Secret Affair

Secret Affair
Menangis pilu



bab 48


.


.


.


Amara segera mengusap air mata yang terjun bebas dikedua pipinya seraya tersenyum. "Aku menangis bahagia..Akhirnya impianku terwujud juga.." Amara beralasan.


" Kau yakin ??" Nindi yang paling dekat dengan Amara memastikan seraya duduk dan menatap lekat gambar Amara dalam layar laptop Ani.


" Iya.."Amara terus mengembangkan senyum sebisa mungkin.


Terlihat sindy dan Ani pun turut duduk dan memperhatikan Amara.


" Am.. matamu sembab sekali ?!! Kau habis menangis ya ??" Tanya Sindy yang langsung ceplos saja. hal itu sontak mendapat teguran dari Nindi yang memukul lengan Sindy dengan keras.


" Apaan sih Nin.. memang benar kan yang aku tanyakan ??!!" protes Sindy seraya memegangi lengannya.


" Sudah.. sudah.. kalian ini kenapa malah bertengkar.."Amara menengahi.


" tumben Nindi bersama kalian ?? " kalian tidak lembur ??" Tanya Amara mengalihkan topik.


"tidak.. Nindi sekarang pengangguran Am. dia dipecat dari tempat kerjanya."tutur Ani.


" Benarkah ??? Nin.."Amara pun begitu terkejut.


" Iya. aku sudah tidak bekerja lagi bersama Suamimu Am."Jawab Nindi dengan tenang.


"Tapi kenapa Nin ?? Apa kau membuat masalah ??" Amara begitu ingin tau.


Nindi terdiam sesaat. Ia sebenarnya sangat tau alasan kepala liputan memberhentikan dia. tapi Nindi tidak mau membuat Amara sang sahabat bersedih.


"Nin.." Panggil Amara lagi.


"Oh..em..ya mungkin belum rezekiku kali Am.. sudahlah berhenti membahasku, bagaimana peluncuran produk buatanmu ?? semua lancarkan ??" Nindi langsung mengganti topik.


Amara menggangguk dengan pelan. "Iya. semua lancar."


" Syukurlah kalau begitu.. Akhirnya kau akan Naik jabatan juga.." Ani tersenyum bahagia.


Namun mendengar itu dada Amara malah terasa sakit. entah dia akan bahagia atau justru akan hancur dengan biduk rumah tangganya.


Amara meneguk ludahnya terlebih dahulu. "Em..dia.. dia meliput berita."


" Kau yakin ??" Nindi memperjelas, karna Nindi sangat tau jika stasiun Tivi dimana ia bekerja tidak mengadakan liputan diluar Kota.


Amara menggangguk pelan. "Iya. tentu saja."


" Katakan Am.. jika memang kau tidak mampu menahannya sendiri." Ucap Nindi yang sudah yakin Amara sedang tidak baik-baik saja.


Sindy dan Ani pun saling tatap, mereka akhirnya ikut memperhatikan wajah Amara yang begitu terlihat bersedih.


Amara tertunduk dan berusaha menahan. dadanya bahkan terus naik turun.


" Am.. ada masalah apa ?? kita teman kan ?? kau mau kan berbagi cerita dengan kita semua.."Tambah Sindy.


" Iya Am.. sedih mu adalah sedih kami juga.. ini hari bahagiamu, tapi kau malah bersedih. kami yakin sekali kau tengah dalam masalah."Ani menambahi lagi.


Seketika pertahanan Amara runtuh. Tangisnya pecah dengan isak yang memilukan.


" Oh..baby.. andai kau dekat, aku sudah pasti memelukmu.." Ucap Sindy yang juga ikut bersedih.


" Amara.. you are strong.. ok, come on Girl jangan menangis.." Hibur Ani


sembari sesenggukan Amara mengusap air matanya.


" Apa Victor membuat ulah Am ??" Terka Nindi


Amara hanya diam dan malah terisak.


" menangislah Am..jika beban dihatimu bisa berkurang.."Nindi berkata demikian.


" Terima kasih.. terima kasih.. aku tidak tau jika tidak ada kalian.." Balas Amara seraya masih terisak.


Hingga beberapa saat Panggilan Video terus berlangsung. baik Nindi, Sindy maupun Ani menjadi teman dan pendengar tangisan pilu Amara. mereka pun seolah merasakan sesak juga. Apalagi Nindi, Nindi sudah tau jika semua itu pasti karna Victor.


.


.


.