Secret Affair

Secret Affair
Pindah



bab 65


.


.


.


Tengah malam Amara masih terjaga dengan duduk bersandar ditaman belakang. Ia masih tak menyangka rumah tangganya akan hancur seperti ini. padahal selama ini Tidak ada pertengkaran ataupun perdebatan yang menjadi pemicunya.


Beberapa kali Amara mengusap wajahnya agar sadar untuk tidak menyesali semuanya.


hingga Teguran Bik Jiah membuyarkan lamunan Amara.


"Non. minum teh hangat dulu.. Nona sejak kemarin sering begadang terus. tidak baik buat kesehatan Nona." ucap Bik Jiah seraya meletakkan secangkir kopi dimeja yang berada disisi Amara duduk.


"Terima kasih bik. Sini duduklah bik.." Amara menggeser duduknya untuk Bik Jiah.


Bik Jiah patuh dan duduk disisi Amara.


"Ayo diminum dulu non."


Amara menggangguk dan segera mengambil cangkir berisi teh dan menyeruputnya Perlahan.


"Hangat bik.." Ucap Amara


Bik jiah tersenyum seraya menggangguk.


"Nona.. Nona harus menjaga kesehatan buat Nona kecil, Kasihan Nona kecil kalau nona sampai sakit."nasehat bik Jiah.


" Iya bik."Balas Amara lirih.


"Bik..apa keputusanku ini benar ?? Apa aku salah karna tidak memaafkan kesalahan Victor ini ??" Tanya Amara penuh harap pada Bik jiah.


Bik Jiah menggenggam jemari Amara dengan erat. "Nona tidak salah. Keputusan Nona juga sudah benar. untuk memaafkan, Nona tetap harus memaafkan tuan Victor, Karna biar bagaimana pun Tuan Victor itu ayahnya nona kecil."


Amara tertunduk dengan mendesah lirih. "Semua terjadi begitu cepat. sampai aku fikir ini semua hanya mimpi buruk."


" Nona yang sabar. pasti ada hikmah dibalik semua ini. Berfikir positif saja, Tuan Victor berarti bukan jodohnya Nona."


Amara menggangguk dan bergelayut dipundak bik Jiah.


"Bik. didaerah bibi tinggal bagaimana suasananya ??" Tanya Amara.


"Dijogja ya ?? Ya karna rumah bibi tidak dikotanya ya masih asri, masih pedesaan Non." Balas Bik Jiah.


" berarti sangat tenang ya bik ??"


" Ya begitulah. disana orangnya ramah-ramah, maklum lah, kan didesa."


"Bik.. kalau kita pindah kesana bagaimana ??"


Amara mensejajarkan diri lagi dan menatap bik jiah dengan mata sendunya.


" justru karna Gea bik, aku kasihan padanya. Ternyata disekolah dia dibully teman-temannya karna perbuatan Victor. Pasti Gea sangat tertekan bik, bahkan Gea tidak bercerita apapun padaku.."Amara begitu sedih.


" Benarkah ?? Nona kecil juga tidak cerita sama Bibi. cuma kemarin malam, Nona kecil sempat tanya apa itu selingkuh, dan juga mau minjem ponselnya Bibi, tapi Setelah bibi jelaskan Nona kecil menurut dan diam."


" Kasihan sekali anakku..."


" makanya bik aku berniat pindah dari kota ini. Setidaknya ditempat yang asing dimana tidak ada yang tau masa lalu kami. Aku takut psikis Gea akan terguncang." Tambah Amara lagi.


Bik Jiah menggangguk mengerti. "Lalu Pekerjaan Nona bagaimana ??"


" Aku sudah mengundurkan diri bik. Aku begitu malu bertemu tuan Jakson."ucap Amara sembari menatap kelangit.


"Jika itu menurut nona yang terbaik. Bibi akan mendukung Non."Balas Bik Jiah.


" Terima kasih bik.."


" Jadi kapan kita akan pindah Non ??"


" Besok. besok kita berangkat kejogja." balas Amara dengan cepat.


Bik Jiah melongo seketika. secepat itu ??


.


.


.


Disebuah brankar kecil Kini Miranda tengah tergeletak. Sejak pagi kondisinya belum juga pulih. ia masih lemah dan masih menangis sesekali.


Victor yang memang sudah ijin untuk menemani Miranda selalu setia disisi wanitanya itu dengan menggenggam jemari Miranda erat.


"Kita kalah Vic.. Kita kalah.." lagi dan lagi Miranda terus berucap demikian.


" Sudahlah Mir.. mungkin memang sudah takdir kita.. kau tenang saja aku akan selalu ada disisimu.." victor pun terus berusaha menenangkan.


"Kau bangkrut Vic.. uangku habis..Bagaimana kita menyewa pengacara untuk meringankan hukuman kita ??!!" Miranda begitu menyedihkan sekali.


"Aku akan memikirkannya.. aku juga masih memiliki sedikit uang. sekarang kau harus sehat dulu..waktuku menemanimu sudah terbatas sekarang," tutur Victor.


Miranda hanya mendesah kasar seraya memejamkan kedua matanya. Entah nasib macam apa yang kini ia dapatkan.


.


.


.