudah diutarakan membuat dua hati yang sempat bertikai akhirnya akan kembali bersatu.
.
.
.
.