
Bab 92
.
.
.
Akhir pekan Pun tiba. Baik Gea maupun Fia sudah siap dengan setelan mereka. Bahkan keduanya terlihat bersemangat saling bergandengan saat menuruni anak tangga. Dua pelayan yang ditugaskan Haikal sampai kuwalahan mengikuti dua anak kecil itu.
Sindy dan ani pun juga telah siap, mereka merasa disambut dan diratukan disana. Kamar yang mewah bak kamar hotel, makanan dengan berbagai macam menu sejak malam hingga Pagi. Dan jangan lupakan kesukaan mereka, yaitu gratisan mereka menginap secara gratis dimansion Haikal itu.
Berbeda dengan Amara yang terlihat santai dengan kaos oblong dan celana pendeknya, Ia seolah tidak tertarik untuk jalan-jalan sesuai ide Haikal yang seolah menjadi pemandu wisata para teman-teman Amara. Bahkan Amara malah membantu para pelayan membersihkan meja makan. Meski sudah dicegah beberapa kali, namun nyatanya tak bisa membuat Amara berhenti.
"Loh Am.. Kok kau belum ganti baju ??" Tanya Sindy yang baru turun.
Amara tak menjawab, ia hanya membereskan piring dimeja makan.
" Aku sedikit pusing. Maaf ya, aku tidak bisa ikut." balas Amara singkat.
"Kau ini bagaimana, kita jauh-jauh datang malah tidak mau jalan-jalan !!?" protes Ani.
"Iya mommy.. Daddy juga ikut.. Kalau mommy tidak ikut kita tidak jadi liburan !!!" Tambah Gea.
" Aturan siapa itu ??" Tanya Amara keheranan.
" Tentu saja calon suamimu, Hargai sedikitlah Am usaha dia.."Ucap sindy.
Amara yang memutar bola matanya dengan malas tak sengaja melihat Haikal yang melipat kedua tangan diujung tangga.
"Baiklah. Aku tidak akan ganti baju. Aku pakai baju ini saja."Ucap Amara seraya melenggang menujunkamarnya.
Saat berpapasan dengan Haikal ketika ditangga, Sunggingan senyum diberikan Haikal pada Amara. "Terima kasih sayang.."Ucap Haikal menggoda.
Amara seketika mengalihkan pandangannya. Berbeda dengan hati. Kata sayang itu menggelitik hati Amara saat itu.
.
.
Victor sama sekali tak percaya Miranda hanya sebagai sekretaris karna dalam waktu satu pekan saja Miranda sudah bisa memiliki mobil dan rumah.
Miranda yang tidak terima dituduh Victor meluaplkan amarahnya tanpa peduli ada bibi May disana.
"Sekarang katakan saja Mir, kau menjual diri dimana hah !!!? Inikah alasanmu menolak menikah denganku !!!?" tuduh Victor.
"Dasar pria gila !!! Jaga mulutmu itu !!! Jangan seenaknya. Ya !!! Seharusnya otakmu itu kau gunakan, bagaimana aku mati-matian membujuk atasanku agar memberiku tunjangan tempat tinggal !!!? Kau mana tau !!!? Jangan Seenaknya menuduh jika kau saja belum bisa melakukan apapun untuk hubungan kita !!!" balas Miranda tak kalah pedas.
"Kau fikir aku bodoh !! Sebaik-baiknya atasan mana ada yang memberi tunjangan sebanyak yang kau dapat Mir !!!? Aku juga pernah bekerja, Bahkan aku juga sedang bekerja diperusahaan, Tapi tidak ada tunjangan seperti yang kau katakan !!!"
Miranda memejamkan mata seraya menutup kedua telinganya. "Stop Vic !!!" sentak Miranda..
"Aku muak denganmu !!!" Ucap Miranda yang langsung beranjak dari duduknya dan keluar seketika.
"Mir !!! Miranda !!!" panggilan Victor yang beberapa kali sudah tak diindahkan oleh Miranda.
Victor hanya bisa membuang nafasnya dengan kasar. Ia kemudian berbalik dan memilih masuk kedaalam rumah saja, berpapasan dengan bibi May pun Victor tak sampai menyapa, wajahnya yang lusuh membuat bibi may faham apa yang dirasakan pria itu.
Tak lama Victor keluar lagi dengan jaket kulitnya.
"Bibi.. Aku keluar sebentar ya.. Tolong beritau Miranda jika dia pulang." pamit Victor.
"Iya..Kuatkan hatimu. Miranda memang keras orangnya."Balas Bibi May.
Victor hanya menggangguk pelan lalu langsung keluar dari rumah bibi may. Hari libur yang seharusnya digunakan orang-orang untuk berkumpul dengan keluarga, ternyata tidak dirasakan Victor saat itu.
.
.