Secret Affair

Secret Affair
maafkan kami tuan



bab 71


.


.


.


Miranda mengerjapkan mata saat suara de sa han begitu bersahutan mengganggu pendengarannya.


Bahkan deru hetakan sebuah penyatuan juga bisa didengar oleh Miranda hingga dengan cepat Miranda bangkit dari tidurnya. "Sialan !! apa harus sekeras itu sih mendesahnya !!!" umpat Miranda dengan kesal. ia mengerjapkan matanya beberapa kali lalu mengusapnya hingga kembali suara suara itu terdengar


" Ahhh !!!"


" Oouucchhhh !!!"


"Come on baby !!!"


"Apa mereka tidak tau waktu ??!! pagi buta seperti ini sudah seperti itu !!!?" Miranda segera berdiri dan berkacak pinggang.


" Dasar orang tidak jelas !!! tidak sadar apa sudah mengganggu !!!" Miranda segera keluar dan hendak melabrak pemilik kamar disisinya.


dorr..dorr..dorr


Miranda menggedor pintu kamar itu beberapa kali, cukup kuat hingga pintu itu malah terbuka sendiri.


" sialan tu orang !! pintu saja sampai tidak dikunci !!!?" Umpat Miranda lagi. saat pintu terbuka Dengan jelas Miranda bisa melihat aktivitas yang sebenarnya dulu sering ia lakukan saat bersama Victor. Kedua anak manusia tengah bergumul tanpa malu dengan berbagai gaya, bahkan mereka berdua tak mengindahkan kedatangan Miranda yang berdiri didepan pintu.


" Hey !!! Kalau keenakan jangan teriak-teriak dong !!! mengganggu sekali !!!" tegur Miranda dengan tegas.


Pasangan itu terus melanjutkan aktivitas mereka dengan menatap Miranda seolah menggoda.miranda.


"Ohhh astaga !!! aku bisa gila jika disini !!!" Miranda membanting pintu kamar itu dan langsung menuju kamarnya. dengan kasar lagi Miranda menutup kamarnya.


"hah !!! huh..Tenang Miranda.. tenanglah.." Miranda mengatur nafasnya lalu menatap kesisi tasnya dimana ada plastik bungkus makanan.


"Victor.. kemana dia ??" Tanya Miranda pada dirinya sendiri.


.


.


Victor kembali menelan pil pahit ia harus ditolak diperusahaan kedua. dirinya yang mantan nara pidana membuat Perusahaan yang ia datangi selalu menolak.


Dibawah teriknya matahari, Victor menyusuri trotoar jalanan. hingga saat lampu merah menyala, Victor terlihat segera menyebrang.


Tak sengaja ada mobil Ani yang kebetulan sedang bersama sindy dan Nindi yang berhenti tepat didepan sendiri.


"Sin, Nin.. lihatlah. bukannya itu Victor ??!" Tunjuk Ani.


"wah.. bajingan sudah lepas toh!!" Ucap Nindi terlebih dulu.


"Apa kita harus mengabari amara ??!" tanya sindi.


"untuk apa.. amara sudah tenang dan bahagia dengan hidupnya sekarang. aku yakin Victor sedang bingung mencari kerja untuk menghidupi wanitanya." tutur Nindi.


" Kasihan sekali.. jika saja dia tidak menyakiti teman kita, mungkin aku sudah membantunya." Ucap Ani.


"Cih.. jangan sok begitu !! aku mau muntah jika membicarakan mereka. cepatlah lampu sudah menyala tuh !!" Tunjuk Sindy.


"Baiklah.."Ani kembali menyalakan mesin mobilnya melanjutkan perjalanan mereka.


.


.


" Mohon maaf tuan Victor. nama anda sudah dibacklist disemua stasiun tivi. akan sangat Merugikan dan beresiko jika saya menerima anda disini." Ucap meneger kantor tivi itu.


"saya kan hanya sebagai reporter tidak didepan layar. Kenapa harus seperti itu ??"balas Victor yang tidak terima.


"Kami juga tidak mau menanggung resiko apalagi jika pihak stasiun tivi dimana anda dulu dipecat mengetahuinya. Stasiun Tivi kami pasti akan terkena masalah. belum lagi Status anda yang maaf, seorang narapidana. maaf tuan Victor, saya tidak bisa menerima anda."Tutur Sang menenger.


Dengan mendegus kesal Victor menerima lampiran berkas lamarannya dan segera keluar tanpa bicara apapun.


Wajahnya lusuh dan begitu tak bersemangat. bahkan perut yang lapar sengaja ia tahan hanya karna rasa ingin mendapatkan pekerjaan. uang ditabungannya pun sudah menipis dan tidak memungkinkan.


Saat Victor tengah menunggu taksi lewat, tak sengaja Victor melihat gadis kecil yang menyebrang sembarangan, Dan terlihat ada sebuah mobil melajukencang. buru-buru victor berlari menolong anak kecil itu.


" Awas !!!" Teriak Victor seraya meraih tubuh anak kecil itu dan melompat kepinggir


" Aaahhh !!" Pekik anak kecil itu.


Tepat diatas tubuh Victor anak itu terjatuh.


terlihat anak itu memejamkan mata bahkan tubuhnya terasa bergetar. "Tenanglah nak.. kau tidak apa-apa." ucap Victor lirih . anak itu terlihat membuka matanya dan segera berdiri dari atas tubuh Victor.


" Terima kasih paman..sudah menolongku." anak kecil wanita itu menunduk berterima kasih.


Victor yang sudah berdiri menggangguk seraya tersenyum. terlihat ibu-ibu berlari mendekap anak kecil itu dan berterima kasih pada Victor lalu segera pergi dari sana.


Cukup lama Victor menatap punggung anak kecil wanita itu. sekelebat bayangan sang putri tiba-tiba muncul. "Gea.. Papi merindukanmu nak.." Gumam Victor lirih.


.


.


.