
bab 84
.
.
.
Seakan sudah bertekad ingin tau lebih dalam kehidupan mantan istrinya, Victor diam-diam mengikuti mobil yang ditumpangi Haikal dan juga Amara.
Meski hanya menggunakan taksi, Victor tak gentar sedikitpun. bahkan ia tak sungkan memeritah sopir agar jangan sampai ketinggalan mobil incarannya.
"Awas ya pak jangan sampai kita tertinggal."Pesan Victor.
Setelah perjalanan panjang, Mobil Haikal memasuki gerbang menjulang yang begitu mewah.
"Ya ampun. ini rumah mereka ??" gumam Victor dengan penuh keterkejutan.
Rumah itu layaknya istana. megah dengan disain yang begitu elegan.
Haikal terlihat turun terlebih dulu lalu kemudian membukakan pintu untuk Amara.mereka nampak bergandengan masuk kedalam bersamaan.
"Sialan !! bandit itu benar sudah menikahi Amara !!! shhtt.. pak jalan !!" Perintah Victor yang begitu emosi melihatnya.
Amara terlihat menutup tirai jendela rumah besar milik Haikal.
" Seharusnya dia tidak mencari tau sampai seperti ini.. aku dengan siapapun kan bukan haknya dia.." Ucap Amara lirih.
"Dia dalam fase penyesalan Am. jika hatimu bisa luluh, dia pasti akan mengajakmu rujuk."Balas Haikal.
"jangan sebut kata itu Haikal.. Aku benci mendengarnya !!! bahkan melihat wajahnya saja hatiku masih terasa sesak."Timpal Amara.
Haikal menggenggam jemari Amara. menjadi Amara sangatlah sulit. dalam kepura-puraan harus menjadi kuat bukanlah hal yang mudah.
"Iya..berhenti menangis.. aku mohon jangan menangis.."ucap Haikal lirih.
Amara terlihat terisak hingga Haikal yang tak kuasa menahan sakit karna melihat dambaan hatinya menangis segera menarik tubuh Amara dalam dekapannya.
"Aku mohon jangan menangis.."Haikal memejamkan mata seraya mendekap erat tubuh Amara.
Seakan mendapat tumpuan air mata, Amara menumpahkan tangisannya dalam pelukan Haikal.
Dari balik Pilar Rebecca mengajak Gea kembali kekamar. memberikan ruang untuk dua anak manusia yang sebenarnya masih saling menyimpan rasa.
"Aunty.. mommy kenapa menangis ??" Tanya Gea saat sudah didalam kamar.
" Bukan karna bertemu Papi kemarin dulu itu ??" terka Gea.
" Tentu saja tidak. kan sudah ada Daddy Haikal.. Mommy tidak akan sedih lagi. Gea sekarang tidur ya, Besok kita susun rencana supaya Mommy dan Daddy cepat bisa tinggal serumah. mau ???" Rebecca mengacungkan jempolnya.
" Mau aunty !!!" Gea menjawab penuh semangat.
" Anak pintar.. Ok.. let's go.. kita tidur dulu.."
Gea begitu antusias dan langsung tidur disisi Rebecca.
kasih sayang Rebecca yang amat tulus begitu membuat Gea luluh.
.
.
Victor tiba dirumah bibi May. mobil Miranda juga sudah terparkir dihalaman menandakan sang pemilik sudah kembali.
Dengan segera Victor masuk, Hingga saat tiba dikamar ternyata Miranda sudah terlelap diranjang dengan wajah lelahnya.
perlahan Victor duduk disisi Miranda dan berbaring menghadap Miranda. menciumi wajah Wanita pilihannya itu. bahkan Victor me lu mat bibir Miranda dengan tak lupa tangannya mengarah pada Gundukan besar milik Miranda.
"eemm.. Vic.. stop Vic.... aku lelah.."Ucap Miranda dengab suara parau.
"kita sudah lama tidak melakukannya Mir.. aku menginginkannya.." Bisik Victor seraya membasahi telinga Miranda.
" Aauuhhhh..." De sa h Miranda yang mudah sekali terangsa g
Pertukaran Slavina mereka lakukan. dan dengan gerak cepat keduanya melucuti pakaian masing-masing.
Seakan tak ingat dosa, Keduanya bergumul kembali menyatukan hasrat sesat yang begitu mereka banggakan. lenguhan suara bersahutan memenuhi seisi kamar yang tak begitu luas itu.
Pintu kamar yang lupa ditutup rapat oleh Victor membuat pelayan Bibi May yang tak sengaja melintas melihat adegan ranjang Victor dan Miranda dengan berbagai gaya dan jangan lupakan suara-suara sensasional Miranda saat intinya dihujam dengan dalam oleh Victor.
"Kasihan bibi may.. dia pasti bisa mendengar kebejatan mereka.." gumam pelayan itu yang kemudian segera berlalu dari sana. ia juga tak mau mengotori telinganya bahkan matanya hanya dengan melihat dan mendengar sesuatu yang begitu bernilai dosa besar baginya.
.
.
.
.