
Bab 102
.
.
.
Sekitar pukul 2 dini hari Miranda baru tiba dirumah. Lelah sangat ia rasakan karna Hadi begitu terus dan terus mengulang pergulatan mereka.
Tujuan Miranda langsung kamar untuk istirahat. Baru saja ia masuk ia dikejutkan dengan Victor yang ternyata belum tidur dan masih terjaga menatap dirinya.
"Kau dari mana ??" tanya Victor.
"Meluapkan kekesalanku. Aku mau tidur."Balas Miranda yang segera merebahkan tubuhnya diranjang.
Victor turut keranjang dan berbicara lagi. "Besok kita harus segera menikah. Jika kandunganmu bertambah besar apa nanti kata orang. Kasihan bibi May."
"Terserah kau saja." balas Miranda dengan singkat.
"Ayolah Mir.. Jangan marah terus..Aku kan sudah jelaskan padamu semuanya tadi.."Bujuk Victor.
"aku tidak yakin kau akan menjelaskan semuanya kalau tadi tidak bertemu mantan istrimu !!! Pasti kau akan berusaha diam saja !!" Gerutu Miranda.
"Tentu saja tidak.. Aku hanya menunggu waktu Mir.."timpal Victor.
"Waktu apa ??? Waktu kau untuk mendekati amara lagi kan ??!!" tuduh Miranda.
Victor mendegus dengan kesal. Sulit bicara dengan orang yang sedang kesal begini.
"Please Mir.. Amara itu hanya masa laluku, bahkan aku tetap memilihmu kan dari pada dia.."Ucap Victor lagi.
"Aku tidak yakin jika saja kita tidak ketahuan" Gerutu Miranda lagi.
"Terserah kau saja. Yang penting kita harus segera menikah."timpal Victor yang kemudian memilih merebahkan tubuhnya disisi Miranda.
Dengan inisiatif sendiri, Victor menghadap Miranda dan memeluk wanita itu dari belakang.
"Malam-malam.kau berkeringat sampai seperti ini ??" tanya Victor sedikit heran.
"Memangnya tidak boleh !!?? Mana aku tau juga !!" Sanggah Miranda berusaha tak panik.
Victor mengusal kepalanya diceruk leher belakang Miranda. Namun kembali ia dibuat keheranan.
"Kau beli parfum baru ?? Kenapa wanginya asing sekali ??" Tanya Victor lagi.
Tak mau diintimidasi terus, Miranda mendorong Victor agar menjauh. "Kenapa kau seperti jaksa sih ??!! Semua kau tanyakan !! Memangnya kenapa kalau aku berkeringat ??!! Dan lagi memang kenapa juga kalau aku beli parfum baru ??!! Oh.. Aku tau, kau pasti mau menuduhku yang bukan-bukan kan ??!!!" Celoteh Miranda dengan kesal.
"Kau selalu beralasan !! Jika kau masih ragu padaku, aku tidak masalah membesarkan anak ini sendiri !!!" Sentak Miranda.
"Kenapa malah bicara begitu. Aku tidak ada niat seperti itu.. Sudah ya, maafkan aku..aku tidak akan seperti ini lagi.."Victor berusaha mengalah.
Miranda.menepis tangan Victor yang hendak menggapainya.
"Malam ini tidurlah ditempat lain. Aku sedang kesal padamu !!" Miranda kembali membaringkan tubuhnya dan menutupi seluruh badan dengan selimut.
Victor hanya bisa pasrah. Ia berfikir mungkin efek kehamilan yang membuat Miranda sedikit bawel dan mudah marah.
.
.
.
Pagi hari, Amara sudah siap dengan kotak makanan yang cukup besar. Dengan dibantu pelayan dirumah Haikal, Ia membuat makanan guna dibawa kerumah sakit.
Sindy yang memang juga kembali bersama suaminya membantu Amara menyiapkan semuanya.
"Anak-anak biar dengan Suamiku saja Am, Tidak usah diajak kerumah sakit."Ucap Sindy.
"Kau yakin ?? Suamimu akan kuwalahan lagi nanti.."Balas Amara.
"Ini hari terakhir kami disini. Setidaknya Fia bisa bermain dengan puas bersama Gea. Entah kapan kami bisa berlibur kemari lagi.."Tutur Sindy.
"Jakarta Jogja kan tidak jauh. Setiap Akhir pekan kau bisa kemari."Canda Amara.
"Jangan aneh-aneh Am..Uangku bisa habis.. Suamiku bukan pria kaya seperti calonmu.."Timpal Sindy.
Amara memanyunkan bibirnya.
"Jadi kapan pernikahan kalian ?? apa aku Nindi dan Ani harus kemari lagi ??" Tanya Sindy.
"Aku juga tidak tau. Semua Haikal yang mengatur. Untuk kalian, jika kalian tidak sayang padaku pasti kalian tega untuk tidak datang."Amara berceloteh.
Sindy tertawa dengan ekspresi Amara itu. "jangan marah-marah. Kasihan garis-garis halus dimatamu itu.." Goda Sindy yang langsung berlari menuju ruang tengah.
"Awas kau ya ?!!!"
.
.
.