Secret Affair

Secret Affair
Untuk bahagia bukan untuk dihianati



bab 41


.


.


.


Dihallroom ternyata sudah mulai banyak orang yang ditugaskan Haikal guna mengatur dekorasi untuk acara peluncuran produk terbaru dari dua perusahaan yang bekerja sama ini.


Setelah saling berjabat tangan, Jakson dan Haikal sama-sama berkeliling melihat semua persiapan yang benar-benar membuat Jakson sangat terpesona dan kagum.


" Tuan Haikal, Saya sangat berterima kasih sekali anda benar-benar total dalam segala hal."Puji Jakson.


"Tentu saja. karna saya yakin, produk terbaru kita yang bersumber dari ide Nona Amara akan meledak dipasaran."Balas Haikal


Jakson menggangguk setuju. sementara Amara malah terus terusan merasa tidak enak. Ia pun tiba-tiba merasa takut, jika sampai produknya gagal diterima dipasaran akan seperti apa nanti ??


Amara yang tak konsentrasi dan tak memperhatikan membuatnya tak sadar jika Jakson dan Haikal menghentikan langkah mereka.


Sementara Amara terus melangkah dengan fikirannya yang melalang entah kemana, hingga...


bukk..


" Awww !!!?" Amara memegangi keningnya yang terbentur punggung kekar Haikal.


Seketika baik Haikal maupun jakson menoleh kearah Amara.


" Am.. kau kenapa ??" Tanya Jakson terlebih dulu. sementara Haikal hanya tersenyum saat melihat betapa lucunya ekspresi Amara yang kesakitan.


"Em..maaf tuan.. saya tadi tidak lihat anda berdua berhenti."jawab Amara dengan jujur.


" Mungkin Nona Amara lapar ?? bagaimana jika kita makan siang ??" Tawar Haikal.


Amara melirik jam dipergelangan tangannya. "Ini baru pukul 11 tuan. belum waktunya."


" Jika sekarang senggang kenapa menunggu nanti ?? lagian setelah makan siang, kita akan bertemu model yang akan kita pakai untuk model iklan produk kita."Terang Haikal.


" secepat itu ??" Jakson terperangah.


Haikal mengganggu dengan cepat. "Iya.. karna lebih cepat lebih baikkan.."


" Bravo tuan Haikal.. anda benar-benar hebat sekali.." Puji Jakson lagi.


" Baiklah.. kita makan siang bersama. tapi kali ini biarkan saya yang membayarnya tuan Haikal,"Ucap Jakson dengan penuh semangat.


Haikal terkekeh dan mengangguk dengan cepat. "Saya sangat menerimanya tuan"


" Mari silahkan.." Jakson mempersilahkan Haikal.


Haikal segera menoleh kearah Amara yang masih setia diam. "Nona Amara..Mari silahkan, anda wanita, jadi akan saya dahulukan."


Amara gelagapan dibuatnya. "Ah..em..Iya..saya..-"


" Iya Amara..karna ide ini darimu kau harus didahulukan."Tambah Jakson.


Amara kesulitan meneguk ludahnya."Baiklah.."Amara segera melangkah lebih dulu. ia memilih mengalah dan segera mengakhiri drama yang bagi Amara sangat kaku itu.


.


.


Makan siang Amara benar-benar sangat beruntung jika wanita lain yang melihatnya. Sebab Amara didampingi dua pria tampan yang benar-benar menjadi idaman banyak wanita. Namun semua itu tak disadari Amara, ia malah cukup canggung. apalagi, Haikal duduk tepat dihadapan Amara. Haikal sebenarnya bisa melihat gurat kegundahan pada wajah Amara. namun ia memilih diam dan sesekali menyunggingkan senyum saja.


"Maaf tuan Haikal..saya permisi sebentar mau ketoilet, silahkan dinikmati makanannya."Jakson mempersilahkan dan berpamitan.


" Tentu tuan.."Balas Haikal dengan singkat.


Jakson segera berlalu dari hadapan Haikal dan Amara.


Kepergian Jakson benar-benar membuat suasana sangat canggung bagi Amara. Bahkan Amara tak berani mengangkat wajahnya, entah mengapa bahkan Amara sendiri tak tau sebabnya.


Haikal mengakhiri makannya dengan meminum jus pesanannya lalu menatap Amara dengan intens. "Oh iya, Kemana Victor ?? apa dia kesini juga karna ada liputan ??" Haikal memulai percakapan.


"Kau tau Haikal jurnalis ??" Amara memastikan.


Haikal pun tersenyum. " Iya.. aku pernah bertemu dengannya sewaktu ia meliput beberapa berita."


Amara menggangguk pelan. "Iya..dia ikut kesini juga karna akan meliput berita."


Mata sendu dan begitu teduh yang dimiliki Amara, membuat Haikal tak tega mengatakan apa yang dilihat semalam. " Victor akan merasakan akibatnya jika sampai membuatmu menangis Amara..Aku berjanji..Aku merelakan kau bersama dia untuk kebahagiaanmu, bukan untuk dihianati seperti ini.." Batin Haikal dengan sungguh-sungguh.


.


.