
Bab 127
.
.
.
Tiba diruangan rawat Miranda, Victor membukakan pintu perlahan.
Hening terasa karna ternyata Miranda tengah terlelap akibat suntikan obat penenang.
Diambang pintu, Jakson begitu tak tega melihat kondisi mantan istrinya itu. Sementara Nindi pun begitu terkejut dengan kondisi Miranda yang begitu memprihatinkan.
"Dia sejak tadi histeris karna kehilangan kakinya. Kaki Miranda terpaksa diamputasi karna kerusakan syaraf serta jaringan. Remuk, dia dilindas dibagian kakinya."Terang Victor dengan suara berat
Nindi menutup mulutnya karna saking terkejut. "Dilindas ?? Apa kecelakaannya disengaja ??" tanya Nindi.
"Aku juga tidak tau."Balas Victor lirih ..
"Apa dia dengan pria itu ??" tanya Jakson.
Victor tak menjawab. Ia hanya menunduk menekan rasa sakit didalam hatinya.
"Semoga setelah ini Miranda bisa berubah."tambah Jakson.
"Iya. Ini termasuk sebuah teguran. Bahwa yang dilakukan adalah tidak benar."tambah Nindi.
"Terima kasih.. Semoga saja.."Balas Victor.
Jakson menepuk pundak Victor pelan. "Kuatkan hatimu. Jika bisa jangan tinggalkan dia dalam kondisi seperti ini. Kau berhak menuntun dia menuju yang lebih baik. Karna aku percaya padamu."
Victor dan Jakson saling tatap hingga senyum tipis diterbitkan Jakson.
"Kami pulang dulu. Miranda juga masih istirahat. Besok kami akan berkunjung lagi jika belum kembali kejakarta."Pamit Jakson.
"Terima kasih sekali lagi tuan..Nindi.."Balas Victor dengan menunduk.
"Biasa saja.. Meski kau menyebalkan kau tetap teman lamaku."Timpal Nindi.
Victor tersenyum tipis, lalu kemudian Nindi dan Jakson berlalu dari sana.
Victor bisa menatap punggung Jakson dan Nindi. Dua orang yang begitu ia abaikan dimasa lalu kini malah begitu perhatian padanya.
Victor kemudian berbalik menatap Miranda yang terbaring dengan sesekali sesenggukan.
"Apa kau bisa berubah ?? Kita harus menyesal dan merubah diri Miranda.."Gumam Victor dengan tatapanpenuh harap pada Miranda.
.
.
.
Ani sudah mendandani Gea guna mengajak anak kecil itu sarapan bersama dengan Sindy dan Nindi.
"Sudah siap.. Gea sudah lapar belum ??" Tanya Ani dengan penuh senyum.
Gea menggangguk cepat. "Sudah aunty.."
"Baiklah.. Kita turun yuk, Pasti Fia juga sudah menunggu kita diresto bawah."Ani mengulurkan tangan agar digandeng Gea lalu mereka beriringan keluar.
"Oh ya Aunty, Mommy dan Daddy juga akan makan bersama kita kan ??"Tanya Gea sembari berjalan.
"Em.. Semoga saja ia."jawab Ani pelan.
"kok begitu ?? Memang Momny dan daddy kemana ?? Biasanya Mommy tidak melupakan sarapan pagi loh..?"Tanya Gea lagi seraya menengadah menatap Ani.
Ani seketika tersenyum penuh kelembutan. Gea belum mengerti apapun. Hingga Ani berjongkok dihadapan Gea seraya menjelaskan.
"Mungkin Mommy masih capek sayang.. Coba saja Gea bayangin, Memakai gaun sebesar dan seberat yang dipakai Mommy semalam dari sore sampai malam, Pasti sangat menyulitkan dan melelahkan bukan ?? Jadi, Gea pinter ini harus pengertian sama Mommy, Biarkan mommy beristirahat dulu, nanti juga kalau mommy sudah tidak capek pasti nyusulin kita."
"Begitu ya.. Baiklah, aku mau main saja sama Fia nanti."Timpal Gea.
"Nah begitu anak pinter.."Ani mengusap pelan rambut Gea lalu berdiri melanjutkan langkah mereka.
Ani sedikit terkekeh saat melihat dua pengawal Gea yang setia mengikuti mereka berdua sejak keluar dari kamar tadi.
Tiba dibawah, Ani dan Gea bertemu Nindi dan juga jakson.
"Aunty Nindi !!!" teriak Gea dan memeluk sahabat mommynya itu.
"Gea sayang.."Nindi menerima dengan bahagia.
"Tidur sama Aunty Ani ya ?? Pantas Aunty cari-cari tidak ada.." Ucap Nindi.
"Jangan alasan Nin, Aku tau kalian sengaja agar bisa tidur sekamar kan ??" Ejek Ani, Nindi hanya memanyunkan bibirnya sementara
Jakson bukannya protes melainkan terkekeh. Ucapan Ani tidak ada yang meleset, benar semuanya. Bahkan drama semalam membuat Jakson ingin secepatnya menikahi gadis yang sudah menempati hatinya itu.
.
.
.