Secret Affair

Secret Affair
Aku sudah mendengarnya



bab 85


.


.


.


Tengah malam Haikal belum tidur, ia merasa sangat bersalah pada Amara yang begitu tak bisa jika dekat dengan Victor. apalagi beberapa hari ini Amara terlihat sering menangis. sesuatu hal yang tak bisa dilihat oleh Haikal adalah kesedihan Amara. wanita yang selalu menempati hatinya.


"Mau sampai kapan kau begini Bos ??" Sebuah suara membuyarkan lamunan Haikal.


Haikal tersadar lalu membenahi duduknya. "Kau seharusnya ikut mereka kan malam ini ?? kenapa belum berangkat ??" Haikal mengalihkan pembicaraan.


Rebecca mengembangkan senyum seraya turut duduk disisi Haikal.


"Dan supaya Amara curiga begitu ?? dia mana mau menginap disini jika aku tidak menginap juga.."


"Kau benar.." Balas Haikal lirih.


"Bos..sampai kapan kau akan diam ditempat begini ?? lihatlah, sandiwara kita malah membuat kau dan Amara jadi canggung ?? bagaimana kau bisa mendekatinya jika ada Hubungan ilusi antara kita ??!!" terang Rebecca. ia sudah tak tahan berakting seperti itu


"Lalu bagaimana ?? Aku tidak mau dikatakan menggunakan kesempatan keterpurukan dia. aku mau aku dan Dia menjalani kebersamaan seperti dulu. dulu sewaktu aku bersama dia Re.."Haikal menatap kelangit seolah mengingat kenangan yang begitu indah antara dia dan Amara.


"Ini sudah 2 tahun lebih bos. Ucapan seperti itu tidak akan kau dapatkan.. lagian Amara kan janda, masih bagus janda kan dari pada mengganggu istri orang ??!!" nasehat Rebecca.


Haikal termenung, Ia tak harus bagaimana. Ia seakan begitu takut Amara menjauh darinya jika sampai Amara tau semua sandiwaranya.


"Lebih baik kita segera akhiri saja bos. 2 bulan lagi aku harus London menemui Suamiku. Lalu alasan apa yang akan kau gunakan untuk menjelaskan pada Amara" tutur Rebecca.


Haikal masih diam.


"Aku sudah mendengarnya Re..!!!" Suara Amara begitu mengejutkan Rebecca dan Haikal.


Rebecca begitu kalut dan langsung berlari menghampiri Amara. "Am.. kau..kau..sejak kapan disini ??"


Amara tak melepaskan tatapannya pada Haikal yang masih diam ditempat. "Sejak kalian katakan semua hanya sandiwara."


"Am.. I'm so sorry.. Aku tidak ada niat mempermainkanmu.. please.. jangan menerka dan berfikiran buruk dulu ya ??" Rebecca begitu kawatir. takut jika sampai Amara salah faham.


Rebecca mengikuti tatapan Amara. seolah tau jika Amara butuh bicara berdua dengan Haikal, Rebecca pun mengalah. "Baiklah.. biarkan bos yang menjelaskan.." ucap Rebecca yang memilih pergi dari sana.


"Apa hidupnya hanya untuk mainan Haikal ??!" Tanya Amara yang begitu kecewa dengan kebohongan Haikal.


Haikal pun berdiri dan mendekati Amara.


Tak lupa Haikal membalas tatapan Amara. kedua mata mereka saling beradu. hingga Haikal bisa melihat manik mata Amara yang berair.


"Karna aku tidak mau kehilanganmu Am.."ucap Haikal lirih namun terdengar jelas.


"Hah ?!! Alasanmu tidak akurat. kau berpura-pura memiliki tunangan. bahkan kalian bertukar cincin dihadapanku, kau bilang takut kehilanganku ???!!" Terang Amara.


"Maaf.. aku memang salah." Haikal terlihat mengalah.


"Aku tidak menyangka. kau juga bisa berbohong seperti bajingan itu !!!" tuduh Amara


"Jangan samakan aku dengan bajingan itu Am.."


" Lalu ???"


"Aku sangat ingin selalu didekatmu. aku juga tidak bisa jika harus melihat kau menangis dan berlarut dalam kesedihan. Aku tidak tau bagaimana caranya agar bisa dekat denganmu Am.. karna selama ini kau begitu membatasi dirimu.." Jelas Haikal.


"Melihat kau dihianati rasanya aku ingin menghajar bajingan itu. tapi aku sadar, aku bukan siapa-siapamu.. aku tidak berhak ikut campur urusan rumah tanggamu.. hanya dengan membantu beberapa yang kau butuhkan saja yang bisa aku lakukan agar kau tidak berfikir aku menggunakan keterpurukanmu untuk mendekatimu.." terang Haikal lagi.


"Kau tau. dihati ini.."haikal memegangi dadanya.


"disini tetap kau yang menempatinya. dulu, kemarin dan sekarang, sampai kapan pun tidak akan terganti. Aku berjuang agar menjadi layak mendampingimu, tapi saat aku kembali ternyata kau sudah bersama Victor. aku menerimanya Am. aku tidak mempermasalahkan karna mungkin kepergianku yang tanpa kabar dan cukup lama membuatmu berfikir aku telah melupakanmu.. Tapi satu yang harus kau ingat. Cinta dihatiku tidak pernah padam sampai detik ini." Tambah Haikal dengan begitu jelas.


terlihat air mata Amara lolos meluncur dikedua pipinya. sebuah pernyataan yang mengingatkan Amara pada hubungan mereka semasa dulu.


.


.


.