Secret Affair

Secret Affair
Aku sangat kawatir



Bab 138


.


.


.


Langit cerah diiringi cuaca yang juga begitu cerah, menjadi saksi acara sakral Ijab kabul antara Nindi dan Jakson.


Amara yang tidak mau ketinggalan menggandeng Nindi yang hendak menuju meja Ijab kabul sesaat setelah MC Memanggil namanya. Dengan ditemani juga oleh Ani dan juga Sindy, Tak luntur sedikitpun senyum diwajah 4 wanita cantik yang berjalan bersamaan itu. Seakan mereka mewakili rasa bahagia yang dirasakan oleh Nindi.


Setelah mengantar Nindi duduk disisi Jakson, Amara sindy dan Ani juga menuju kursi masing-masing.


Amara disambut mesra oleh Haikal saat hendak duduk. "Kau cantik sekali.."Bisik Haikal.


"berhenti menggombal."Sentak Amara


Acara ijab kabul pun terlaksana dengan lancar dan tanpa halangan. Lantunan doa menjadi akhir atas sahnya hubungan pernikahan Nindi dan Jakson.


Acara berlanjut malam hari, Dimana pesta megah nan mewah digelar digedung itu pula.


Semua terlihat sudah berkumpul digedung, para tamu juga sudah berdatangan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.


Namun tidak dengan pasangan Amara dan Haikal. Amara yang sudah siap dengan gaunnya, terpaksa melepas kembali gaun itu saat perutnya terasa amat mual dan ingin memuntahkan segala isi didalam perutnya.


Hingga beberapa kali, Amara bolak balik kamar mandi, hal itu membuat Haikal begitu cemas dan sangat kawatir.


"Baby.. Kita kedokter ya ?? Wajahmu pucat sekali.."Ucap Haikal seraya membantu Amara duduk. Setelah memapah Amara dari kamar mandi.


Amara terengah-engah dengan tubuh lemahnya Seraya menggeleng. "Aku mungkin masuk angin hubby. Tidak perlu kedokter.."


"Tapi kau muntah lebih dari Sekali..Aku sangat kawatir.."Timpal Haikal seraya mengusap kepala Amara yang menyandar padanya.


"Aku buatkan teh hangat ya ??" Tawar Haikal.


Amara hanya menggangguk. mau bicara saja seolah sulit sekali karna tubuhnya yang terasa sangat lemah."Ada apa denganku.. Kenapa tubuhku lemah sekali.."Gumam Amara sendiri.


Haikal yang berada didapur, dan memang dalam keadaan kawatir segera menyuruh anak buahnya membawa dokter kekamar hotel mereka melalui panggilan telfon.


Selesai memberi perintah, Haikal segera membawa secangkir teh hangat untuk Amara.


Tiba diruangan kamar, Haikal tak mendapati Amara disofa. Melainkan suara Amara didalam kamar mandi.


"Hueekk !! Hueek !!"


"Ya Tuhan.. Amara.."Haikal buru-buru meletakkan Secangkir teh dimeja dan berlari menuju kamar mandi.


"Diamlah.. Dalam keadaan begini masih memikirkan hal seperti itu.."Haikal mendekat dan mengusap kepala Amara yang berkeringat dengan tisue, tak lupa Haikal dengan telaten mengusap bibir Amara. Membantu wanita kesayangannya itu berdiri dan tiba-tiba saja Amara kehilangan kesadarannya.


"Baby.. Baby.. Ya Tuhan.."Haikal membopong tubuh Amara menuju ranjang kamar.


Ia segera menghubungi anak buahnya. "Mana dokternya ?!!!" bentak Haikal dalam kepanikan.


"Kami dilobby tuan. Mohon tunggu sebentar."Balas mereka.


"Sialan '!! Cepatlah !!!" Haikal langsung mengakhiri panggilannya dan kemudian mendekati Amara dan mengusap wajah Amara. "Amara.. Baby.. Bangun sayang, Bagunlah jangan membuatku takut.." Ucap Haikal dengan begitu kawatirnya.


Tak lupa ia mengambil minyak angin mengolesi diperut kening dan dada Amara agar segera sadar.


Diarea pesta, Ani dan sindy juga kebingungan mencari keberadaan Amara.


"aku hubungi nomernya juga tidak diangkat. Kemana anak itu ??" Tanya Ani seraya mengutak atik ponselnya beberapa kali.


"Itu gea. Kita tanya dia saja.."Tunjuk Sindy yang melihat Gea berjalan dikawal 2 bodyguard.


"Gea !!" panggil Ani. Kedua wanita


Itu mendekati putri teman mereka.


"Ada apa aunty ?? Oh ya, Fia kemana ya ?? Sejak tadi aku tidak bertemu dia ??" Tanya Gea dengan polos.


"Fia duduk disana.."Tunjuk Sindy. "bersama Papanya."


"Oh.. Paman ayo antar aku kesana.."ajak Gea dengan dua pengawalnya.


"Eh gea tunggu, Aunty mau tanya. Mommy dan Daddy kemana ?? Kok belum turun ??" Cegah Ani.


"Mommy tidak enak badan kata Daddy. Nanti kalau sudah baik pasti turun. Aku mau sama Fia dulu aunty.."Gea berlari kecil dan dua pengawalnya dengan setia mengekor.


"Tidak enak badan ??"Ani menatap Sindy.


"Kita lihat dulu yuk.."ajak Sindy.


Ani menggangguk dan segera keduanya melangkah menuju pintu keluar guna melihat kondisi Amara dengan jelas.


.


.


.