
Bab 108
.
.
.
Amara semakin dibuat tak karuan hatinya saat benar adanya, Haikal mengarahkan kaki menuju kamar.bahkan saat menaiki tangga Haikal tak merasakan kesulitan sama sekali.
"Haikal.. turunkan aku..." Ronta Amara
"Jangan bergerak berlebihan. Milikmu menyentuh dadaku, dan itu sangat mengganggu."Ucap Haikal.
Mata Amara sudah membulat bak bola ia seketika menutupi kedua gundukan dadanya dengan dua tangan.
Haikal membaringkan tubuh Amara diranjang besar miliknya. Dan baru kali ini Amara memasuki kamar pria itu. Kamar bernuansa serba hitam perpaduan dengan warna silver, aroma maskulin menjadi ciri khas jika kamar itu ditempati pria.
Haikal menatap lekat Mata Amara, Seolah merindukan wanita itu. Dada Amara bergemuruh tak menentu, Nafasnya bahkan tak beraturan sama sekali.
"Haik..- mmpppttt..." Baru saja Amara hendak membuka suara, Haikal sudah menyambar bibir Amara.
mengais bibir ranum itu dengan penuh kelembutan. Awalnya Amara begitu terkejut,namun lama kelamaan Amara tak melawan, ia memejamkan mata dan membalas ciuman Haikal.
Hingga beberapa saat Ciuman keduanya terpaut, hanya desis suara pertukaran slavina yang terdengar dikamar luas itu.
Pa ngu tan terlepas saat keduanya sudah kehabisan oksigen untuk bernafas. Dada Amara dan Haikal naik turun bersamaan bersamaan gejolak dihati masing-masing. Wajah Amara memerah karna malu, ia yang awalnya berontak nyatanya malah menikmati sentuhan Haikal.
"Jika saja aku tidak ingat dosa, Rasanya aku ingin memakanmu hari ini.."Ucap Haikal dengan nafas masih naik turun
"Kau fikir aku makanan yang seenaknya mau kau makan.."Balas Amara.
Haikal menyunggingkan senyum lalu kembali menempelkan bibirnya pada bibir Amara.
"Tidurlah..Temani aku tidur malam ini, aku janji aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku hanya takut kau pergi dariku lagi."Haikal beralih kesisi Amara dan memeluk wanita itu.
"Tapi nanti jika kau tidak sadar dan melakukan sesuatu bagaimana ??" Protes Amara
"Tidak akan. Dia sudah aku sekolahkan."balas Haikal yang mulai memejamkan mata.
"Dia ?? Dia siapa ??" amara menengadah dan hanya bisa melihat jakun Haikal yang naik turun.
"Kau mau tau ??" Haikal melirik Amara.
Amara memicingkan matanya.
"Haikal ?!!! Kau gila !!!" Belum sempat tangan itu memegang, Amara langsung protes.
"Lagian kau ini masa begitu saja tidak faham. Kaya remaja saja."ucap Haikal dengan santai dan kembali mendekap Tubuh Amara sebagai guling untuk tidur. Amara hanya mengerucutkan bibirnya. Ingin berontak pun ia tak akan bisa sebab Tubuhnya yang mungil sudah terkunci dalam dekapan Haikal.
"Aku rasa malam ini tidurku akan nyenyak."Ucap Haikal lirih.
"Aku yang tidak bisa tidur.."Timpal Amara.
"Terserah kau saja."balas Haikal yang kemudian mulai tertidur sungguhan. Nafasnya mulai beraturan menandakan pria itu sudah masuk kedunia mimpinya.
"Benarkah dia sudah tidur ?? Tapi kenapa dekapannya tidak bisa lepas.."Gumam Amara yang akhirnya pasrah, kemudian turut memejamkan mata saat rasa kantuk melanda.
.
.
.
Nindi tiba dirumah dengan diantar Jakson. Tak ada percakapan selama perjalanan kembalinya mereka.
Nindi seolah mulai membatasi diri dari atasannya itu. Hal itu malah membuat Jakson semakin merasa bersalah.
"Terima kasih tuan tumpangannya. Saya turun dulu."Nindi hendak turun namun Jakson segera mencegahnya.
"Nin tunggu sebentar.."
"Ada apa tuan ??" tanya Nindi
Jakson bingung mau mulai bicara dari mana.
"Tuan. Berhenti meminta maaf. anda berhak menyukai siapa saja dan begitu pun dengan saya. Yang menimpa saya kemarin mungkin hanya sebuah kebetulan saja. Jadi anda jangan minta maaf terus-terusan. Saya malah jadi tidak enak. Anda jangan kawatir, saya akan tetap profesional bekerja dengan anda. Saya akan mengesampingkan semua ini dalam bekerja."Terang Nindi dengan jelas dan bijak.
Jakson yang sudah kehabisan kata-kata langsung merengkuh tubuh Nindi dan memeluknya.
Nindi tak membalas, jujur saja ia sangat terkejut dengan perlakuan bosnya itu.
Tak ada kata yang keluar dari mulut dua anak manusia itu. Jakson hanya terus memeluk erat tubuh Nindi meski tetap tak dibalas oleh Nindi.
.
.
.