Secret Affair

Secret Affair
sikap posesive



Bab 136


.


.


.


Hari berganti dengan begitu cepat, Waktu bergulir layaknya komedi putar, Tak terasa Sudah 2 bulan Amara menjadi istri sekaligus menjadi nyonya besar dirumah besar Haikal.


Atas permintaan Haikal, Amara sudah tidak lagi bekerja dikantor, Ia fokus mengurus Gea dirumah. Meski awalnya menolak, namun Keputusan Haikal seolah sudah tak bisa diganggu gugat lagi.


.


Siang itu, Amara sudah siap dengan bekal untuk suaminya. Ia bersama sopir yang sekaligus pengawalnya, segera memasuki mobil Menuju kantor Haikal bekerja.


Sepanjang perjalanan, Senyum tak luntur sedikitpun dari wajah Amara yang tengah berkirim pesan dengan para teman-temannya, membicarakan hadiah konyol yang didasari ide dari Amara.


Perhatian Amara teralihkan saat melihat tukang rujak yang melintas disisi trotoar saat Lampu merah menyala.


Entah mengapa melihat banyak buah digerobak itu membuat Amara begitu menginginkannya.


"Wen. Tunggu sebentar ya, saya mau beli rujak abang itu.."Tunjuk Amara dari belakang.


"Tunggu Nyonya. Itu rujak pinggir jalan. Kalau tuan besar tau saya bisa dimarahi. dan lagi, ini dijalan raya sangat berbahaya jika Nyonya keluar sendiri.." cegah Sopir sekaligus pengawal Amara.


"Asal kau tidak melapor dia tidak akan tau. Lagian ini kan masih lampu merah juga.."Balas Amara dengan kesal.


"Lampu merah hanya sebentar nyonya. Kita bisa dimarahi pengendara lain.."Wendi terus berkilah.


"Apa salahnya, Kita menepi sebentar Wen !!!?" Timpal Amara yang mulai kesal.


"Tapi Nyo..-"


"Jika kau tetap seperti itu, kau bisa saya pecat !!!" Ralat Amara.


Wendi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lampu lalu lintas beralih menjadi Hijau tanda mobil harus berjalan. Wendi yang sudah kalah telak dengan istri bosnya, akhirnya mengalah. Ia kemudian menepikan mobil dibahu jalan tepat didepan tukang rujak yang dimaksud Nyonyanya.


"Biar saya belikan.."tawar Wendi


"Kau mana tau selera saya ??!! Sudahlah, Ribet sekali !!" Amara buru-buru turun.


"Astaga.. Kenapa istri dan suami sama keras kepalanya.."Gerutu Wendi yang langsung turun menjaga Amara.


Senyum sumringah terlihat jelas diwajah Amara setelah mendapatkan apa yang ia inginkan. Hingga tiba diKantor Haikal, Amara terus menyusuri lorong menuju ruangan suaminya.


Langkah Kaki Amara terhenti setelah Memasuki ruangan Haikal.


"Selamat siang.."sapa Amara.


"sayang.. Kau kemari.."Haikal buru-buru berdiri dari duduknya, dan memeluk Amara.


"Kau pasti belum makan kan ?? Sibuk sekali bekerja terus.."Balas Amara. Yang kemudian duduk disofa panjang meletakkan kotak makan dan segera membukanya, jangan lupakan bungkusan rujak yang baru dibeli Amara yang juga bertengger diatas meja. Haikal mengekor dan duduk disisi Amara.


"Kau beli apa ??" tanya Haikal saat Melihat Amara membuka bungkusannya.


"Rujak.. Kau mau makan sekarang atau nanti ??" tanya Amara lagi.


"Sekarang boleh."Haikal segera membuka kotak bawaan makanan Amara. Ia menghirup aroma sedap masakan Amara.


Sementara Amara sudah menikmati Rujak dengan begitu senangnya.


"apa kau sudah makan ?? Kok makan rujak dulu ??" Tanya Haikal yang memulai makannya.


"Sudah tadi dirumah. Aaa...ini enak sekali Hubby, pas sekali dengan cuaca hari ini yang sangat panas..."Amara begitu bahagia.


Haikal hanya tersenyum turut bahagia. Ia kembali menikmati makannya.


"Beli dimana tadi ??" tanya Haikal


"Dipinggir jalan. dekat lampu merah tidak jauh dari kantormu."balas Amara dengan santai.


Haikal yang tengah menyuapkan makanan kemulut sendiri hampir saja tersedak. "Uhuk..uhukk..."


"Kau ini kenapa ?? Aku tidak minta makananmu !!?"tegur Amara.


"kau bilang beli dimana tadi ???" Haikal menatap dengan wajah terkejutnya.


"dipinggir jalan.. Memangnya kenapa sih ??" Amara keheranan pula.


"Baby.. Kau tidak apa-apa kan ?? Kau atau wendi yang turun beli ?? Lalu mobilnya ditepikan tidak sama Wendi ???"Haikal berubah menjadi kawatir sembari meneliti tubuh Amara.


Amara hanya membuang nafas dengan kasar. ternyata sikap posesive suaminya masih saja ada.


.


.


.