
bab 47
.
.
.
Jakson menunjukkan rekaman yang dikirim mata-mata suruhannya yang mengikuti kemanapun Miranda pergi. Seraya menjelaskan satu persatu.
Lidah Amara seakan kelu dan dadanya amat sesak sekali untuk bernafas. bahkan bersuara saja Amara seperti tidak mampu. Sesuatu yang ia takutkan ternyata terjadi juga dalam rumah tangganya. Dan yang lebih menyedihkan sang suami malah bermain gila dengan istri dari bos Amara sendiri. Membayangkannya terus dan terus seolah memporak porandakan ketegaran Seorang Amara.
Jakson bisa melihat gurat keterkejutan, bahkan kesedihan dimata Amara. namun Amara terus menahan air matanya agar tidak jatuh dihadapan sang bos.
Setelah beberapa saat Amara langsung memalingkan wajah, apalagi saat rekaman itu memperlihatkan victor dan Miranda berciuman mesra ditepi pantai.
Jakson pun segera menurunkan ponselnya. ia jugs begitu sakit bila mendengar decitan pertukaran slavina antara Victor dan istrinya.
"Am.." Panggil Jakson yang terus menatap Amara
Amara mengatur nafasnya beberapa kali dengan mengatur diri agar jangan sampai menangis. ia berusaha sebisa mungkin.
"Tuan..maafkan saya."Ucap Amara seraya menahan suaranya agar tidak terdengar bergetar.
" Maaf ?? maaf untuk apa ??" Jakson dibuat keheranan.
Amara menerbitkan senyum dan terus mengatur nafas hingga terdengar begitu berusaha sekali. "Maafkan saya, karna kekhilafan suami saya anda harus tersakiti begini." Amara tertunduk. ia bahkan tak berani menatap sang bosnya.
" Am..ini bukan kesalahanmu..ini kesalahan mereka berdua..kau tidak harus meminta maaf. seharusnya malah aku yang minta maaf padamu. karna aku gagal mendidik istriku.."Sesal jakson dengan begitu sakit sekali dadanya.
"Dan yang harus kau ingat. mereka tidak khilaf, mereka tidak lupa. karna mereka bisa sadar menyembunyikan hubungan seperti ini dibelakang kita. "Tambah Jakson lagi.
"Malam ini suamimu beralasan denganmu hendak liputan, sedangkan istriku beralasan akan meninjau liputan. Bahkan kantor pusat bilang tidak ada liputan apapun diBali.. Kau tau mereka kemana ?? mereka sudah cek in dihotel lagi.."Terus dan terus Jakson membuka semua yang baru saja dilaporkan anak buahnya.
" Aku berniat kesana. jika kau ingin ikut ayo bersama denganku, Kita harus punya bukti untuk memenjarakan mereka berdua."Lagi Jakson memberi usulan dan ajakan
Dada Amara naik turun. ia sudah tak mampu menahan sesak dan sakit yang begitu terus dan terus terasa
segera Amara berdiri dari duduknya.
" Maaf tuan.. saya permisi dulu.." Amara langsung berlari tanpa menunggu jawaban Jakson. Jakson pun tak berani mencegah. ia tau bagaimana rasa sakitnya dihianati sebab ia kini juga merasakan hal yang sama. Tangan jakson terkepal kuat dengan menghubungi anak buahnya.
"awasi mereka sampai saya tiba disana."perintah Jakson yang langsung beranjak guna menuju hotel dimana istrinya dan Victor berada.
.
.
Ia tak pernah menyangka jika fikiran buruknya akan terjadi juga.
saat pintu lift terbuka, Amara langsung berlari menuju kamar apartemennya, bersamaan dengan dering ponselnya berbunyi.
Meski menangis, Amara berusaha meraih ponselnya dan melihat jika sahabatnya dijakarta lah yang menghubungi.
Dengan cepat Amara meraih tisu dan mengusap air matanya. ia berusaha menyembunyikan kesedihannya. karna ia tau betul kedua sahabatnya hendak memberinya ucapan selamat.
Amara segera menggeser layar hijau dilayar ponselnya. ia mengembangkan senyum saat wajah-wajah sahabatnya terlihat.
" Amara !!!" Teriakan Ani begitu memekik ditelinga.
" Congratulation my Friend.." Tambah sindy.
"Kau keren Am !!!" Nindi menambahi.
Amara menggangguk dengan penuh haru. bahkan ketiga temannya meniup terompet kecil sebagai tanda turut bahagia.
Air mata Amara benar-benar tak tertahan dan mengalir begitu saja dengan lancangnya.
" Loh..loh.. kenapa malah menangis..??!!" Tegur Nindi yang bisa melihat air mata Amara mengalir.
Dengan cepat Amara mengusapnya.
.
.
Mohon maaf men temen..Updatenya nggak tentu. soalnya otor lagi sakit 🤒🤕🤧
harap dimaklumi ya, ini aja udah maksain nulis sambil tiduran makanya kalau banyak Tipo jangan dihujat dulu..
Terima kasih..🙏🙏
.
.
.