
Bab 115
.
.
.
Miranda kembali sekitar tengah malam, Dimana semua penghuni rumah bibi May sudah tidur termasuk juga Victor.
Lampu kamar yang redup membuat Miranda perlahan memasuki kamar karna takut Membangunkan suaminya.
kelegaan dirasakan Miranda saat melihat Victor sudah tertidur pulas dengan selimut membalut tubuhnya.
Miranda meletakkan tas yang ia bawa dan membuka kalung berlian.pemberian Hadi tadi yang disematkan dilehernya.
Senyum sumringah tak luntur sedikitpun dari wajah Amara saat melihat Berlian berkilau ditangannya.
Selesai melepas perlengkapan perhiasannya, Miranda memilih membersihkan diri terlebih dahulu kekamar mandi.
Mata Victor terbuka dengan jelas saat pintu kamar mandi tertutup dengan sempurna.
Perlahan Victor turun dari tempat tidurnya dan menuju meja rias Miranda. Segala keganjalan yang terjadi membuat Victor berusaha ingin menyelidiki bagaimana Miranda selama ini. Jika ia sudah Resign untuk apa keluar hingga semalam itu.
Tiba didepan meja rias, Victor meneliti satu persatu hingga netranya memicing saat melihat Kotak perhiasan baru disana.
Victor segera membukanya, dada Victor bergemuruh sekali saat melihat isi didalam wadah itu.
"Perhiasan berlian ?? Dari mana Miranda mendapatkan ini ??" Batin Victor.
Victor meneliti kotak itu dan membuka surat berlian didalamnya. "Ini brand termahal, dia dapat uang dari mana ??" kembali Victor bertanya sendiri dengan batinnya.
Tak puas dengan hasil temuannya, Victor beralih pada ponsel Miranda.
Didalam ponsel pun tak ada yang mencurigakan sama sekali.
Victor beralih pada tas Miranda yang baru saja dipakai.
Victor membuka isi didalam tas itu.
Mata Victor membulat sempurna saat melihat beberapa alat kontarsepsi bahkan obat penambah durasi, obat penambah ukuran milik pria, Dan sebuah kertas yang Victor yakini dari rumah sakit.
Dengan dada yang naik turun, Victor membuka kertas itu.
Seakan tersambar petir dengan apa yang dilihat, Tulisan dikertas itu membuat Victor tak menyangka Dengan semuanya. "Miranda.. Apa ini ??" Gumam Victor.
Kertas itu memang dari rumah sakit, namun yang membuat Victor terkejut adalah isinya, bukan tentang pemeriksaan kehamilan melainkan pemeriksaan berkala steril pada indung telur Atas nama Miranda.
"Jadi selama ini.. Selama ini dia.."Victor menatap kearah pintu kamar mandi yang masih tertutup.
Rasanya sesak sekali melihat kenyataan kebohongan Miranda.
"Lalu kenapa dia bilang dia hamil ??"Gumam Victor lagi.
Meski darahnya seakan mendidih, dengan.menyatu jadi satu pada sebuah kekecewaan, Tapi Victor memilih untuk kembali tidur diranjang, berpura-pura tidur kembali.
Bersamaan dengan itu Miranda keluar kamar mandi lengkap dengan setelan piyama tidur.
.
.
Sinar mentari pagi sudah meninggi, Victor juga sudah siap dengan setelan kerjanya. ia berniat mencari pekerjaan lagi setelah kemarin ia memaksa Resign dari kantor Haikal.
Miranda yang pagi itu tumben sekali menyiapkan sarapan untuk semua orang dirumah itu mendapat teguran dari bibi May.
"Kau tumben rajin sekali Mir.." tegur Bibi may yang didorong suster mendekati meja makan.
"Aku mau belajar menjadi istri yang baik Bibi.. Apa tidak boleh."Balas Miranda.
"Tentu saja boleh.. Itu yang selalu bibi harapkan Anakku.."Timpal bibi May dengan senyum sumringahnya.
Victor keluar kamar dengan tas ditangannya.
"Vic, sarapan dulu. Aku buatkan pasta kesukaanmu.."Ucap Miranda.
Victor menyalami bibi May sebagai rutinitas ia sebelum berangkat bekerja."Bibi, aku berangkat dulu."
"Maaf, Aku buru-buru. Kalian sarapan saja berdua." balas Victor pada Miranda.
"Apa makan sebentar tidak bisa ?? Ini masih pagi Vic.."Protes Miranda.
"Tidak. Aku pergi dulu."Victor langsung keluar begitu saja.
Tatapan datar Victor membuat Miranda begitu kesal.
"Ada apa dengan pria itu ??" Gumam Miranda sendiri.
"Dia berniat baik mau menikahimu Miranda. Kau kenapa belum mau menikah sih ??"Tegur bibi May.
"Aku sudah setuju Bik, tapi tidak tau kapan dia mau menikahiku."Balas Miranda seraya duduk.
"Segera perjelas dan segeralah menikah. Jadikan masa lalumu pelajaran Miranda, hidupmu tidak akan menjadi tenang jika kau hanya bermain terus dengan banyak pria."Nasehat Bibi may.
"Bibi kenapa bicara begitu ?!!! Bahkan priaku hanya Victor saja.."Protes Miranda lagi.
"Bibi hanya mengingatkan. Sudahlah ayo makan.."Timpal bibi May yang memilih langsung mulai menyantap sarapannya.
.
.
.