
Bab 88
.
.
.
Setelah mengantar Gea kesekolah, Amara juga menuju kekantor. Didalam mobil Amara mengalihkan kekesalannya dengan membuka ponselnya. Sejak semalam ia tidak memeriksa ponselnya sama sekali.
Beberapa pesan dari sindy mulai dibaca Amara. Hingga senyum lebar terkembang dari bibir Amara saat membaca pesan terakhir dari sindy dan juga Ani.
Dengan penuh semangat Amara melirik jarum jam dipergelangan tangannya.
"Seharusnya mereka sudah sampai."gumam Amara.
"Aku akan memjemput mereka. Mereka pasti terkenjut."Amara bicara sendiri.
Lalu saat sadar dia tidak sendiri segera senyum dibibir Amara luntur.
"Aku akan pergi ketempat lain dulu. jadi lebih kalian turunkan aku disini saja." Ucap Amara.
"Kenapa harus begitu Nona ?? kami akan antar anda."Balas mereka.
"aku mau menjemput temanku.. Mereka berempat."timpal Amara penuh frustasi.
" Tidak masalah Nona. Edo rekan saya ini akan mengambil mobil mobil lain dan menjemput teman anda."terangnya.
" hah..Ooww..aku seperti tahanan saja.." Gerutu Amara. Ia tak mau berdebat Amara memilih menurut saja.
.
.
.
Haikal baru tiba dikantornya. netranya menelisik mencari mobil anak buahnya namun tak ditemukan.
"Kemana wanita itu ??" Gumam Haikal seraya masuk.
Namun langkah Haikal harus terganggu karna Victor yang nampak buru-buru dan tidak melihat kehadiran Haikal dipintu masuk.
Bruukk..
Berkas ditangan Victor terjatuh berserakan.
"oh.. Astaga !!! Kau ini tidak punya mata ya !!!!?" Sentak Victor dengan suara lantang bersamaan dengan matanya yang menatap siapa orang yang menghalangi jalannya.
Haikal nampak menatap datar Victor yang amat terkejut.
"Em.. Ma..aaf tuan."victor memelankan suaranya.
"Saya yang minta maaf. Saya tidak fokus saat berjalan."Balas Haikal dengan santai.
"apa-apaan dia ?? selalu merendah begitu !!!" Batin Victor.
Teringat Amara, Victor langsung memutar kepala mencari dimana Amara berada.
"Kenapa mereka tidak datang bersama ?? Katanya suami istri ??" gumam Victor sendiri.
.
.
Tiba dilantai atas, Haikal tak lupa menghampiri ruangan Amara yang bersebrangan dengan ruangannya.
Namun nihil, Amara memang belum datang.
"Apa dia benar marah padaku sampai tidak mau kekantor ??" terka Haikal. Buru-buru Haikal merogoh saku jasnya guna bertanya pada anak buah yang ia tugaskan mengawal Amara.
.
.
Amara terlihat antusias menunggu kedatangan dua sahabatnya. Meski setiap tahun mereka pasti berkunjung namun rasa rindu begitu terlihat dari wajah amara.
Pemberitahuan pun terdengar ditelinga. Amara jika pesawat yang diyakini ditumpangi dua temannya sudah mendarat.
Amara berjalan santai menuju pintu keluar, ia yang terus diikuti dua pria berjas hitam menjadi sorotan banyak orang.
"Kalian bisa tidak jangan dekat-dekat !!!? Aku risih sekali !!!" protes Amara.
"Baik Nona. Maaf jika anda tidak nyaman."Balasnya.
Amara mendegus kesal lalu memutar tubuhnya bersamaan dengan Matanya yang melihat sindy bersama suaminya keluar terlebih dulu.
" Sindy !!!" panggil Amara yang segera berlari mendekat.
Tak lama Ani juga mengekor dibelakang sindy dengan menggandeng putri kecil sindy.
Sindy berlari kecil juga kearah Amara dan keduanya segera melepas rindu dengan berpelukan.
"Oww.. Princesku.. I miss you bestieku.."Ucap sindy.
"Amara..." ani turut memeluk Amara dan sindy hingga mereka lupa jika Nindi juga keluar bersama jakson.
Senyum jakson terbit seketika saat melihat Wanita yang ia cari-cari ternyata benar ada dikota itu.
Nindi begitu memperhatikan jakson hingga ia malah tak fokus pada Amara.
.
.
.