Secret Affair

Secret Affair
Pencetak anak



Bab 135


.


.


.


.


Atas bujukan para temannya, Akhirnya Saat malam mulai datang, Victor mau diajak pulang. Meski wajah sedih dan tubuh tak bersemangatnya masih ingin disana, namun ia juga tak bisa egois dan mengabaikan segala perhatian teman-temannya.


Keheningan begitu terasa, Karna memang tak ada percakapan didalam mobil itu. Victor dibawa Haikal dan juga Amara. Keduanya membiarkan Victor untuk menenangkan diri.


"Vic.. Kita kembali kerumahku saja bagaimana ??" tawar Haikal.


Amara sontak membulatkan matanya seraya menatap Haikal. Dan hanya jawaban anggukan yang diberikan Haikal.


"Tidak usah. Aku mau kerumah bibi May saja. Dia pasti lebih bersedih dari pada aku."Balas Victor lirih.


"Kau yakin ??" Tanya Haikal lagi.


Victor menggangguk dan melihat kedepan dimana Haikal yang tengah menyetir. "Lagian jika dilihat tidak akan pantas. biar bagaimana pun aku mantan suami Istrimu, Aku yakin juga, amara tidak akan nyaman."


Amara hanya terus menatap kearah depan tanpa menanggapi.


"Baiklah.." balas Haikal dengan tenang.


Mobil melandas menuju tempat tujuan.


Hingga tak lama mereka tiba dirumah Bibi may.


Victorpun segera turun dari mobil. "Terima kasih tumpangannya. Terima kasih juga atas kebaikan hati kalian.."Victor menunduk.


"Berhenti berterima kasih. Kita teman sejak remaja."balas Haikal.


"Maaf kami tidak bisa mampir, Gea sudah menghubungiku barusan."Tambah Amara.


"Iya. Nanti aku akan mengunjungi Gea juga."Balas Victor yang langsung masuk kedalam tanpa menoleh lagi.


"Dia begitu kehilangan.."ucap Amara.


"Aku sekarang merasakan jadi pelakor.."Balas Amara tiba-tiba.


"Jangan sembarangan kalau bicara. Yang menyakitimu mereka. Lihatlah, Kebencian yang kau tanam dihatimu sudah dituai oleh Tuhan sekarang, Mereka mendapatkan apa yang disebut dengan karma. Jadi mulai sekarang, Berhenti membenci orang lain, karna kita juga hanya manusia biasa yang tidak luput dari rasa bersalah dan dosa besar."Nasehat Haikal seraya terus mengendarai mobil membelah keramaian jalanan.


Amara bergelayut dilengan Haikal. "Dari dulu sampai sekarang kau selalu bijak jika bicara..itu membuatku tenang.."


"Benarkah ?? Wah.. Aku sepertinya butuh Hadiah untuk semua ini.."canda Haikal.


"Uang dan hartamu sudah banyak. Apa kau masih butuh sesuatu lagi ??!" protes Amara


"Tapi anakku masih satu. Aku mau hadiah anak 5."Goda Haikal seraya melandaskan ciuman dikening Amara.


Seketika Amara mengangkat kepalanya yang bergelayut dilengan Haikal. "Kau fikir aku pabrik pencetakan anak apa ??!!"


"Ya mau bagaimana lagi sayang.. Jika bisa aku mau kok jadi pabriknya, tapi apa dayaku, Tuhan hanya memberiku pangkat sebagai penyetok bahan saja."balas Haikal


"Cih.. Bicaramu sudah melantur. Susah sekali bicara dengan otak mesum sepertimu.."Amara menatap kearah lain.


Tawa Haikal lepas seketika. Menjadi sebuah hiburan tersendiri jika menggoda dan bercanda dengan Amara.


.


.


.


Victor memasuki rumah Bibi May, Dengan jelas Victor bisa melihat bibi May yang terduduk lemas dengan perawat disisinya.


Victor seketika terduduk dikaki Bibi May. Bibi May tidak lantas menangis, ia malah tersenyum tipis seraya mengangkat wajah Victor yang bersimpul dikakinya.


"Jangan ditangisi. Ini karma dari Tuhan atas dosa yang dilakukan Miranda selama ini.. Kau begitu setia padanya, Tapi dia kembali menghianati pria baik yang selalu disisinya.. Tata masa depanmu Nak, Kau berhak bahagia, Jadilah orang baik dan jangan sekali-kali menjadi seorang perusak rumah tangga orang. Karna itu adalah sebuah dosa yang harus kau pertanggung jawabkan.."Nasehat bibi May. Meski dengan senyum air mata bibi may meluncur bebas dikedua pipinya.


Victor hanya membalas dengan memeluk wanita renta itu. Keduanya menangis haru bersama.


.


.


.