
bab 49
.
.
.
Amara mengusap sisa air matanya dikedua pipi dengan tisu. ia sudah lebih baik setelah mengeluarkan semua sesak didalam hatinya.
" Minumlah Am.. kau akan jauh lebih rileks jika minum.." pinta Sindy mengingatkan
Amara menggangguk. ia segera meneguk air putih yang selalu tersedia diatas mejanya.
ia mengatur nafas menarik dan mengeluarkan perlahan.
" Sorry ya.. kalian jadi melihat aku seperti ini.." Ucap Amara berusah tersenyum lagi.
" Jadi sebenarnya ada apa ?? kau dan Victor kenapa ?? bukannya kemarin hari Aniversary kalian ??" Tanya Ani yang sudah tidak sabar.
" Kau sudah tau Victor berselingkuh Am ??" terka Nindi.
Sindy dan Ani pun langsung menatap Nindi. "kau tau dari mana ??!!" Tegur Ani.
Nindi tak menggubris pertanyaan Ani. ia fokus menunggu jawaban Amara.
Amara menggangguk pelan dengan memejamkan kedua matanya.
" Oh.. shutt !!!" Umpat Ani
" Ternyata selama ini dugaanmu benar Nin..Victor sudah menjalin hubungan dengan wanita lain.."Ucap Amara dengan suara yang bergetar.
" Apa kau memergoki dia dengan wanita lain itu Am ??!! lalu siapa wanita itu ??!! kenapa tidak kau hajar saja dia ?!!!" cerocos Sindy
Amara langsung diam. ia memang hanya melihat rekaman saja. Seketika Amara teringat ucapan Jakson yang mengatakan jika Victor serta Miranda tengah cek in dihotel.
"Iya.. aku harus melihatnya secara langsung !!" Batin Amara
yang kemudian langsung pergi meninggalkan ponselnya yang masih menyala.
" Am !! kau mau kemana ?!!! Am..!!" Panggil Sindy dan Ani bergantian.
Sementara Amara buru-buru menaiki lift seraya menenteng tas. ia harus segera tiba dihotel itu.
" Semoga aku tidak terlambat." gumam Amara dengan tekad yang sudah bulat.
.
.
" Vic.. Come on Faster Vic.. ohhh..." Rintih Miranda yang sudah berkubang dengan Na f su menyesatkan.
" Yess baby.. persiapkan dirimu.."Balas Victor yang kemudian mempercepat ritme hentakan kala menggagahi Miranda.
Jakson memarkirkan mobil didepan hotel TY yang dimana diyakini Victor dan Miranda berada disana.
Anak buah yang ditugaskan menjaga disana menyambut kedatangan Jakson.
Mereka juga sudah mendapat akses masuk dengan mudah. karna hotel itu termasuk properti Pengusaha yang bekerja sama dengan Jakson.
Dengan langkah lebarnya, Jakson menyusuri lorong mengikuti jejak Anak buahnya.
Tangannya bahkan semakin terkepal apalagi saat yang dituju adalah kamar switt presidensial. Jujur, Dada Jakson begitu sakit sekali, Tapi Jakson sangat ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri, meski akhirnya nanti luka didalam hati akan semakin menganga, entah apa nanti yang akan terjadi.
Anak buah Jakson berhenti didepan kamar yang mereka tuju.
" Kalian yakin mereka disini ??" Tanya Jakson dengan serius.
" Yakin tuan." Balas anak buah Jakson.
" Kami sudah mendapat kunci kamar ini.. kita bisa membukanya."Tambah anak buah Jakson.
Jakson menggangguk pelan. " biarkan saya yang membukanya."
" Tuan yakin ??"
" Kau fikir saya pernah bercanda !!!" Jakson nampak kesal.
semua tertunduk dan menyerahkan card guna membuka pintu kamar itu.
Jakson memejamkan mata sejenak dan langsung menempelkan card itu disisi pintu. tanda pun berbunyi pintu sudah terbuka. Jakson segera membuka perlahan pintu kamar itu.
Terlihat begitu temaram. Jakson masuk lagi dan lagi mencari dimana Letak ranjang. meski belum melihat ranjangnya, namun telinga Jakson sudah mendengar ******* dari suara yang begitu ia kenal. Jakson memejam kan mata seraya meraba Sakelar lampu guna menyalakannya.
Klik...
Lampu pun menyala seketika, Hingga yang beraktivitas diranjang langsung terkejut.
Miranda dan Victor pun saling tatap. dan keduanya bersamaan melihat kearah sakelar lampu dimana Jakson berdiri tegak dengan mata berembun dengan tangan yang terkepal kuat.
.
.