
Bab 101
.
.
.
Miranda menepis tangan Victor yang menarik dirinya.
"Lepas !!!"
"Mir.. Kau bisa tidak jaga bicaramu. Yang bersama Amara tadi atasanku."Ucap Victor.
"Oh.. Jadi selama ini kau tau jika Amara juga dikota ini ??!! Apa ini yang membuatmu mau bekerja dengan pria itu !!!?" tuduh Miranda berapi-api.
"Kenapa kau bicara begitu mir ?!! Bahkan kau dengar sendiri kan, Mereka sudah menikah lama !!" Timpal Victor.
"Wanita mana yang tidak akan kawatir dan cemburu !!!? Secara dia adalah mantan istrimu !!" sentak Miranda.
"Lalu aku harus bagaimana !!!? Amara istri atasanku !! Bagaimana aku menghindari bertemu dengannya ?!!! Kau juga harus sadar, aku dan Amara terikat anak !!!" sentak Victor balik.
"Kau dan aku juga akan terikat anak Vic !!! kau juga harus sadar akan hal itu !!!" Miranda semakin berapi-api.
Victor memijit pelipisnya. Entah mengapa malah menjadi serunyam ini.
Miranda menghentikan taksi dan pergi dari sana.
"Mir !!! Kau mau kemana ??!!" Victor mengetuk pintu mobil taksi itu. Namun taksi sudah berjalan lebih dulu.
"Aahhh !!!! Baru saja baikkan. Sudah marah lagi !!!" Umpat Victor dengan kesal seraya memukul udara.
.
.
Amara menutup pintu kamar Gea perlahan setelah menidurkan putri kecilnya.
Ia mengusap wajahnya perlahan lalu hendak melangkah kekamarnya. Namun Kedatangan Haikal begitu membuat Amara terkejut.
"Kau ?? Kau bilang tidak akan naik keatas ??!!" Tuding Amara
"Aku hanya ingin bicara."balas Haikal.
"Bicara apa ?? Victor lagi ?? Berhenti membicarakan dia."Ucap Amara dengan malas.
"Bukan.."
" Lalu ??"
"Kita percepat pernikahan kita saja."Ucap Haikal.
"Apa kau tidak suka ??" tanya Haikal balik.
Amara seketika menatap kearah lain. Ia cukup malu membicarakan hal itu. "Bukan..em.. Maksudku,.."
"Kau hanya perlu persiapkan diri saja. Selebihnya biar aku yang urus. Hanya dengan ini aku bisa tenang, menjaga dan menghalangi bajingan itu mendekatimu."Ucap Haikal. Yang kemudian membalikan tubuhnya untuk turun kebawah.
Amara hanya menatap kepergian kekasihnya itu. Pria yang begitu berusaha membahagiakan dia.
.
.
"Ohhh.. Faster..come on.."De sa h Miranda yang berada dalam kungkungan Hadi.
Pria berbadan tambun tambang uang Miranda itu memompa dirinya memasuki Miranda dengan lebih dalam
Lenguhan pun terdengar saat puncak kenikmatan sudah mereka berdua rasakan.
Hadi tergeletak disisi Miranda yang juga terengah-engah akibat pergulatan panas yang mereka lakukan.
"Aku fikir kau serius dengan ucapanmu "Ucap Hadi.
Miranda seketika memiringkan tubuhnya kearah Hadi dan dengan manja memainkan jari didada berbulu milik Hadi. "Mana mungkin..Aku terpaksa berbohong dengan pacarku itu. Agar hubungan kita tidak ketahuan."
"Apa yang membuatmu mempertahankan pria kere seperti dia Miranda ?? Bahkan jika kau berpisah darinya dan menjadi istri keduaku, Kau akan mendapatkan semuanya. Kau akan hidup mewah ??" Tanya Hadi dengan menatap Miranda.
Bukannya menjawab Miranda menerbitkan seulas senyum genit pada Hadi.
"Sekarang aku tanya padamu, Jika aku mau kau menceraikan istri pertamamu, apa kau mau ???" Tawar Miranda.
Kening hadi berkerut tak faham. "Maksudnya ??"
"Apa kau bersedia bercerai dengan istrimu yang sekarang jika memang kau mau menjadikan aku istri keduamu" Lagi, Miranda menjelaskan.
"Tentu saja tidak bisa sayang. Aku dan Istriku sudah memiliki 3 anak yang sudah dewasa, dan masih banyak lagi alasan-alasan yang tidak bisa aku jelaskan."Balas Hadi.
"Begitupun denganku, Ada sebuah alasan yang membuatku harus bertahan dengan pacarku, Setidaknya hubungan kita akan aman selama aku juga memiliki Pacar."Timpal Miranda.
"You are creazy Miranda..tapi aku malah suka. Kita lanjutkan lagi ??" Hadi bangkit lagi dari tidurnya.
"Ooh.. Sebenarnya aku lelah, Tapi demi uangmu, aku rela sayang.."Miranda membuka semua selimut yang menutupi tubuhnya dan Dengan gerak perlahan Hadi kembali menggagahi Miranda.
Lagi dan lagi, kedua anak manusia itu meluapkan Na f su sesat dalam kemar temaran itu.
.
.