
Bab 114
.
.
.
Victor nampak tak bersemangat untuk kembali. Ia melangkah dengan gontai dijalanan. Entah mengapa sesal terus saja terasa didalam hatinya.
Dipersimpangan jalan mata Victor tak sengaja melihat kearah lampu merah dimana wajah yang dikenali Victor ada didalam sebuah mobil disana.
"Miranda.."Gumam Victor.
Jelas sekali meski keadaan malam, Tapi Victor sangat jelas melihatnya.
"Dengan siapa dia ??" Gumam Victor sendiri lalu hendak menghampiri, namun Ternyata lampu lalu lintas sudah beralih hingga mobil-mobil sudah berlalu lalang kembali memadati jalan.
"Aku yakin itu tadi Miranda.."Ucap Victor dengan amat jelas.
Yang dibicarakan tengah tertawa lepas bahagia sepanjang perjalanan.
Bahkan Miranda tak sungkan mencium pipi Hadi hingga beberapa kali guna meluapkan rasa bahagianya karna sudah dibelikan berlian berharga.
"Lain kali aku mau yang lebih besar dari ini ya ??" Pinta Miranda seraya bergelayut manja.
"Tergantung servismu baby.."balas Hadi dengan kedipan genitnya.
Miranda membalas dengan anggukan cepat lalu keduanya saling berciuman bibir.
.
.
.
"Kau baik-baik saja ??" tegur Haikal yang masuk kekamar Amara. Sejak tadi sore Amara memilih masuk kekamar tanpa berkomentar.
"Iya. Aku baik."Balas Amara yang langsung menerbitkan senyumnya menatap Haikal.
Perlahan Haikal masuk kedalam kamar wanita kesayangannya itu.
Lalu duduk disisi Amara.
"Sudah waktunya makan malam. Rebecca dan Gea menunggumu dibawah."ucap Haikal
Amara bukannya menjawab ia malah memeluk Haikal dan bersandar dipundak Haikal.
"Sudah jangan difikirkan. Aku pastikan dia tidak akan menjangkaumu lagi.."Haikal mengusap kepala Amara menenangkan wanita itu.
Amara masih tetap diam dan tetap pada posisinya.
"bisa kita lanjut nanti lagi ?? Soalnya kalau terlalu nyaman aku jadi khilaf."Canda Haikal.
Amara langsung mendorong Haikal pelan. "otakmu selalu mesum ya !!"
Haikal terkekeh dengan balasan Amara. "Aku pria normal sayang..wajar dong.."
Amara langsung berdiri dari duduknya. "Kau membuatku takut."
.
.
Diluar Rebecca sudah mengambilkan makanan untuk Gea yang patuh itu.
"Malam Am.."Sapa Rebecca dengan Ceria. Ia sudah diberitau Haikal agar jangan menanyakan apapun.
"Iya. Maaf ya membuatmu menyiapkan semua ini sendiri."ucap Amara seraya duduk.
"Kau ini seperti tidak biasa saja Am.."Timpal Rebecca.
"Mommy sakit ??" tanya Gea
"No sayang.. Mommy.hanya kelelahan saja. Tadi ketiduran."Balas Amara seraya tersenyum.
Haikal yang sudah datang turut duduk dikursi kebesarannya. Tak lupa ia menyapa sang putri dengan kasih sayangnya.
"Bos. Besok aku harus Pergi. Jadi aku sekalian mau berpamitan."pamit Rebecca seraya makan.
"Katamu 2 bulan lagi. Kenapa tiba-tiba ???"Tanya Haikal.
"Iya Re.. Lusa pernikahan kami, kau tidak.berniat menemaniku ??" Tambah Amara
"Sorry bos. Suamiku memaksa untuk segera kembali. Dan kau Am, tenang saja, saat pernikahanmu aku pasti datang bersama Suamiku."tutur Rebecca
"Suamimu.bule Re ??" Tanya Amara.
Rebecca tersenyum "tentu saja."
"Benarkah ??" Amara begitu bersemangat.
"Tentu saja bukan. Ha..ha..ha.."Tawa rebecca terdengar lepas.
"Kau ini ?!" gerutu Amara
"Tidak semua yang tinggal diluar negeri dapat suami.bule Am. Aku dan suamiku menikah juga disini. Tapi karna bisnis Bos besar disana tidak ada yang menghandle makanya suamiku yang memilih bekerja disana saja."terang Rebecca.
"Ehhemm...?!!!" Haikal berdehem mencoba menghentikan Penjelasan Rebecca. Rebecca bisa membuka semuanya jika begini.
sontak Rebecca yang faham.hanya cengengesan.
"bos besar ??"Amara mengarahkan tatapannya pada Haikal.
Sementara yang ditatap pura-pura tidak menyadari.
"Ah sudahlah Am, jangan terlalu kau fikirkan. Suamiku juga pria biasa seperti kita. aku akan kenalkan lusa. Ok ??!!" Rebecca mengacungkan jempolnya.
Amara menggangguk pelan. kemudian.semuanya melanjutkan makan malambersama dengan penuh kehangatan.
.
.
.