
Bab 132
.
.
.
Sementara Sindy dan Ani tengah menikmati liburan singkat mereka. Sebab esok mereka sudah harus kembali. Tujuan mereka adalah pusat perbelanjaan guna mencari oleh-oleh untuk orang rumah.
Gea dan Fia juga terlihat bahagia. Bahkan Gea sampai terlupa pada kedua orangtuanya. Dan jangan lupakan dua bodyguard Gea yang setia mengikuti mereka semua. Bahkan Danu, suami Sindy merasa senang karna memiliki rekan bicara
"Nindi dan Jakson pagi-pagi sudah pergi. kemana mereka ??" tanya Sindy.
"Aku dengar dari pengawal Gea, Kalau Miranda kecelakaan semalam, kurasa mereka menjenguk wanita ular itu."Balas Ani seraya melihat-lihat.
"Kerajinan sekali Nindi, Buat apa menjenguk wanita seperti dia.."Timpal Sindy.
"Jangan bicara seperti itu. Kata pengawal Gea Keadaan Miranda cukup parah loh,"Ucap Ani.
"Bibi.. Boleh Kan gea makan es cream itu !!?" tunjuk Gea pada sebuah gerai es cream.
"Tentu saja. Kita makan es cream sama-sama."Ani begitu antusias.
"An..aku tidak mau..." Protes Sindy.
"Mama.. Come on.."Fia menarik tangan sang mama. Hingga sindy tak bisa lagi menolak.
Danu menghentikan langkahnya. "Kalian mau tidak minum kopi denganku ??" tawar Danu pada dua pengawal Gea
"Maaf tuan. Kami harus menjaga Nona Kecil."balas mereka.
"Gea sudah bersama dua bibinya. aku jamin pasti aman."Timpal Danu.
"Maaf tuan. Tapi kami tidak berani membantah tugas Tuan besar."Keduanya menunduk dan melewati Danu mengejar Gea pergi.
.
.
Haikal dan Amara kini tengah berada didalam mobil. Sebenarnya Haikal sudah tau dimana posisi sang putri, karna ia terus diberi kabar oleh dua pengawal yang ia tugaskan menjaga Gea hingga dengan mudah Haikal mengarahkan mobil kesebuah pusat perbelanjaan.
"Loh.. Kok malah kemari ?? Kita kan mau mencari Gea dan teman-temanku ??" tanya Amara.
"Mereka disini sayang.."balas Haikal dengan mudah.
"Benarkah ?? Kau tau darimana ??"
"Gea itu putriku. Telepaty kami kuat sayang.."Haikal mengedipkan salah satu matanya menggoda Amara. Seketika Amara hanya menyunggingkan senyum seraya menatap kearah lain.
Saat hendak turun dari mobil, ponsel Haikal berdering membuatnya urung turun dan meloihat siapa yang memanggilnya.
...
"Iya. Beri dia kebebasan bekerja. Lagian alasan dia juga masuk akal."Balas Haikal yang kemudian langsung mematikan panggilan sepihak itu.
"siapa ??" tanya Amara penasara .
"Orang Apartemen." balas Haikal yang langsung turun dari mobil. Amara pun segera ikut turun.
"Ada masalah ??" tanya Amara sesaat setelah menggandeng lengan Haikal.
"Victor sekarang bekerja dihunian Apartemenku. Yang semalam kita tempati. dia minta ijin jika siang mau menjaga istrinya. Setelah makan siang dia akan kembali bekerja."Terang Haikal tanpa bohong.
"Istri ?? Maksudmu Miranda ??" Amara memastikan.
"Tentu saja. "Haikal mulai mengajak Amara memasuki Mall.
"Memangnya Miranda terluka parah ya ??"
"Aku juga tidak tau. Hanya saja, Victor meminta kebijakan seperti itu. Bolehkan aku memudahkan pekerjaannya ??" Tanya Haikal seraya menatap Amara.
"Tentu saja. Kau pria berhati malaikat suamiku.."Amara bergelayut dilengan Haikal.
Haikal hanya tersenyum dan menghadiahi kecupan dikening Amara. "Sore nanti, kau maukan menjenguk Miranda ??" tawar Haikal.
Seketika Amara menatap lekat Haikal.
"jika kau tidak mau, ya tidak apa-apa."Ucap Haikal yang langsung merengkuh pinggang Amara.
"Bukan tidak mau.. Aku hanya tidak ingin melihat wajahnya yang terlihat membenciku itu loh..Nanti dia fikir aku mau merayu Victor lagi.."Balas Amara.
"Asal kau tidak ada niat begitu seharusnya kau tidak perlu tersinggung baby.." Timpal Haikal.
"Kau mau bicara apa ?!!! Mau menuduhku !!!?" Amara nampak kesal.
"Tidak. Aku hanya memberitaumu, Jika kau tidak merasa begitu untuk apa juga tersinggung. Aku dengar Tuan Jakson dan Nindi sudah menjenguk mereka semalam."Tutur Haikal.
"Kau ini tau semuanya ya ??!! Matamu ada berapa sih ??!! Seharusnya kan kau bilang supaya kita bisa menjenguk wanita itu sama-sama..?!!" protes Amara.
"Kalau semalam pasti tidak bisa sayang.. semalam kan malam pengantin kita.. Rugi dong kalau terlewatkan.."Ucap Haikal tanpa malu.
"Owwq astaga.. Kau benar-benar pria mesum !!" Amara melepas pegangan tangan Haikal dan berjalan lebih dulu.
Haikal tak menanggapi. Ia hanya kembali tertawa lebar lalu kemudian menyusul langkah Amara.
.
.
.